Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

EP. 0 "Soal Jalan, Jalani Aja"


Selamat datang di perjalanan baru dari "Tentang Mereka".

Judul labelnya saya putuskan untuk diperbarui, yaitu... Jalan, Jalani Aja.

Selama ini yang saya tau soal "Jalan" ya menuju destinasi paling nyaman yang membahagiakan. Saya nggak lagi ngomongin masa lalu, saya cuma mau ngomongin masa depan, yang ngebuat langkah saya terus maju, bukannya malah mundur.

Nggak banyak orang yang suka diajakin jalan maju ke depan, senengnya mundur melulu, "gue ngapain aja sih kemarin sampe-sampe gagal sebegininya?", kind of. Menyesal nggak berujung, yang ngebuat langkah kaki dan pikirannya selalu tertuju ke masa lalu, buat apa? 

Ngebuat hati nggak ikhlas dan pikiran selalu diselimuti rasa bersalah. Perasaan menyesal yang terus menerus disirami kayak tanaman ya setiap harinya bakalan terus tumbuh subur, kalau aja nggak ada racun yang ngebunuh tanaman itu. Sama kayak hati, kalau rasa bersalah terus menerus dibiarin tumbuh setiap hari, yang ada kita malah akan terus hidup dengan masa lalu.

Bahagia?

Belum tentu.

Nggak ada yang bisa kasih jaminan.

Jadi orang yang bicara soal menjalani apa yang ada didepan buat saya memang terdengar meragukan, toh kita juga nggak akan pernah tau apa yang bakal terjadi di depan sana.

Terlalu abu-abu.

Saya lebih suka warna hitam dan putih, dibandingkan dengan perpaduan keduanya yang menyebabkan adanya keabu-abuan dalam hidup.

Kayak hidup, kita kadang banyak suruh milih, dihadapkan dengan opsi-opsi hidup yang bagaimanapun harus membuat kita memilih salah satu.

Kayak hidup, setelah menetapkan pilihan, gimana-gimana kita harus jalan, dan sebelum jalan akan ada pilihan yang lain. Mau jalan ke depan atau mundur ke belakang?

Setelah jalan belum tentu jalan yang mau dilewatin itu halus, bisa jadi terjal, menikung, naik, turun, dan dalam setiap langkah akan ada waktu dimana kita tersandung. Jatuh, berdarah, terluka, dan... menangis.

Persis kayak waktu kecil.

Belajar jalan, awalnya di tuntun, ada orang tua yang dengan sigap memegangi kalau aja kita jatuh, dan besoknya fase itu akan berulang. Sampai langkah kaki kita benar-benar siap untuk melangkah sendirian. 

Sama kayak belajar naik sepeda.

Saya sering jatuh dari sepeda, apalagi ketika roda empat dan Abi melepas dua roda lainnya dan saya harus mencoba berjalan dengan sisa dua roda yang ada. Awal terjatuh jelas, saya menangis. Tapi di jatuh-jatuh lainnya saya hanya tertawa, karena... saya terbiasa dengan jatuh bangunnya.

Kata orang-orang tua yang menasehati anaknya, "semua itu nggak ada yang serba instan, Nak." 

Kalimat yang khatam masuk ke telinga saya, begitu juga dengan kalian, kan?

Itu yang saya maksud dengan Jalan, Jalani Aja.

Jalan doang, gampang. 

Tapi menjalani aja nggak semudah berjalan biasa. 

Banyak lubang kecil yang dilewati, banyak lubang kecil yang menjadi semakin besar karena nggak kunjung diperbaiki, banyak luka yang semakin bertambah karena nggak menemukan bahan untuk memperbaiki lubang yang buat kita jatuh.

Sederhana.

Semua cuma soal berjalan.

Dan menjalani.

Semua punya waktunya masing-masing untuk kemudian bisa berjalan dengan tegap, percaya diri, dan bertahan untuk tidak terjatuh kesekian kali.

Menyerah?

Bukan, nggak ada sesuatu apapun yang bikin kita menyerah sebenarnya.

Mungkin maksudnya adalah istirahat.

Ambil jeda sejenak untuk mundur sedikit untuk kemudian berjalan lagi ke depan. Pelan-pelan.

Jadi soal Jalan, Jalani Aja. 

Adalah sebuah baris yang membuat kita bisa berdiri tegak seperti sediakala, kembali berjalan ke depan dan berhenti untuk hidup bersama masa lalu.

Kita memang nggak pernah tau apa yang akan kita temui ketika melangkah ke depan, tapi setidaknya sesuatu apapun yang ada jauh didepan sana, nggak akan membuat luka yang berusaha di tutup kembali terbuka.

Mungkin alasan luka itu kembali terbuka karena ketika melangkah ke depan terlalu sering kita berjalan mundur dengan dalih "rindu, menoleh sebentar boleh kan", dan akhirnya kehidupan masa lalu lebih banyak memenuhi ruang gerak kita.


Soal Jalan, Jalani Aja.

Semoga bisa menjadi obat untuk sekedar mengatakan kepada diri sendiri, "saya nggak sendiri kok."

Memang, siapa yang bilang kalau kamu sendiri?

Dia?

Memang efek apa yang dia beri di kehidupan kamu?

"Dia pernah bikin saya bahagia."


Pernah belum tentu selalu.

Kalau perbandingan membuat bahagia dan mengecewakan adalah 1 : 99  ya.... bolehlah ingat baiknya walaupun cuma satu persen, karena dengan begitu masih ada alasan buat kamu untuk nggak membenci siapapun.


Jalan didepan masih panjang, dan waktu untuk menuju puncak itu nggak sebentar.

Jalan mulai sekarang, walaupun nggak akan ada yang tau kapan sampenya tapi nggak apa-apa.


Jalan, Jalani Aja.... dulu.

Komentar

Postingan Populer