a quiet corner for thoughts, dreams, and little pieces of me.
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
INI KULIAH WOY, BUKAN LOMBA BALAP KARUNG!
Pertanyaan gue sejak jaman maba sampe sekarang udah semester 3,
"Apasih motivasi ambis waktu kuliah?"
Cari muka? Atau cari ilmu?
Sumpah gue gedek abis sama yang namanya saling senggol waktu kuliah. Pas masih SMA liat sekeliling gue pada ambis biar bisa masuk PTN bagus aja gue udah sesek. Dan gue pikir kehidupan kuliah bakalan beda, bakalan lebih longgar karena gue pikir semuanya akan berubah lebih dewasa, jadi masalah nilai, dikenal dosen, or kind of bukan menjadi hal yang patut dikompetisikan kayak lo lagi lomba di lapangan.
Tapi ternyata sama aja.
Gue sebagai anak yang ngerasa salah jurusan ini, yang setiap hari mati-matian cari cara gimana supaya gue bisa survive disini rasanya makin stres dengan kondisi yang sedang gue hadapi. Gue mati-matian ngikuti mata kuliah yang nggak ada satupun bisa gue cerna dengan baik ngerasa pressure itu gede banget di bangku perkuliahan. Dan menyadari kalau ternyata gue secara nggak langsung sedang berada di perlombaan ngebuat gue mau gak mau ikutan lari disertai ketidaktahuan tentang apa sebenarnya yang sedang gue kejar.
Adakalanya gue disenggol dikit sampai gue keluar dari jalur.
Adakalanya gue disenggol sampe jatoh dan akhirnya gue berhenti di tengah-tengah.
Adakalanya gue berada jauh di belakang sampe gue nggak bisa lihat sedang berada di jalur mana orang disekeliling gue.
Atau adakalanya gue bener-bener berhenti dengan niat untuk keluar dari jalur atau setidaknya gue diberi waktu untuk mundur dan mulai dari awal lagi.
Gue, si nggak ngerti apa-apa ini seringkali dianggap saingan oleh manusia lainnya, padahal prinsip gue disini adalah gue mengikuti perkuliahan, gue ngerjain tugas yang gue nggak tau akan benar atau salah, ngumpulin tugas, berteman, dan bertahan. Masalah nilai benar-benar menjadi tolak ukur kesekian gue untuk segala hasil yang telah gue usahakan.
Tapi ternyata gue masih berada di jalur perlombaan dimana gue harus berada di belakang, atau disamping, mempersilahkan yang lainnya untuk maju kedepan dan gue dengan jalur gue yang biasa-biasa aja.
Gue cukup berjalan, pelan-pelan.
Karena buat apa gue berlari kencang ketika yang gue dapati hanyalah rasa lelah, rasa frustasi, dan rasa duka yang nggak ada habisnya?
Gue benar-benar cukup berjalan ke tujuan gue yang entah apa itu namanya.
Gue nggak peduli orang disekitar gue mau lari sekenceng apa, mau nyenggol gue sekeras apa, tapi gue benar-benar hanya ingin bisa bertahan dengan laju gue yang pelan-pelan ini.
Jadi, ketika orang lain menganggap gue cepat, sebenarnya bukan.
Gue tetap pada laju gue yang pelan-pelan dan orang di sekeliling gue yang mungkin memelankan lajunya karena merasa lelah.
Itu yang menjadikan gue merasa baik-baik saja dengan gue yang sekarang.
Gue hanya ingin bahagia.
Tetap berjalan pelan-pelan karena yang gue tau mau sepelan apapun langkah kaki berjalan pasti akan tetap sampai ke tujuan. Istirahat sebentar di tengah jalan, lalu mulai berjalan kembali, pelan-pelan.
Semua ada waktunya.
Jadi gue benar-benar berharap laju perlombaan ini masih tetap bisa gue ikuti walaupun nantinya gue ada di posisi paling bawah. Karena walaupun gue berada di posisi paling bawah, setidaknya, gue berada di jalur finish yang sama dengan yang lainnya.
Semua... ada waktunya....
Postingan Populer
Maybe This Is What Living Feels Like
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
(ENG) Redefining Happiness: Finding Peace Beyond Validation
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar