Bicara soal gagal atau berhasilnya seseorang menurut gue sedikit ambigu.
Gagal sendiri punya interpretasi yang beda setiap orangnya. Ada yang ngerasa gagal disaat nggak mendapatkan hasil sesuai keinginan, ada juga yang menganggap kalo gagal adalah ketika nggak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, atau mungkin ada yang ngerasa gagal karena dirinya nggak bisa sesuperior orang lain.
Dan kebanyakan, kata gagal kaitannya erat dengan orang lain.
Pertanyaan yang terungkap seperti, "kenapa ya gue nggak bisa kayak dia?" itu sering banget menemani hari setiap orang.
Termasuk gue.
Gue nggak ngerti ya kenapa quarantine justru bikin otak gue rada jahat sama diri sendiri. Otak gue seringkali memegang kendali dan itu ngalahin hati gue. Padahal biasanya cewek lebih sering ngutamain hati daripada logika, tapi gue nggak. Sering banget pikiran dalam otak memegang kendali besar dalam hari-hari gue, recently.
Gila gue sedih banget rasanya melihat sekeliling gue terus ber-progress dan mereka berhasil dengan apa yang mereka perjuangkan. Kayak hebat banget, gue gini-gini terus dan gini-gini terus nyalahin diri sendirinya.
18 tahun hidup dan rasanya gue belum pernah ngerasain keberhasilan yang sebegitu besarnya sampai membuat gue harus berterima kasih dengan segala usaha yang gue kerahin untuk itu. Karena disaat gue achieve something yang gue rasa udah bagus dan yah you can say that i succeeded at that time, tapi ternyata masih belum aja, karena gue harus mencapai sesuatu yang lebih tinggi lagi.
Standarnya siapa?
Standarnya orang lain, lagi-lagi.
Emang, kebanyakan takut gagal karena takut sama ekspektasi orang lain.
Dude, they didn't even care about your struggle, they just need the results. Bullshit.
Dan ketika hasilnya jaaaaauh dari ekspektasi, disitu kita dibilang gagal. Padahal atas dasar apa kegagalan itu diberikan? Wong, usaha kita aja nggak dinilai.
Gue takut banget gagal.
Bahkan membayangkan gue akan gagal aja... rasanya berat.
Sekalipun gue berhasil mungkin nantinya gue akan tetap dianggap gagal, because i can't satisfy the standard people above me, dan lagi-lagi gue gagal buat diri sendiri bahagia.
Gue sedih banget disaat gue nggak bisa buat batin sendiri bahagia because of little things, as long as gue masih bisa ketemu sama orang yang gue sayang.
Selama ini gue juga sering ketemu sama orang-orang yang fake banget, terutama laki-laki. Mungkin itu juga alasan gue meragukan kata-kata 'cinta', omong kosong.
Udah cukup gue sayang sama seseorang yang bahkan they don't know that we're exist di dunianya dia.
Gue gagal di banyak hal, dan 18 tahun jadi saksi kalau di quarter life crisis nanti gue nggak akan sedih dan takut-takut dengan hal yang bahkan belom kejadian.
Karena gue udah banyak merasakan itu di timing sebelumnya, timing yang bahkan orang-orang nggak melihat itu.
Takut gagal malah buat gue bersyukur, karena mungkin struggle gue bakal lebih gede dan yang pasti gue nggak akan mengulang kesalahan sama, dude nggak bakal ya.
Gagal itu nggak ada.
Inget.
Gagal. Itu nggak ada.
Komentar
Posting Komentar