a quiet corner for thoughts, dreams, and little pieces of me.
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Living with Hyperthyroidism
Hi, everyone!
Balik lagi nih (alhamdulillah), untuk kembali bercerita tentang salah satu hal yang belum sempat atau lebih tepatnya belum pernah aku bagi di sini. Mungkin beberapa dari kalian ada yang questioning kenapa ada spare waktu panjang di blog ini saat aku hampir nggak menulis sama sekali. Tepatnya tahun 2022, ketika aku bahkan cuma sempat menulis 3 judul di sepanjang tahun itu.
Dan yang ingin aku bagi hari ini adalah salah satu alasan yang membuat platform ini hampir mati kala itu.
Jujur... bingung mau memulainya dari mana.
Tahun 2022 menjadi semacam turning point dan momen di mana pada akhirnya tubuhku bisa berteriak, meronta, meminta tolong, dan berkata bahwa sudah cukup bagiku melakukan banyak hal untuk orang lain. Saat itu, seolah tubuhku memberikan sinyal kalau sudah saatnya aku mulai mengingat diri sendiri. Wah, rasanya saat menulis ini aku seperti kembali ke masa-masa itu. Mungkin itu juga yang membuatku butuh waktu cukup lama untuk pada akhirnya bisa berbagi tentang hal ini, karena sejujurnya momen itu adalah titik terendah yang nggak ingin aku ingat lagi. Tapi rasanya 3 tahun udah jadi waktu yang cukup buatku bisa memuntahkan semuanya di sini.
Dulu, aku menganggap bahwa menjadi baik untuk orang lain akan cukup membuat hidupku bahagia setiap hari.
Nggak pernah nolak ketika orang lain minta bantuan.
Nggak pernah bilang enggak saat orang lain minta tolong.
Nggak pernah nggak menyisihkan waktu untuk orang lain di tengah kesibukan diri sendiri.
Mendelegasikan diri sebelum orang lain menanyakan pendapatku.
Selalu bilang nggak apa-apa dan menekan emosi diri sendiri seolah apa yang aku rasain itu nggak valid.
Selalu merasa beban orang lain lebih berat sampai-sampai menyepelekan perasaan diri sendiri yang juga butuh untuk diterima.
Selalu mengusahakan kebahagiaan orang lain sampai lupa aku inginnya apa.
Kelihatannya memang luar biasa. Kehadiranku seolah ingin jadi pahlawan yang membuat semua orang merasa tenang dan nggak perlu mengkhawatirkan apa pun.
Tapi tanpa sadar, setiap hari aku cuma sibuk menumpuk emosi yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Saat itu yang aku ingat tiba-tiba aku sering sakit. Seminggu sakit, seminggu sembuh, seminggu sakit, seminggu sembuh. Terus begitu. Dan itu jadi fase berulang yang nggak ada habisnya. Awalnya hanya sakit demam dan flu yang aku anggap sebagai sinyal bahwa aku mulai stres dengan keseharianku di perkuliahan. Wajar, pikirku saat itu. Toh akan sembuh dengan sendirinya tanpa perlu aku repot-repot berobat ke dokter. Sejak dulu sistem imunku memang agak rentan, merasa capek sedikit kadang respon tubuhnya lebay, alias bisa tiba-tiba ambruk.
Lagi-lagi aku menganggap itu sebagai hal yang biasa.
Aku masih tetap menjadi Hazara yang selalu ada untuk orang lain.
Tanpa menyadari kalau tubuhku semakin melemah setiap harinya. Aku bahkan nggak sadar kalau sakit yang aku anggap "remeh" saat itu adalah bentuk tubuhku memberikan sinyal kecil bahwa aku sudah lelah. Aku bahkan juga nggak sadar saat detak jantungku selalu bekerja berkali-kali lipat lebih kencang dari biasanya ketika aku sedang berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Aku pun juga nggak menyadari kalau tanganku yang sering tremor dan berkeringat juga merupakan bentuk sinyal lain yang tubuhku berikan sebagai alarm bahaya.
Berat badan yang terus turun aku anggap sebagai keberhasilanku dalam "diet" karena saat itu aku memang cukup concern soal berat badan, sehingga ketika angka di timbangan terus turun aku menganggap itu sebagai suatu anugerah, tanpa sadar kalau itu juga salah satu sinyal yang seharusnya membuatku mulai menyadari kalau ada yang salah dengan diriku.
Semakin kurus semakin bagus, batinku saat itu.
Hingga tiba saat di mana aku harus tinggal jauh dari keluarga dan ketika tubuhku makin memberontak nggak karuan.
Yang aku ingat saat hari pertama magang, aku sudah harus ikut tim untuk turun ke lapangan dan aku makin sadar kalau ada yang salah dengan tubuhku.
Ke mana perginya Hazara yang selalu kuat lari sampai jarak ratusan meter itu?
Ke mana perginya Hazara yang selalu lincah berjalan ke sana kemari itu?
Ke mana perginya Hazara yang selalu kuat begadang semalaman tanpa limbung di pagi harinya?
Seolah-olah aku nggak mengenal diriku sendiri.
Menaiki tower radar yang tingginya puluhan meter harusnya nggak membuatku hampir pingsan saat baru naik beberapa tangga. Namun saat itu aku benar-benar hampir menyerah saat baru sampai pertengahan tower di tengah panasnya lingkungan bandara Juanda.
Aneh.
Dan aku masih menganggap itu sebagai angin lalu.
Long story short, di tengah sinyal-sinyal yang dikirim oleh tubuhku, aku masih tetap menjadi people pleaser yang berusaha ada untuk orang lain. Padahal kalau dibayangkan, mungkin saat itu seluruh organ dalam tubuhku sedang berkelahi habis-habisan untuk mencari cara agar aku mulai peduli pada diri sendiri. Bodoh memang, aku akui. Hazara yang hidup di momen itu adalah sosok yang benar-benar egois pada dirinya sendiri. Aku bahkan nggak ingat apakah Hazara yang hidup di momen itu pernah berani untuk menolak permintaan orang lain.
Rasanya aku nggak punya ingatan itu.
Karena yang aku ingat, aku selalu mengiyakan semua hal yang orang lain minta padaku, sekali pun aku lagi nggak baik-baik aja.
Momen yang paling aku ingat adalah ketika aku bahkan bisa menghiraukan rasa sakit dalam tubuhku dan rela mengiyakan permintaan orang sekali pun aku hampir pingsan di tengah jalan. Ini bukan hiperbolis, tapi aku betul-betul hampir pingsan di jalan saat itu. Saking kerasnya suara detak jantungku waktu itu sampai-sampai rasanya bisa meledak kapan pun. Aku duduk di pinggir jalan dekat pintu keluar terminal dengan telfon yang terus berdering dari abang gojek karena aku yang nggak kunjung muncul di hadapannya.
Agak drama memang kalau dibayangkan.
Tapi kondisiku saat itu memang mirip seperti adegan yang ada di drama TV, serius.
Lucunya, di tengah gentingnya kondisiku saat itu, masih sempat-sempatnya aku menganggap bahwa aku hanya sedang homesick karena jauh dari keluarga. Padahal alarm bahaya itu sudah hampir rusak karena setiap hari bunyinya nggak pernah aku hiraukan.
Hingga pada akhirnya aku mulai menyerah.
Karena aku betul-betul mulai lelah.
Dan sepertinya udah terlalu lama aku berlagak seolah aku baik-baik saja disaat kenyataannya aku jauh dari kata baik-baik saja.
Ya.. aku memang nggak baik-baik aja.
Dokter memvonisku terkena salah satu penyakit autoimun yaitu penyakit graves atau yang akrab di telinga kita dengan hipertiroid.
| Definisi Penyakit Graves |
Mungkin... bingung?
Mungkin... bertanya-tanya?
Mungkin juga... lega?
Nggak tau.
Yang jelas saat itu ummi langsung mengajakku beli jajanan dan kami duduk berdua di sepanjang kursi yang ada di pinggiran Jalan Ijen sembari melihat lalu lalang kendaraan yang lewat.
Kita berlagak seolah semua akan baik-baik aja, meskipun kenyataannya memang begitu, tetapi saat itu aku bahkan nggak mencoba untuk menerima perasaan yang ada dalam diriku.
Padahal aku boleh menangis.
Aku boleh marah.
Aku boleh kecewa.
Aku boleh nggak merasa tenang untuk sesaat.
Aku boleh bersedih.
But I choose not to.
Karena lagi-lagi, aku mencoba terlihat baik-baik saja.
Karena lagi-lagi, aku merasa semua orang punya beban yang sama beratnya di pundaknya.
Aku menelan semua emosi itu di dalam hatiku, seorang diri.
Mungkin ketika orang tua atau keluargaku membaca ini mereka akan menyalahkan diri sendiri yang nggak cukup ada untukku saat itu, tapi percayalah, mereka adalah karunia terbaik yang Allah berikan untukku hingga hari ini. Abi dan ummi nggak pernah berhenti meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik aja, meyakinkanku kalau aku pasti sembuh, dan aku pasti bisa kembali "normal" seperti dulu. Kakak yang juga nggak pernah berhenti melempar canda guraunya untuk membuatku lupa tentang banyak hal yang menjemukan batin. Dan adik, dengan berbagai macam tingkah lakunya yang berhasil membuat tenagaku pulih kembali.
Tetapi mungkin memang ada bagian dalam diriku yang belum pernah aku ungkap pada siapa pun hingga hari ini.
Dan mungkin bagian ini adalah salah satunya.
That's it.
Inilah secuil cerita dan alasan yang membuatku pernah menghilang sejenak saat itu.
Sampai hari ini aku masih mencoba untuk pulih. Tiga tahun melalui proses yang nggak mudah membuat aku banyak belajar tentang diri sendiri. Rasanya kayak bayi yang baru lahir ke dunia, karena hidupku seperti di reset kembali. Sekarang, aku mulai lebih peduli dengan diri sendiri. Aku mulai mendengar isi hatiku sendiri dan mendengar apa yang menjadi inginku.
Kabar baiknya, aku mulai bisa menolak permintaan orang lain. Bukan karena aku egois, tapi karena aku nggak ingin kehilangan diri sendiri untuk kesekian kali lagi.
Untuk siapa pun yang sering menekan emosinya sendiri, coba sesekali keluarkan.
Karena kita cuma manusia, kita bisa kecewa, kita bisa marah, dan kita bisa bersedih.
Ralat sedikit, bukan bisa, tapi boleh.
Kita boleh kecewa.
Boleh marah.
Boleh bersedih.
Dan boleh sesekali menangis.
Karena kita cuma manusia.
Alright, segitu dulu cerita pendek kali ini, well, karena panjangnya beneran cukup menjadi satu cerita pendek, semoga siapa pun yang bersedia baca hingga akhir bisa mengambil sedikit pesan dari cerita ini. Ingat, emosi yang ada dalam hati kita itu hadir bukan untuk ditekan, tapi untuk diterima. Terima perasaan itu sebagai bagian dari bukti kalau kita betul-betul hidup, bukan hanya sekadar hadir di dunia ini.
Tetap semangat menjalani hari, karena masih banyak tempat-tempat bagus yang harus kita datangi, masih banyak makanan enak yang harus kita cicipi, dan masih banyak orang-orang terkasih yang harus kita sambangi.
Cheers to youth!
With love,
Haza.
Postingan Populer
Maybe This Is What Living Feels Like
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
(ENG) Redefining Happiness: Finding Peace Beyond Validation
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar