Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

SEMUA PUNYA TIMING MASING-MASING




(Sebelumnya, mau reminding kalian untuk mendengar podcast gue dengan ura yang kebetulan udah jadi dan di posting disini, like and comment (wajib commentnya hihi), also share, thankyou!)

---------------------------

Halo semuanya!

Gimana kabarnya? Baik-baik aja ya, semoga. Setelah siang ini gue menonton video terbaru kak Gita, gue jadi ingin menulis tentang ini, walaupun judulnya udah gue draft sejak lama, dan akhirnya terealisasikan hari ini.

Belakangan gue seringkali dapet curhat dari temen-temen soal kegagalan diri mereka dalam beberapa aspek. Mereka ngerasa banyak gagal dengan hal yang lagi ditekuni, "kenapa ya za gue nggak bisa kayak orang lain?", inilah yang bikin gue kayak... wah... pemikiran toxic kayak begini ternyata nggak cuma gue aja yang punya.

Tuntutan sosial yang ngebuat kata "gagal" jadi terasa makin nyata. Lo dianggap gagal ketika nggak bisa kuliah, lo dianggap gagal ketika harus kerja sambil kuliah, lo dianggap gagal ketika nggak kuliah di PTN, lo dianggap gagal ketika lahir di keluarga yang nggak memenuhi standar sosial (yang bahkan menurut gue sampai sekarang standar sosial itu nggak ada), lo dianggap gagal ketika orang tua lo nggak kerja di sebuah intansi besar meanwhile mereka cuma kerja serabutan, lo dianggap gagal ketika lahir di keluarga yang broken, lo dianggap gagal ketika penyakitan, dan kegagalan lain yang sebenernya itu cuma buatan manusia.

Seperti yang gue tulis beberapa waktu lalu soal gagal, di link ini, dimana gue bilang kalo gagal itu NGGAK ADA.

Dari segi mananya lo harus ngerasa gagal disaat patokan yang lo punya adalah dari manusia lain. Menurut gue gagal itu standarisasi nggak berujung yang bakal terus ada di tengah society kita, itu kenapa sampai sekarang gue selalu belajar, mana sih orang-orang yang nggak pernah menilai gue dari kegagalan.

"Nggak apa-apa, mungkin ini yang terbaik." 

Ketika gue gagal mencapai sesuatu dan disitu sebenernya gue bukan gagal, tapi belum waktunya aja gue untuk dapetin yang gue mau, dan disitu pasti orang-orang berbondong untuk bilang kalimat itallic diatas.

Disaat lo bilang, "mungkin ini yang terbaik", secara nyata lo bermaksud untuk bilang bahwa nggak ada peluang lagi untuk orang itu berusaha dan coba lagi apa yang dia mau. 

Iya, mungkin itu emang yang terbaik buat saat ini, tapi nggak ada yang tau apa yang jadi terbaik buat hari esok. Jadi saat lo bilang, "mungkin ini yang terbaik", jangan lupa buat tambah kalimat penguat lain, "yang terbaik buat saat ini, dan kalo lo udah baik-baik aja lo berhak dan boleh buat coba lagi."

Gampang kan?

Jangan ngegagal-gagalin pencapaian orang lain, disaat lo sendiri juga punya hal sendiri yang harus lo urus, punya kehidupan sendiri yang harus lo pikirkan. 

Gue juga suka bingung ketika ada orang yang mengkritisi orang lain dengan masalahnya, karena mungkin aja kehidupan doi udah bener dan lurus-lurus aja, tapi ternyata dia sendiri juga punya permasalahannya sendiri, lantas kenapa lo harus repot mengurusi urusan orang lain kalo hidup lo sendiri aja juga perlu lo urus?

Disinilah gue ingin menekankan, lo nggak perlu malu mengakui diri lo sendiri. Apa salahnya sih dengan jadi diri sendiri walaupun nggak sesuai standarisasi society? You live for yourself, only you can help yourself.

Bukan orang lain.

Kehidupan ideal menurut gue tergantung siapa yang lagi hidup. Kehidupan ideal gue dan lo jelas beda. Cuma kebanyakan kita merasa hidup kita ideal kalau ada ayah, ibu, anak-anak, duit banyak, rumah gede, kaya raya, dan akhirnya... MATERI lagi. Dan ketika patokan kehidupan ideal udah mengakar di society jadilah orang seenaknya menggagalkan kehidupan orang lain.

Katanya, kalo orang tua cerai berarti hidup lo nggak ideal.

Katanya, kalo lo nggak punya mobil berarti hidup lo nggak ideal.

Katanya, kalo lo nggak punya banyak duit berarti hidup lo nggak ideal.

Katanya, kalo orang tua lo kerjanya nggak menetap (read : serabutan) berarti hidup lo nggak ideal.

Katanya, kalo lo nggak cantik, nggak putih, nggak mancung, nggak tinggi, hidup lo nggak ideal.

Katanya, kalo lo jomblo terus itu artinya hidup lo nggak ideal.

Dan hal-hal remeh serta receh lainnya mengenai idealisasi hidup yang menurut gue tiap orang beda.

Jadi buat sekarang, hidup.

Hidup seperti apa yang lo mau dan inginkan.

Hidup sesuai apa yang lo mau dan bisa bikin lo bahagia.

Lo nggak perlu memenuhi ekspektasi orang lain untuk kehidupan lo sendiri.

Lo makan nggak dibayari orang lain, lo hidup juga nggak numpang di rumah orang, lo hidup juga nggak ngerugiin orang lain, lo kerja dengan kerjaan halal, dan semuanya nggak ngelanggar norma atau aturan yang ada, sooo ngapain sih menuhi ideal hidup orang lain yang nggak bisa buat lo bahagia?

Nggak peduli seberapa kaya dan sukses orang lain, karena gue percaya, kalo semua orang punya waktunya sendiri-sendiri.

Semua orang punya bagian hidupnya masing-masing.

Nggak usah nyenggol kalo nggak mau disenggol balik.

Hidup, hidup buat diri lo sendiri.


Again, everyone have their own times, just wait.

Komentar

Postingan Populer