Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

PELUKAN ABI

Selamat datang bulan April, semoga bulan ini segala kebaikan bisa menyertai kita semua ya, Aamiin.

Belakangan ini saya sibuk sekali dengan kehidupan duniawi. Sibuuuuk sekali, asli. Tidur saya kurang, waktu untuk nonton kurang atau bahkan saya lagi nggak punya waktu buat nonton, waktu buat main kurang, waktu ketemu temen nggak ada, dan intinya saya susah menyisihkan waktu untuk hal lain selain fokus saya pada kuliah serta tes yang insha Allah akan saya jalani tanggal 12 April nanti. Ditambah lagi saya diterima salah satu program satu semester yang diadakan oleh Universiti Tun Hussein Onn Malaysia dan kuliahnya setiap hari Minggu, jadi bisa dibayangkan waktu istirahat saya makin tersita. Weekend saya makin menipis waktu nyantainya, saya juga harus ngajar les setiap Sabtu dan Minggu ba'da ashar, jadi subhanallah sekali rasanya kalau lagi nginget-nginget rutinitas saya.

Kasian sama diri sendiri.

Belum lagi tugas-tugas segunung kidul yang maksa banget karena deadline-nya mepet antara satu tugas dengan tugas lainnya. 

Hal ini juga yang menjadikan waktu saya dengan keluarga kurang. Keluarga saya adalah keluarga pendongeng, suka cerita semua, suka bertukar pikiran, suka membagi kejadian-kejadian yang habis dialami tadi, dan sekedar duduk santai bersama di ruang tamu atau ruang keluarga sambil mengobrolkan hal se-nggak penting debatin harga tahu isi yang kata Abi 5 ribuan tapi ternyata harganya 2 ribuan.

Sederhana, tapi itu yang buat saya bahagia.

Dua minggu lalu kayaknya, setelah saya pulang dari kampus untuk kuliah offline hari Selasa, saya sampai rumah langsung lanjut kelas online dan sampai saya selesai Abi saya belum pulang kerja saat itu. Kebetulan saya sedang tidak sholat, jadi setelah kelas online selesai saya langsung naik ke atas, ke kamar saya, untuk belajar dan mengerjakan tugas. Saya dengar Abi saya datang, tapi saking saya capek dan saking fokusnya dengan apa yang saya kerjakan sampai saya nggak turun ke bawah untuk menyambut Abi. Kebiasaan juga di keluarga kami, ketika Abi datang, orang rumah bakalan nunggu depan pintu dan menyambut Abi. Kebiasaan sejak kami belum pindah rumah, dan dulu saya ingat betul ketika kecil saya suka sembunyi di balik pintu rumah ketika Abi datang lalu meminta Ummi saya untuk pura-pura bilang kalau saya hilang. Kebiasaan ini terus ada sampai sekarang saya berusia 19 tahun. Lalu saat itu saya tertidur setelah maghrib, saya tidak bertemu Abi sama sekali. Karena paginya Abi berangkat kerja sebelum saya bangun, dan saya tidak menyempatkan bertemu Abi malamnya karena saya kalah dengan rasa kantuk.

Saya terbangun sekitar jam 9 malam dan perut saya keroncongan, lalu saya menemukan nasi goreng yang sengaja disisakan untuk saya, kalau-kalau saya akan bangun tengah malam dan lapar. Orang rumah sudah pergi ke alam mimpi. Saya berakhir makan malam sendirian ditemani bising dari TV yang menampilkan acara ragam salah satu stasiun nasional. Dan besok paginya saya tau kalau ternyata nasi goreng yang saya makan malamnya adalah buatan Abi yang rasanya juara sekali walaupun sudah dingin. Paginya juga saya menyesal karena ketika bangun Abi sudah berangkat kerja lagi. Karena saya baru tidur jam 3 pagi, akhirnya saya bangun sekitar jam setengah 7 pagi dan mendapati satu sepeda motor sudah hilang karena dibawa Abi pergi bekerja.

Makin besar saya jadi semakin sadar kalau waktu yang saya habiskan bersama orang tua saya sangat kurang. Ini saja saya bukan anak rantau, nggak tau lagi gimana ceritanya kalau saya beneran akan merantau nantinya. 19 tahun saya habiskan bersama keluarga saya and I really grateful for that, karena nggak banyak orang yang bisa seberuntung saya.

Saya juga merasa heran, saya saja yang satu rumah dengan Abi bisa sampai hampir dua hari tidak bertemu gara-gara saya yang terlalu menyibukkan diri, dan saya merasa sangat bersalah karena itu, menyesal karena itu, dan merindukan Abi padahal hanya sekitar 30 jam tidak bertemu. 

Sorenya ketika Abi datang saya buru-buru turun ke bawah hanya untuk bertemu Abi. Ya walaupun saya anaknya cengengesan begini tapi sebenarnya saya sangat merasa bersalah karena tidak bisa menyempatkan waktu sebentar saja untuk menyapa Abi. Saya sumringah dan terlihat haha hehe karena baru bertemu Abi. 

Dan detik itu.

Abi memeluk saya. Seperti bulanan tidak bertemu. Seperti beberapa purnama tidak saling bertegur sapa. Pelukannya terasa seperti selama itu tidak bersua.

Saya terharu.

Saya bahagia.

Saya bersyukur.

Saya bersyukur dikelilingi orang yang tetap menyayangi saya walaupun banyak duka yang mungkin sempat saya goreskan. Saya pun bersyukur saya masih bisa memeluk Ummi sebelum saya berangkat kemanapun saya pergi, saya sangat sangat bersyukur karena itu. Allah begitu baik memberikan saya nikmat sebegini besarnya.

Untuk itu.

Saya ingatkan, untuk kita yang masih dikelilingi orang yang dikasihi, jangan lupa untuk selalu mengatakan kalau kita sayang, kita cinta. Selagi masih Allah beri kesempatan, peluk, sayangi, dan sisihkan waktu. Kita nggak akan pernah tau sepanjang apa usia kita, sepanjang apa umur orang tua kita, dan sepanjang apa kesempatan yang Allah beri untuk kita.

Hal yang selalu saya lakukan ketika saya lelah dengan urusan dunia adalah dengan menemui Ummi dan Abi, bercerita, tertawa, dan memeluk untuk mendapatkan semangat itu kembali.

Saya hanya ingin kita semua bisa ambil banyak kesempatan yang Allah berikan untuk kita.

Waktu nggak akan bisa diulang.

Tapi kesempatan yang ada hari ini masih bisa kita pegang dan bawa sampai penghujung waktu yang tersisa. 

Titip salam untuk orang yang kalian kasihi ya? Semoga selalu bahagia dan sehat selalu! Saya turut doakan dari sini.

Komentar

Postingan Populer