a quiet corner for thoughts, dreams, and little pieces of me.
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
18 Tahun.
18 tahun.
Adalah usia dimana semua terlihat abu-abu di mata lo. Banyak hal yang ingin lo kejar, banyak hal yang ingin lo capai, tapi justru banyak halangan juga yang ngebuat lo semakin jauh dari tujuan lo.
Agaknya 18 tahun menjadikan orang-orang bertanya tentang "ada apa", "kenapa", "bagaimana", "apa", dan segala macam pertanyaan lainnya tentang apa yang sebenernya lagi mereka alami.
Gue selalu bertanya-tanya, "kenapa sih gue ngalamin ini?", "kenapa rasanya berat banget?", "kenapa gue nggak bisa kayak orang lain?" dan segala kenapa kenapa kenapa lainnya yang selalu ada setiap kali gue bangun tidur pun saat mata gue akan memejam.
18 tahun juga fase dimana rasanya dunia hanya berisi gue dan segala pikiran gue yang kayaknya nggak ada habisnya dari hari ke hari. Perasaan-perasaan dimana gue ingin mundur, berbalik arah, bersembunyi di tempat yang paling gelap tanpa ada seorangpun tau dimana gue berada, menjauh dari orang lain dan segala pertanyaan memuakkan yang selalu membuat gue bingung, bingung karena gue nggak pernah memiliki jawaban yang memuaskan hati mereka.
Manusia dengan segala pikirannya.
Manusia dengan segala ketakutannya akan sesuatu yang belum terjadi.
Manusia dengan segala perkiraannya.
18 tahun juga usia dimana circle pertemanan lo semakin sempit. Kok kayaknya itu-itu aja yang bisa gue ajak cerita? Kok kayaknya dia-dia aja ya yang selalu menerima kurang-kurangnya gue? Kok kayaknya dia doang ya yang selalu bersedia berbagi tentang hari yang dilaluinya pada gue? Kok kayaknya dia doang sih yang seneng temenan sama gue?
Dan pada akhirnya lo tau, siapa yang ada saat lo seneng, sedih, susah, bahagia-bahagianya lo, pada akhirnya lo akan tau dan menemukan orang itu.
Lo nggak akan bisa maksa orang buat suka dan seneng dengan apa yang lo lakuin. Lo nggak bisa nyenengin semua orang. Lo nggak bisa ngajak semua orang di sekitar lo buat temenan dan satu circle dengan lo. Yang bisa lo lakuin adalah menjadi diri lo sendiri, yang apa adanya, nggak dibuat-buat, bilang enggak atas segala sesuatu yang nggak bisa lo lakuin, berani bilang nggak buat circle buruk yang nyeret lo ke arah yang nggak baik, bilang nggak atas sesuatu yang sama sekali gak bisa buat lo bahagia.
Ya pada akhirnya lagi-lagi yang bisa bahagiain diri sendiri ya cuma... diri lo sendiri.
Lo expect apa sih dari orang lain?
Apa yang ngebuat lo berharap banget ke orang lain?
Apakah lo bisa jamin orang nggak akan ngecewain lo?
Sembuh dari sakitnya dikecewain itu nggak bisa cuma sehari dua hari. Ada luka yang bahkan nggak bisa sembuh walaupun sampai berpuluh-puluh tahun lo hidup. Ada perih yang bahkan masih kerasa ketika lo mengingat waktu belakang dimana ada sesuatu yang menyakiti lo. Itu kenapa gue bilang lo nggak pernah punya hak buat nyakitin orang lain, karena bisa jadi hal sederhana yang lo anggep sepele bisa berbekas di benak seseorang sampai bertahun-tahun lamanya.
18 tahun.
Usia dimana lo harus siap mendengar sebuah omongan, "ah lo mah gitu doang, gue udah pernah ngalamin yang lebih berat. Udah, jalani aja, lo pasti bisa kok. Gue aja bisa, masa lo nggak bisa?". Iya, usia dimana lo akan dihadapkan dengan orang-orang disertai kesoktauan mengenai masalah siapa yang lebih berat, dan akhirnya lo nggak punya space untuk ngehargain diri lo sendiri. Lo nggak punya space buat apresiasi diri lo sendiri karena lo merasa orang lain bisa ngelewatin fase yang udah lo lewati dengan baik.
Bagi gue, nggak apa-apa untuk ngerasa berat.
Bagi gue, nggak apa-apa untuk ngerasa lo nggak mampu.
Bagi gue, nggak apa-apa buat ambil jeda... sebentar.
Banyak langkah yang bisa lo ambil dengan pelan-pelan untuk menuju tujuan yang lo mau. Pada akhirnya lo akan tetap sampai di garis finish yang lo mau. Usia 18 tahun akan menunggu lo, akan sabar membersamai setiap langkah lo menuju garis finish, lo cuma perlu pelan-pelan, nggak terburu-buru.
Jangan lari ketika lo takut jatuh.
Jangan lompat dari tempat yang tinggi ketika lo takut ketinggian.
Jangan terburu-buru ketika itu akan membuat lo lelah.
Apa yang harus lo pedulikan dari pencapaian orang lain? Apa yang harus lo apresiasi dari masalah orang lain yang mungkin lebih berat? Nggak ada. Omong kosong.
Ketika lo ingin didengar, cari dan temukan orang yang nggak akan merendahkan masalah lo, cari dan temukan orang yang selalu bilang nggak apa-apa atas segala kegagalan yang lo punya, cari dan temukan orang yang menepuk bahu lo, menggenggam tangan lo untuk bersama-sama maju ke depan.
18 tahun, jangan pernah mengkompetisikan tentang masalah-masalah yang lo punya dengan orang lain.
18 tahun, jangan membandingkan apa yang udah lo lewati dengan apa yang sedang orang lain jalani.
18 tahun, jalani pelan-pelan.
Karena usia 18 tahun gue akan berakhir kurang dari 2 bulan, mungkin ini akan menjadi ajang gue mengingat bahwa inilah "18 Tahun".
Ini, 18 Tahun.
Postingan Populer
Maybe This Is What Living Feels Like
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
(ENG) Redefining Happiness: Finding Peace Beyond Validation
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar