(Letter of Agreement by QUEDILEGO)
Jadi, gue ingin sedikit menceritakan tentang tokoh dalam cerita yang gue tulis saat ini. Terhitung udah sekitar 3 tahunan ini gue membuat tokoh yang macem-macem banget, gado-gado banget, banyak, sampai kadang gue ngerasa dia bener-bener ada di depan gue sewaktu sibuk menceritakan tentang mereka. Yaaa walaupun tokoh gue nggak mendapatkan recognition yang sama dengan tokoh yang dibuat orang lain, tapi kalo nggak ada mereka ya gue nggak akan ada disini.
Cerita yang baru-baru ini gue tulis berjudul, "Letter of Agreement", cerita yang nggak jauh-jauh dari hubungan anak-orang tua, hubungan temen cowok cewek yang nggak jelas apa sebutannya, hubungan senior dan junior, intinya cerita yang gue tulis selalu nggak jauh-jauh dari topik itu. Satu hal yang membuat cerita ini mungkin terlihat berbeda dari cerita gue sebelumnya adalah dalam hal mature nya ya, gue sendiri merasa tokoh-tokoh gue ini sangat dewasa, lebih dewasa dari Gazlan, Ghibran, Azura, atau bahkan Akina. Mereka lebih berani dalam bertindak karena pengalaman mereka yang lebih banyak dibandingkan teman-teman gue sebelumnya. Kenapa gue mengalamatkan tokoh gue sebagai teman? Ya karena secara nggak langsung mereka yang benar-benar menemani gue kapanpun gue butuh. Gue sedih, gue nulis. Gue seneng, gue nulis. Jadi akan selalu ada nama-nama mereka dalam setiap kisah gue.
Gue memakai visualisasinya pun nggak sekedar gue pinjem wajah mereka, tapi juga dari apa yang udah mereka jalani selama ini.
Tokoh pertama yang ingin gue kenalkan namanya Samudra Alam Gasendra. Kok udah pake Samudra masih pake Alam? Samudra itu luas banget dan Alam yang menurut gue jadi pelengkapnya. Kalau Gasendra? Itu nama bapaknya hahaha. Tokoh Samudra gue visualisasikan dengan Yoo Yeon-seok, gue merasa Samudra amat sangat mirip dengan karakter Yeon-seok terakhir kali di drama Hospital Playlist, sangat mirip. Samudra nggak peka banget jadi cowok, dia nggak bisa dengan mudah mengutarakan apa yang dia suka, nggak bisa bedain mana yang peduli mana yang beneran suka. Selain karena Yoo Yeon-seok ini memang sangat dewasa, dia juga cocok banget menjalankan peran sebagai dokter, based on his drama before. Karena memang kayaknya dia tuh udah born to be doctor banget. Udah gitu dokter anak, beuh. Kenapa gue lagi-lagi menyempilkan kisah seorang dokter? Nggak ada alasan mendetil, karena mungkin cita-cita gue sebagai dokter udah pupus, jadi gue berikan cita-cita gue untuk temen-temen gue. Mereka deserve untuk menjalankan profesi itu, dibandingkan gue.

(Samudra Alam Gasendra / Pediatrician)
Tokoh kedua nggak punya visualisasi yang spesifik seperti ketiga teman lainnya. Namanya Nadhira Thafana Adam. Nggak tau kenapa gue selalu naksir sama nama Nadhira dan gue merasa nama itu fits her so well lalu pada akhirnya gue beneran menamai dia Nadhira. Kalau untuk Thafana itu dari ummi gue, beliau dulu sempet nulis-nulis nama anak cewek dan gue naksir juga sama nama ini, dan jadilah si Nadhira Thafana. Kalau Adam? Itu dari nama bapaknya doi. Tokoh ini muncul bener-bener dimaksudkan untuk melengkapi tokoh Samudra, gue akan membentuk tokoh Samudra untuk bisa bergantung sama ini cewek, in a good way of course. Apa ya, gue ketika menulis tentang tokoh cewek tuh nggak akan jauh-jauh dari karakter gue sendiri, belepotan, rame, berisik, SKSD, gue banget kan? Beneran tokoh gue yang cewek pasti kebanyakan begitu. Si Nadhira ini juga begitu, kalau nggak suka sama orang beneran ditandai itu orang, ya walaupun dia bukan tipe perempuan yang mencemooh orang lain, dia super duper kalem kalau udah ketemu orang baru. Karakter ini juga punya profesi sebagai dokter yang mana mungkin dia adalah gambaran gue ketika misalnya gue beneran bisa jadi dokter. Dokter umum di RSUD yang rame dirubung lansia tiap hari Selasa dan Kamis. Nggak tau kenapa dua hari itu selalu jadi hari keramat buat Nadhira hahaha!

(Nadhira Thafana Adam / General Practitioners)
Tokoh ketiga... yang buat gue jatuh cinta banget! Namanya Muhammad Jiyaad Pradipa. Nama yang cukup sederhana mengingat gue selalu ngubek-ngubek arti nama yang macem-macem dan untuk temen gue yang satu ini, amat sangat sederhana. Muhammad... of course idola gue Nabi Muhammad SAW yang pasti harus tersisip. Walaupun untuk Samudra nggak ada nama Muhammad-nya, plis dimaklumi ya, karena tiap orang tua beda-beda kan, jadi tanya aja ke bapak emaknya dokter Samudra hahaha. Terus kalau untuk Jiyaad sendiri artinya sangat sederhana... indah, bagus, baik. Udah gitu aja, dan menurut gue Jiyaad sangat fits untuk Park Jinyoung GOT7 yang memang gue jadikan visualisasi dari seorang Jiyaad. Dan untuk Pradipa sendiri artinya adalah terang, bercahaya, duuuh... Jinyoung banget nggak sih? Karakter yang berusaha gue build dalam diri Jiyaad juga nggak jauh dari karakter dia di drama-drama yang udah diperankan Jinyoung selama ini. Tapi mungkin, karakter Jiyaad disini sangat mirip sama karakter Jinyoung di dramanya yang When My Love Blooms (2020), beneran yang ya Allah bisa ya mirip banget gitu? Gue juga menghadirkan keenam sahabat karib dia di kedokteran, oiya omong-omong Jiyaad adalah mahasiswa kedokteran dan dia sekarang lagi koas di stase mayor tepatnya stase bedah, intinya dia punya temen-temen yang super baik dan mereka udah jadi temen gue juga sekarang.

(Muhammad Jiyaad Pradipa / Co-Assistant)
Tokoh keempat sekaligus menjadi temen gue yang terakhir, khasnya drama juga ya ini ada dua tokoh cowok dan ada dua tokoh cewek. Alasan gue nggak pengen buat tokoh yang banyak karena gue takut aja pesan yang berusaha gue beri nggak bisa berasa dan nantinya pembaca nggak akan bisa fokus sama tokohnya. Namanya adalah Sarah Kamalia. Cantik banget kan? Cocok sama visualisasi yang gue pake dan dia emang girl crush banget kayaknya hahaha yess Kang Seul-gi Red Velvet. Sarah buat gue adalah cewek paling kuat, paling sabar, paling apa adanya, sumpah... ketika gue menceritakan tentang Sarah, hati gue mendadak ikutan perih, kayak... she's deserve more, more, and more. Nggak pernah nuntut apa-apa dan cuma berusaha jadi Sarah Kamalia aja, nggak lebih. Kamalia artinya kesempurnaan, dia emang nggak sempurna, mana ada manusia yang sempurna kan? Tapi Sarah selalu melihat kesempurnaan orang lain, terpoles nggak ada cacatnya selalu berhasil bikin gue pengen bilang, "Please lo udah cukup baik untuk orang lain, Sarah." Nggak tau ya, cara penyampaian gue dalam cerita mungkin nggak sekeren dan sekece penulis andalan wattpad, tapi buat gue dengan tokoh yang beneran kayak ada didepan gue itu udah lebih dari cukup. Sarah bener-bener mengajarkan gue apa arti syukur dan apa arti apa adanya. Gue memilih kedokteran untuk Sarah karena gue merasa dia bakalan bisa jadi dokter yang hebat. Sangat.

(Sarah Kamalia / Co-Assistant)
Mengenalkan universe baru sangat menyenangkan untuk gue. Bayangin aja lo udah sumpek sama urusan kuliah, sama tugas, sama keseharian, terus begitu gue duduk didepan laptop hanya untuk mengenalkan temen-temen baru gue, rasanya seneng, lega banget, kejenuhan gue terangkat entah kemana. Terus apalagi ya yang perlu gue sampaikan mengenai mereka? Mengenai cerita ini? Sebenernya banyak... banget.
Gue juga menghadirkan tokoh orang tua yang nggak sempurna, yang ada salahnya, yang apa adanya. Lagi-lagi kata apa adanya kembali gue pakai. Beneran figur orang tua yang gue liat setiap hari, iya nggak jauh-jauh dari orang tua gue sendiri, dari orang tua kenalan gue, dari orang tua sodara gue, banyak banget yang masuk observasi gue. Gue juga menghadirkan figur sahabat yang tulus, yang ada disaat lo butuh, yang menguatkan lo dengan kata-kata nyebelin, beneran figur yang ada di sahabat-sahabat gue sendiri ada disini. Gue lebih suka cerita yang banyak dari dunia nyatanya, karena apa? Selain karena gue nggak begitu handal berimajinasi, gue juga ingin mengabadikan orang-orang terkasih gue lewat cerita. Gue nggak akan bisa hidup sendirian, selalu ada mereka-mereka yang berjasa di hidup gue.
Universe baru ini gue hadirkan hanya untuk jadi temen gue. Kalau kalian cek di
quedilego pasti bakalan
realize seberapa dikit orang yang baca cerita gue. Target gue bukan seberapa banyak dukungan orang, target gue cuma satu atau dua orang yang tulus menyukai karya gue bukan karena gue suruh atau paksa, tapi karena mereka memang tulus menyukai teman-teman gue disana. Gue pengen temen gue di cerita beneran bisa jadi temen pembaca di dunia nyata. Gue nggak ingin apa ya... karya gue cuma jadi tulisan yang lewat gitu aja. Gue pengen ada satu dua adegan yang mereka ingat, mereka simpan dalam kenangan.
Begitu aja tujuan gue menulis sejauh ini.
Gue nggak mematok target yang memberatkan diri gue sendiri, gue nggak mau gila, gue mau tetep waras dengan apa yang gue sukai.
Semua punya rute perjalanannya masing-masing. Bagi gue, menulis itu perjalanan. Menulis itu perjalanan gue yang bisa membuat gue ingat setiap tahunnya gue udah ngapain aja. Menulis itu rute yang nggak akan ada habisnya kecuali gue udah nggak ada di dunia ini. Gue akan tetap menulis selagi waktu gue masih ada, selagi kesempatan gue masih ada, selagi nyawa tulisan gue juga masih ada.
Katanya menulis itu untuk keabadaian, itu yang sedang gue tanam sekarang. Gue ingin ingatan orang tentang gue tetap abadi karena ada sesuatu yang gue tulis, yang membuat mereka mudah mengingat gue. Nggak apa-apa ketika orang lupa dengan gue, tapi mereka pasti akan tetap mengingat teman-teman yang ada dalam cerita gue.
Gue tetap bisa bahagia dengan begini-begini aja kata kalian.
Karena begini-begini aja bagi kalian itu segalanya buat gue, nyawa buat gue, rute perjalanan yang nggak akan ada habisnya untuk gue.
Selamat datang, universe baru milik kita!
jujur terharu banget baca ini zarrrr sampe netes akuu nyentuh banget 🤧
BalasHapusthanks a lot salma!!! sumpah deh ini tuh sederhana banget ya, tapi kalo aku inget-inget vn yang kamu kirim ke aku wktu itu beneran recharge tenaga buat rajiin nulis. again, timaaci banyaakk dearr, selalu berdoa yg terbaik buat km! <3
Hapus