a quiet corner for thoughts, dreams, and little pieces of me.
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TALKING ABOUT REJECTED - 100 POST ON CIRCA EOS.
Everyone have their own struggle to achieve their dreams. They don't wanna sleep until done with studying for exam, they don't want to go out with his or her friends because studying every day, they don't care if being not update of something that happened in this world, they really don't care, even they really not sleeping for many hours just because their struggling for live their life happily in the future.
It's valid, you can't argued for someone dreams, because everyone really really can fight for their dreams, until... God know when.
Mungkin dalam postingan ke-100 dalam blog gue kali ini, akan ada banyak hal yang gue bagi tentang apa yang sebenarnya gue lalui through this three years, ini tahun ketiga lebih tepatnya. Dan hal apa aja yang membuat gue bisa berjalan sejauh ini, apa aja yang menjadi pertimbangan gue untuk melangkah sampai sini, serta hal-hal lainnya yang akan menjadi cerita gue di tulisan ke-100 Circa Eos.
So, before we start, gue cuma bilang kalau semua orang pasti pernah mengalami failure, gagal, ditolak, entah sama sekolah impian, uni impian, atau hal-hal apapun yang menjadi target seseorang buat ngewujudin goals dia di masa depan. Begitupun dengan gue.
Mungkin kalian yang ngikutin blog ini mulai tahun 2018, awal-awal banget gue jadi blogger cieileh, ya intinya kisaran tahun itu, kalian semua pasti tau target uni dan jurusan apa yang ingin gue ambil dan hal-hal apa yang gue lakuin di tahun-tahun itu. Tahun terombang-ambing lah bisa gue bilang. Saat itu gue menargetkan Pendidikan Dokter Universitas Padjadjaran. Gue melakukan semua hal yang bisa gue lakuin supaya impian itu tercapai. Belajar, pasti. Doa, iya. Restu orang tua, gue udah dapet. Tapi ternyata qadarullah, Allah berkata kalau tahun itu bukan jalan gue untuk diterima disana. Sebenernya di SBMPTN 2019 karena nilai utbk keluar duluan dan gue ngerasa nilai gue gaakan sampe di jurusan serta uni itu, akhirnya gue memutuskan untuk belokin target ke Biologi di Universitas Brawijaya. But again, surprisingly, jalan gue bukan disana lagi. Dan akhirnya gue berakhir di salah satu Politeknik yang ada di Kota Malang, iya, Politeknik Negeri Malang, lewat jalur seleksi tulisnya. Ya lo semua bisa bayangin kalau gue adalah satu dari kesekian manusia yang ngerasa salah jurusan. Gue bener-bener berasa di tempat yang gue nggak tau ini dimana, dan gue mau jadi apa ketika udah lulus nanti gue bener-bener nggak ngerti, buta, nggak ada bayangan.
Akhirnya gue decide untuk kembali memperjuangkan mimpi gue di Kedokteran lewat SBMPTN tahun 2020. Gue kayaknya sabi banget pacaran ama LTMPT deh ya hahaha. Gue belajar lagi, belajar terus, dan ada hal yang berbeda dari tahun 2019 karena di 2020 gue belajar SBM bersamaan dengan gue harus tetap kuliah di elektro. Tmi ya, gue masuk jurusan Elektro. Jadi gue paginya kuliah, pulang malem nugas buat kuliah, dan setelah itu gue baru bisa belajar buat SBMPTN. Siklus itu gue lakuin mulai maba sampe gue udah semester 2 kuliah. Cuma ada beberapa fase gue capek dan gue berhenti belajar selain karena rasanya otak gue yang nggak bisa nyerna apa yang gue pelajari, disisi lain fisik gue sering drop juga, jadi ya ada beberapa waktu yang gue bener-bener nggak ada buka buku SBM. Dan qadarullah lagi-lagi, ternyata 2020 dunia kena wabah Coroncis, sistem sbm berubah lagi. Gue harus sekaligus milih jurusan disamping gue daftar buat UTBK-nya. Waktu itu gue mikir dong, ini kalo gue nggak ngambil jurusan dan Uni yang gue mau, sayang banget dua tahun waktu gue merjuangin ini. Jadi, gue beneran ambil S1 Pendidikan Dokter Universitas Padjadjaran dan pilihan keduanya S1 Pendidikan Dokter Gigi di Universitas yang sama. Makin deket hari H tes rasanya dada gue sesek saking takutnya. Waktu berjalan, semuanya udah terlewati, dan hari H pengumuman dateng. Sore jam 3 seperti biasa, hari Jumat dan hujan deras di rumah. Semua orang satu rumah bener-bener berdiri dan nemenin gue buka itu pengumuman. Rasanya jantung gue udah mau meledak aja pas mau buka, asli, gue bener-bener berharap banget nama gue bisa ada dengan sebuah ucapan Selamat bukan lagi Mohon maaf yang selalu gue dapatkan di tahun sebelumnya. Tapi ternyata takdir berkata lain, karena gue kembali gagal di tahun 2020. Itu artinya gue harus tetep harus lanjut kuliah di Teknik Elektro.
Dan sekarang, udah tahun 2021 aja sih. Cepet banget, kayak baru banget gue kemaren belajar SBM, tes, terus ini udah mau ngejalanin fase yang sama. Gue beneran kadang-kadang suka mempertanyakan eksistensi diri sendiri apakah gue ngelakuin hal yang bener apa enggak sejauh ini.
Jadi setelah dua tahun gue menjalani fase belajar, tes, dan pengumuman, kayaknya dua kali masih belum cukup untuk gue memperjuangkan apa yang gue mau.
Iya, tahun 2021 adalah kesempatan terakhir gue untuk ikut SBMPTN. Kesempatan terakhir gue untuk benar-benar memperjuangkan cita-cita gue, kesempatan terakhir gue buat belajar sekeras ini, kesempatan terakhir gue untuk kembali mencoba sampai di titik gue bangga sama diri gue sendiri karena udah usaha sekeras ini. Yang gue tau adalah gue nggak akan menyesal sekalipun gue gagal kembali karena setidaknya gue gagal karena gue udah mencoba, itu lebih baik daripada gue nggak mencoba sama sekali. Gue mencoba untuk terus memaafkan diri gue sendiri, mencoba untuk ngehargai semua usaha gue walaupun gue berakhir ditolak, bagi gue itu jauh lebih baik karena gue udah mencoba.
Gue percaya cita-cita gue nggak akan berhenti sampe situ.
Gue percaya sama diri gue sendiri kalau gue pasti bisa passed this year better than before, dan gue percaya gue akan baik-baik saja.
Orang lain nggak punya hak untuk cemooh mimpi gue, nggak ada hak untuk ngelarang gue ini dan itu, nggak ada hak untuk menggagalkan cita-cita gue, because this is my life, not yours, i'll be fine, gue yakin gue akan jauh baik-baik saja walaupun nantinya rezeki gue bukan disana. Gue yang ngejalanin ini semua, gue yang belajar, gue yang memperjuangkan, gue yang akan berhasil, gue yang akan menuai hasilnya sendirian.
Jadi gue percaya, bahwa akan selalu ada kesempatan baik lainnya untuk dapetin apa yang gue mau. Kalo gue nggak bisa jadi dokter semoga gue bisa challenge diri sendiri dengan menjadi engineer, sarjana Teknik dan mungkin gue akan lanjut ke S2, who knows karena gue percaya akan banyak kesempatan lain yang bisa gue ambil.
Gue sangat yakin Allah nggak akan biarin gue berjalan sendirian, gue sangat percaya itu.
So, being rejected it's not always embarrassment moment that you should cover up because at least.. you did it, you tried it, and in the end you passed it...
Go with your dreams, live your life, think about wins day, and remember that losers thinking about winners but winners thinking about winning. You were born to win!
Smile and go!
Last but not least, gue bener-bener ingin berterima kasih atas 6.6K viewers blog also sampainya tulisan ini di bagian ke-100, gue benar-benar mendoakan segala kebaikan untuk kalian semua.
Janji sama gue ya, lo harus bahagia, harus.
See you later on Circa Eos.
Salam.
Postingan Populer
Maybe This Is What Living Feels Like
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
(ENG) Redefining Happiness: Finding Peace Beyond Validation
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar