a quiet corner for thoughts, dreams, and little pieces of me.
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Three Things I Wish I Knew Earlier
| Pic cr. to SZA |
Pertama, let it go. Dulu, gue adalah tipikal orang yang overthinking. Semua kesalahan yang gue lakukan selalu bikin gue down dan terpuruk. Gue sering kali menyalahkan diri sendiri dan kesulitan cari cara untuk bangkit dari kegagalan yang gue alami. Nggak jarang gue mengurung diri, membiarkan diri gue tenggelam dan terlarut pada kesalahan yang sebenarnya kalau diingat kembali sekarang juga bukan sesuatu yang "heboh". Mental remaja gue saat itu menganggap bahwa gagal adalah tanda bahwa gue kurang berusaha. Tanpa sadar, gue membangun mentalitas yang membuat gue justru menekan diri gue sendiri. Gue belajar mati-matian, pagi, siang, sore, dan malam, bahkan sampai begadang, hanya karena gue menganggap bahwa usaha yang besar akan membuat gue berhasil. But reality really hits me in the corner, karena usaha yang gue anggap "besar" nggak melulu menghasilkan sesuatu yang juga besar, bisa jadi usaha itu justru mengantarkan kita ke gerbang lain yang lebih baik.
Dari proses itu gue belajar untuk mudah melepaskan. Kegagalan nggak harus selalu ditelan sampai nggak menyisakan apa pun dari diri sendiri. Gagal bukan berarti gue kurang berusaha. Gagal cuma jadi salah satu fase di mana gue diingatkan bahwa akan ada pintu lain yang terbuka untuk gue. Gue cuma sedang disiapkan, dan gue perlahan mulai belajar untuk melepaskan. Just let it go. Never ruin your good day just because you have a bad day yesterday.
Kedua, ignore them. Really, guys, just ignore them. Jangan dengerin semua orang. Hidup udah seberisik ini, akan lebih baik kalau kita bisa pakai energi untuk lakuin hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik. Again, kita memang nggak pernah bisa milih omongan siapa yang akan kita temui setiap hari, tapi kita bisa milih omongan siapa yang mau benar-benar kita dengar. Trust me, nggak banyak orang yang benar-benar peduli sama kita. Ibarat sebuah cerita, setiap orang adalah tokoh utama dalam kisahnya masing-masing. Dan setiap orang berhak memilih ingin jadi tokoh utama seperti apa dalam cerita mereka. Dari sini gue belajar, bahwa yang punya kendali atas hidup kita adalah diri kita sendiri. Mau sampai kapan kita hidup di atas kendali orang lain? Mau sampai kapan kita membiarkan orang lain pegang kemudi atas hidup kita? Dan mau sampai sejauh mana lagi kita kehilangan diri sendiri?
Proses ini mengajarkan gue untuk abai terhadap perkataan yang nggak membawa pengaruh apa pun dalam hidup gue. Again, kita selalu punya pilihan untuk nggak mendengarkan sesuatu yang cuma bikin kita merasa kecil. Just remember, orang yang betul-betul peduli dengan kita nggak akan pernah membuat kita merasa kecil dan nggak berdaya. Mereka akan bantu kita untuk terus bertumbuh jadi orang yang lebih baik.
Ketiga, don't compare. Sebelum menyadari ini, gue selalu hidup dengan membandingkan diri dengan orang lain. Hampir setiap hari gue terus membandingkan diri dengan orang yang hidupnya terlihat "lebih baik" dari gue. Di saat nilai gue jelek, gue melihat orang yang nilainya lebih bagus dari gue, lalu gue mulai membandingkan kekurangan gue dengannya sehingga gue nggak bisa dapat nilai yang sama bagusnya dengan dia. Atau ketika gue melihat orang lain yang dengan mudahnya mendapatkan kehidupan yang mereka mau di saat gue merasa hidup gue nggak ada improve apa-apa. Perlahan, diri gue tenggelam dalam perbandingan yang nggak ada habisnya. Hidup gue nggak tenang, rasanya kayak dikejar oleh sesuatu yang gue sendiri nggak tau itu apa. Tidur gue nggak nyenyak, perasaan gue nggak nyaman, dan gue mulai melupakan value yang selama ini gue pegang.
Dari sini gue mulai mencari tau pattern apa yang seharusnya gue perbaiki. Dan perjalanan ini menyadarkan gue, bahwa satu-satunya hal yang bisa gue lakukan adalah membandingkan diri gue di hari kemarin dengan diri gue di hari ini. Comparing diri sendiri dengan orang lain nggak pernah bawa konklusi apa pun dalam hidup gue. Bukannya merasa lebih baik, gue justru merasa makin nggak worth it jadi manusia. Gue mulai melihat hidup dengan persepsi baru. Gue mulai menerima bahwa setiap orang punya perjalanannya masing-masing. Yang perlu gue lakukan cuma terus berjalan di jalur milik gue sendiri. Gue mulai belajar menerima diri sendiri sebagai sebaik-baiknya manusia yang terus bertahan di atas kedua kakinya sendiri. Menjadi manusia yang terus berusaha jadi lebih baik dari hari kemarin. Pelan-pelan, gue pasti akan sampai di versi terbaik dari diri sendiri.
Hidup ini memang nggak pernah mudah. Menjadi manusia juga bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam. Selama kita masih diberi napas hingga hari ini, itu artinya kita lagi dikasih kesempatan untuk terus belajar jadi lebih baik.
Semua orang lagi berjuang dengan hidupnya masing-masing. So, be kind, always.
Postingan Populer
Maybe This Is What Living Feels Like
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
(ENG) Redefining Happiness: Finding Peace Beyond Validation
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar