a quiet corner for thoughts, dreams, and little pieces of me.
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
kamu akan tetap hidup.
![]() |
| pic cr. to pinterest |
Hi, fellas!
Balik lagi di edisi Haza slash Rajin Nge-blog Era hahaha ngerasa cukup amazed terhadap diri gue sendiri since tahun 2022 kemarin beneran jadi tahun paling males cerita-cerita, mungkin salah satu faktornya karena gue bertemu banyak sekali orang sehingga ketika selesai beraktivitas diluar nyampe-nyampe tenaga gue udah abis duluan, kinda.
Di tulisan kali ini aku nggak tau akan menyebutnya sebagai apa, mungkin ini bentuk refleksi diri terhadap apa yang aku rasakan beberapa minggu belakangan ini, atau bahkan aku udah merasakan ini setahun belakang tapi baru kerasa aja kalau ternyata rasanya seberat itu tapi aku belum menemukan kalimat yang pas untuk describe in the right words so yes it is.
Kadang nih, ketika ditanya tentang akan jadi apa aku 5 tahun kedepan aku bisa dengan mudah kasih jawaban paling klasik dan apapun yang terlintas dikepala saat itu akan aku utarakan dengan mudahnya, seakan-akan itu memang yang aku inginkan, seakan itu memang yang aku mau, seakan dengan segala impian dan tujuan aku memang adalah untuk itu, tanpa aku memikirkan bagaimana proses aku menuju kesana. Memang benar, berangan-angan dan membayangkan bagaimana kita akan menjadi sosok hebat seperti apa yang kita bayangkan itu menyenangkan, lebih seru daripada harus duduk berjam-jam didepan laptop mengerjakan skripsi, lebih seru daripada overthinking sebelum tidur, lebih seru daripada merasakan pikiran kosong karena merasa menjadi manusia yang tidak berguna, intinya, berangan-angan adalah pekerjaaan paling mudah dan mengasyikkan yang ada di dunia! Don't debate me!
But then, reality just came dengan membawa sejuta kejujuran tentang bagaimana dunia dan makhluk sosial itu bekerja. Bukan lagi persoalan seberapa susah menjadi dewasa, bukan lagi persoalan betapa susahnya usia 21 tahun untuk dilalui, betapa susahnya melalui quarter life crisis, betapa susahnya hidup dengan disuguhkan sejuta pilihan baru dihari esok yang kalau boleh jujur aku cukup membenci bangun tidur harus dihadapkan dengan pilihan paling setidak masuk akal apakah aku akan produktif hari ini atau aku bisa tidur seharian karena merasakan bahwa mentalku sedang tidak baik-baik saja, kenapa sih, kenapa kita bahkan diminta untuk memilih persoalan seperti mau makan apa hari ini, mau mandi atau tidak, mau ke kampus jam berapa, mau pulang jam berapa, hari ini hujan atau tidak ya. Kadang aku cuma ingin bangun dari tidur tanpa harus memilih dan memikirkan akan jadi apa aku hari ini, akan bagaimana hariku berjalan, akan bagaimana aku merencanakan hari ini agar versi diriku di hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin, karena aku cuma ingin hidup.
Aku cuma ingin hidup.
Menjadi jawaban paling masuk akal untukku beberapa waktu belakangan, aku tidak lagi memiliki tujuan yang jelas selain aku hanya ingin lulus menjadi Sarjana Teknik dan keluar dari kampus untuk melanjutkan hidupku di fase selanjutnya. Aku yang dulunya selalu penuh dengan visi dan misi setiap tahun baru, sekarang menjadi aku dengan segudang doa dan puisi untuk diriku sendiri bertahan agar tetap hidup setiap hari. Karena terkadang hidup dengan berjuta rencana itu melelahkan, lelah karena ketika kita nggak bisa memenuhi satu rencana itu maka bentuk menyalahkan diri sendiri adalah langkah paling mudah yang kemudian kita pilih, lelah karena ketika tujuan kita belum bisa sejalan dengan ekspektasi orang lain maka bentuk masuk akal dari pembelaan diri adalah mendorong diri sendiri untuk bekerja keras walaupun berakhir menjadi manusia yang mati, dan kelelahan lainnya ketika harapan tinggi itu telah dicapai ternyata itu bukan visi misi milik kita, tapi milik orang lain. Hingga ketika sampai di tahun baru yang selanjutnya kita jadi hilang arah, hilang diri, karena sudah tidak menemukan diri sendiri.
Aku cuma ingin hidup.
Melihat matahari terbit dan terbenam dengan rasa syukur yang tidak terkira-kira bentuknya karena dengan hidup setidaknya masih ada harapan baru yang bisa digenggam di hari esok. Jangan hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, yang sedikit itu cukup. Nggak tau aku pernah mendengar kalimat itu dimana, tapi aku sudah akrab dengannya sejak aku masih berjuang untuk SBMPTN beberapa tahun yang lalu. Ekspresi diri ketika sedang lelah-lelahnya belajar, aku selalu menurunkan ekspektasi diri sendiri karena ternyata memenuhi ekspektasi orang lain itu melelahkan, merasakan banyak kalimat yang memenuhi otak, bagaimana ya kalau aku nggak bisa jadi dokter, bagaimana ya soal pembicaraanku kemarin dengan si ini si itu si anu, bagaimana ya kalau ternyata impianku ini terlalu tinggi, bagaimana ya kalau ternyata apa yang aku perjuangkan ini sia-sia.... ternyata memang dari dulu aku sudah ahli dalam hal overthinking.
Sampai pada akhirnya aku benar-benar gagal meraih impianku saat itu.
Gapapa, kamu bisa punya mimpi yang baru.
Tapi ketika aku merancang mimpi yang baru ternyata aku tidak hidup disana, aku hanya berpura-pura menghidupkan diri sendiri karena kalau-kalau aku tidak bisa bertahan aku masih bisa waras dengan mengingat aku harus punya mimpi baru seperti yang orang bilang.
Lalu kalau kamu bertanya, apa yang aku lakukan selama ini? Aku hidup, aku masih hidup sampai sekarang dengan impian baru yang kata mereka harus aku rancang.
Aku hidup, aku masih hidup.
Jadi, untuk kamu yang saat ini sedang merasa tidak hidup, kamu salah... kamu hidup tapi dengan versi yang tidak ada dalam bayangan kamu selama ini. Mungkin kamu dengan kehidupan kamu yang sekarang adalah rancangan Allah dari rajut doa orang tuamu, mungkin kamu dengan kehidupan kamu yang sekarang adalah versi terbaik yang Allah gariskan untuk kamu, karena kalimat yang menjadi favorit aku sampai sekarang adalah, "Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."
You're just doing fine, terima kasih karena kamu sudah melangkah sejauh ini, terima kasih karena kamu sudah ada di dunia ini, terima kasih karena kamu sudah bersedia bangun hari ini walaupun tanpa rencana apapun tapi terima kasih... karena kamu masih bersedia melihat indahnya matahari, suara burung berkicau, racau tidak jelas rekan kerjamu atau teman-teman menyebalkanmu, terima kasih karena kamu masih mau memakan sesuap nasi ketika diluar sana masih banyak perut-perut yang tidak terisi seharian karena mereka harus lebih berjuang untuk itu, terima kasih karena memilih untuk hidup disaat sebenarnya tidak lagi ada tujuan yang ingin digapai, karena tujuan kamu saat ini hanya ingin hidup.
Tidak perlu tergesa-tergesa, tidak ada yang memburu kamu, tidak ada yang mengejar kamu, tidak ada yang memaksa kamu. Jika lelah, letakkan dulu, menepilah sebentar, karena masih banyak hari bahagia yang tidak akan melewatkanmu, masih banyak binar cahaya yang akan menyinarimu, masih banyak pijak langkah yang bisa menemanimu, hari itu akan datang. Hari dimana aku cuma ingin hidup pasti akan datang. Take your steps, little by little, satu hari kamu tidak ingin melangkahpun tidak apa-apa, kamu sedang tidak berlomba dengan siapapun.
Semua baik-baik saja.
Kamu akan tetap hidup.
Postingan Populer
Maybe This Is What Living Feels Like
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
(ENG) Redefining Happiness: Finding Peace Beyond Validation
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar