Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Menjadi Dewasa

 



Menjadi dewasa buat gue sulit.

Banyak hal yang tadinya bisa gue lakukan bareng-bareng dengan orang lain, namun, mendadak ketika dewasa gue bener-bener harus lakuin itu sendirian. Menjadi dewasa buat gue juga mengenai kesiapan untuk merasakan kesepian.

Gue rasa semua orang di usia menuju 20 tahun pasti akan merasakan ini, quarter life crisis kalau kata orang-orang. Sekarang gue udah umur 19 tahun, itu tandanya tahun depan gue udah kepala dua. Perasaan nggak nyangka gue bisa survive sampe umur segini dengan berbagai hal yang udah gue lewati dan gue sadar kalau semua ini masih permulaan. Langkah awal yang lo ambil untuk penentuan masa depan apa yang akan lo pilih.

Masa dimana hidup cuma disodorin pilihan satu, pilihan kedua, pilihan ketiga, sampai pilihan kesekian. Nggak ada sekat pembatas buat istirahat dan bahkan akan jadi bahan cemooh ketika kita nggak punya tujuan mau jadi apa di masa depan. Hidup lo akan dianggap burem ketika lo masih nggak tau mau ngelakuin apa di masa depan. Padahal menurut gue nggak semuanya harus well prepare, karena yang gue tau semuanya selalu punya timing masing-masing yang setiap orang pasti beda.

Ada yang datengnya cepet, ada yang enggak.

Semua punya kesempatan yang sama buat memperjuangkan apa yang dia mau, sampe lo udah berada di kesempatan terakhir, satu-satunya yang bisa diambil, lakuin. Karena setidaknya kalo lo gagal, perasaan sesal itu nggak sebesar daripada lo nggak berjuang sama sekali. Berjuang, walaupun pada akhirnya apa yang lo perjuangin nggak memperjuangkan lo balik.

Susah ya emang being mature tuh, susah banget.

Tidur aja lo dipaksa mikir, gila nggak tuh.

Ketika capek lo bakalan dihadapkan dengan persoalan lain yang bikin lo makin capek.

Ya namanya juga hidup, kalo nggak ada masalah bukan hidup namanya.

Makin banyak lo ketemu orang, makin banyak juga rasa sesal yang lo rasakan mengenai kegagalan yang buat lo pengen balik ke saat-saat dimana lo masih berjuang, perasaan pengen berjuang lebih keras lagi buat dapetin apa yang sebenernya lo inginkan. 

Menurut gue, menjadi dewasa berarti kita dituntut untuk selalu tau bagaimana menyelesaikan suatu persoalan hanya karena, "lo udah gede, masa gitu aja gangerti?". Karena katanya kalo kita nggak bisa nyelesein persoalan sendirian, katanya main kita kurang jauh lah, kurang banyak kenal orang lah, kurang sosialisasi lah, kata-kata paling bullshit sedunia.

Astronot yang mainnya udah sampe keluar angkasa aja nggak pernah ngatain orang lain mainnya kurang jauh kok, terus kenapa sih kalo orang masih kesulitan clear their own problems harus dikata-katain mainnya kurang jauh or kind of kata-kata judgement lainnya? Cara orang buat nyelesein masalahnya itu nggak bergantung dari seberapa jauh dia pergi, atau sebanyak apa dia ketemu orang, karena mau sejauh apapun dia main, sebanyak apapun dia ketemu orang setiap harinya, semua itu balik lagi ke tiap orang mau menyelesaikan problem dengan cara apa, and remember kalo lo nggak pernah punya hak buat ngatain tingkat dewasa seseorang dari sejauh apa dia main, inget itu!

Menjadi dewasa... itu berarti harus cepet memenuhi standarisasi yang udah masyarakat build dan kalau misalnya kita nggak bisa memenuhi standar itu katanya kita masih gagal buat jadi orang dewasa. Man, kacamata siapa sih yang sebenernya harus kita pake untuk berhasil jadi orang dewasa kata orang-orang?

Mangkannya nggak heran kalo banyak banget orang yang takut untuk jadi dewasa. Entah karena pengalaman buruk yang pernah dilihat di sekitar mereka, atau hanya karena takut aja nggak bisa memenuhi standarisasi yang orang buat. 

Angkat kepala lo dan jalan aja ke depan, dengan apapun yang lo punya, angkat kepala lo untuk terus menemukan kebahagiaan apa yang sebenarnya sedang lo cari.

Standar hidup setiap orang itu beda. Dan dengan menjadi dewasa kita harus terbiasa untuk mendengar, "lo harusnya gini, dulu aku tuh gini, kamu harusnya gitu juga," lo harus benar-benar terbiasa. Anggap itu sebagai batu loncatan yang ngebuat lo bisa membangun standarisasi untuk diri lo sendiri, karena satu hal yang perlu lo tau kalau,

"Lo hidup buat diri lo sendiri, bukan buat nyenengin orang lain, tapi buat diri lo sendiri bahagia."

Anjay, gue udah berasa gede aja nulis ginian.

Tapi gue udah bener-bener berada di fase itu saat ini, jadi buat lo semua yang sedang berada di quarter life crisis jalanin aja. Sesuai kemampuan yang lo punya, jalan aja ke depan, diri lo aja udah cukup untuk ngewujudin apa yang sebenarnya lo inginkan.

Sekali lagi, angkat kepala lo, terus jalan ke depan.

Gue yakin lo bisa, pasti.

Komentar

Postingan Populer