Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

AKHIRNYA... SAYA...

 


Malam ini sebenernya nggak tau mau bagi kisah apa, yang mana... kayaknya terlalu banyak yang mau saya bagi sampai saya ngerasa curang dan egois, kenapa saya harus membuat kalian membaca kisah saya disaat kalian juga memiliki jutaan kisah yang juga ingin dibagi.

Saya habis banyak menangis lagi nih, mau tau nggak karena apa?

Nggak deh, rasanya masalah tangis menangis nggak perlu saya bagi, nanti kalian ikut menangis lagi... hahahaha bercanda. 

Mungkin bincang kali ini penggunaan bahasa saya akan lebih halus daripada sebelumnya, jadi saya harap kalian nggak akan terkejut atau bagaimana ketika membacanya.

Haaaaaah, rasanya lega sekali bisa mengambil napas sepanjang itu.

Ternyata sudah banyak hal yang saya lalui hingga saat ini. 

Senangnya, sedihnya, tawanya, bahagianya, kecewanya, semua sudah saya rasakan dan saya kenali dengan baik. 

Dulu saya nggak terlalu sering memikirkan apa yang akan saya lakukan besok, karena saya hanya berharap saya bisa menemui bahagia saya walaupun hanya sedikit. Dibalik tangis saya selalu menemukan tawa, dan dibalik rasa kecewa saya selalu menemukan bahagia. 

Saya baik-baik saja.

Terbiasa juga mengatakan bahwa saya memang baik-baik saja ternyata bisa menjadi obat ampuh walaupun sebenarnya dunia sedang membuat keadaan saya jauh dari baik-baik saja. 

Saya terlalu banyak mengecewakan, terlalu banyak langkah yang sepertinya salah untuk saya ambil, dan terlalu banyak perih yang saya berikan. 


Banyak gagal di urusan akademis.

Banyak gagal di urusan non akademis.

Banyak gagal di urusan cinta.

Dan banyak gagal di urusan kesukaan saya, kesenangan saya, banyak sekali gagalnya. 


Apa saya baik-baik aja dengan itu?

Nggak.

Saya nggak baik-baik aja.


Ketika sebuah tulisan, "Tetap semangat", kembali saya dapatkan dan kedua orang tua saya justru mencium kepala saya, mengatakan bahwa saya sudah berusaha dengan baik, saya sudah melakukan yang terbaik versi saya justru disana saya merasa bahwa saya kembali mengecewakan mereka.

Berbagai pertanyaan yang nggak kunjung saya temukan jawabannya terus menerus menghantui saya setiap detiknya. 


Kenapa harus saya?

Saya sama sekali tidak pandai dalam menyembunyikan luka, percuma, karena pada akhirnya semua orang akan tetap memandang iba kepada saya, seakan-akan saya sangat pantas untuk dikasihani.

Mungkin iya.

Orang berhak iba terhadap kegagalan tertunda yang saya alami kesekian kali.

Dan saya sangat berterima kasih karena mereka hadir di waktu yang tepat. Setidaknya saya masih memiliki alasan untuk kembali berjuang di kemudian hari. 

Banyak harapan justru semakin banyak rasa kecewa yang akan muncul.


Saya janji akan membahagiakan Ummi, dan saya berjanji akan membahagiakan Abi.


Janji yang saya ucapkan di pelukan Ummi dan Abi tidak pernah sebegini membuat saya mengucapkannya dengan menahan tangis.

Saya nggak ingin lagi menangis di depan orang-orang terkasih saya. 

Sudah terlalu banyak yang mereka berikan, saya nggak berhak untuk bahkan terlihat sedih di hadapan mereka.

Saya nggak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah mereka berikan kepada saya.

Ketika saya melihat banyaknya uang yang sudah Abi keluarkan untuk membiayai pendidikan saya sejauh ini, saya nggak ingin membuangnya dengan percuma.


Kamu harus sukses, mengangkat harkat derajat keluarga.


Hanya itu yang bisa saya pegang hingga kini.

Karena kalau bukan saya, mau siapa lagi?

Anak tetangga? Jangan konyol.


Kalau bukan belajar yang menjadi senjata saya saat ini, lalu apa yang akan saya makan di masa depan? Apa yang akan saya berikan kepada anak-anak saya kelak kalau saya tidak memulainya hingga saat ini?

Saya nggak bisa melihat masa depan, tapi saya bisa merubahnya.

Merubah segalanya yang awalnya baik menjadi semakin baik.


Melihat orang tua saya yang semakin dimakan usia rasanya sia-sia sekali kalau saya tidak berusaha memberi kebahagiaan kepada beliau.

Ah, kenapa selalu sesedih ini ketika saya membahas tentang orang tua saya.


"Maaf ya Mi, kak Zya selalu mengecewakan."

Itu yang saya katakan ketika sebaris kalimat yang menyatakan saya gagal kembali muncul dalam laman pengumuman. 


Saya pasti akan membahagiakan Ummi dan Abi.

Ketika sebaris kata "Aamiin" mereka ucapkan disitu saya berjanji bahwa nantinya saya akan menggandeng kedua tangan beliau menuju tangga kesuksesan. 

Ketika sekarang saya bangga hanya dengan mendengar kalimat, "oh kamu putrinya pak Luqman ya?", maka nantinya saya akan membuat kedua orang tua saya mendengar kalimat, "oh ibu sama bapak orang tuanya Hazara ya?" yang diucapkan penuh kebanggaan.


Yang saya percayai hingga kini ketika sebuah kegagalan tertunda pasti akan ada banyak hal baik yang menjadi penggantinya.


Mungkin jika bukan sekarang, mungkin besok, atau besoknya, atau bahkan besoknya lagi.


Nantinya akan semakin banyak kalimat sebaiknya lusa daripada hari ini.

Nggak apa-apa lusa, asalkan hari ini saya bahagia.


Saya akan.... baik-baik saja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer