Oke hai.
Tulisan kali ini gue khususkan untuk project e-radio podcast yang bakal gue ikuti barengan sama Aura, salah satu temen ngemc waktu jaman SMA kemaren.
Ngomongin soal new normal, as you can see on the title (weh udah kayak youtuber belom bahasa gue? haha ngaco), iya omong-omong soal tatanan baru untuk beradaptasi dengan COVID-19, gue ingin membahas atau ngobrolin soal ini udah rada lama sebenernya, sebelum ada project ini, tapi karena satu dan lain hal harus di pause dulu.
Alhamdulillah, sekarang dikasih kesempatan buat cuap-cuap opini soal New Normal.
Awal-awal ada bincang soal New Normal gue sebenernya rada... hah gimana? Karena dilihat dari sisi manapun gue merasa Indonesia belom nyampe tahap dimana kita siap untuk tatanan baru ini. Ya walaupun nggak bisa dipungkiri kalau dengan adanya tatanan baru "mungkin" kita bisa move ke sesuatu yang "mungkin" juga akan membuat negara ini bisa lebih baik dalam berdampingan dengan wabah corona. Tapi dilihat dari segi masyarakat yang patuh aja kita bisa menyimpulkan sendiri berapa persen sih dari warga yang mau disuruh pake masker dan nggak keluyuran kemana-mana kalo nggak urgent banget?
Mau bagaimanapun sebenernya Indonesia masih belom siap untuk tatanan baru ini. Wets tunggu dulu. Buat lo yang langsung asumsi, "dih enak lo za tinggal ngomong doang, lo nggak mikirin betapa sumpeknya pemerintah mikirin ini?", lah gue mah sebagai warga ya bisanya cuma komen dan kritisi, perannya pemerintah ya mendengar aspirasi dan menerima itu. Jadi, gue hanya ingin menyampaikan opini gue mengenai tatanan normal yang udah mulai diadain di negara kita, tanpa harus pusing apakah new normal ini akan berhasil atau tidak, dude, gue nggak mau pusing mikirin hal yang belum kejadian, dan mikirin hal yang bahkan harusnya jadi kewajiban bersama.
Tatanan normal akan-akan benar berhasil, kalau, kalau aja nih, semua warga benar-benar mau untuk diajak bergandengan dengan pemerintah. Mewujudkan negara kita untuk bisa berdampingan dengan COVID-19, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan (pastinya). Karena kalau tatanan normal dilakukan tapi warganya masih aja bebal dengan nggak pake masker dan jaga kesehatan ya sama aja boy, kayak ngepel jalan raya, nggak guna.
Disini mungkin gue akan lebih menonjolkan peran milenial menghadapi new normal ditengah pandemi COVID-19. Banyak peran sebenarnya yang bisa benar-benar kita lakukan untuk merasa "siap" dengan tatanan baru atau kenormalan baru ini. Gue merasa peran milenial juga gede banget untuk turut menyiapkan diri masing-masing buat berdampingan dengan pandemi. Lebih penting untuk menyiapkan diri sendiri dulu sebelum lo decide untuk memberi peran bagi orang lain.
Inget, semua itu dimulai dari diri sendiri, baru lo bisa menularkan virus baik untuk orang lain. Kalau belum bisa mengedukasi diri sendiri, jangan mengedukasi orang lain, begitu kira-kira maksudnya.
Sejauh ini gue banyak menemukan baliho dan poster untuk pencegahan COVID-19, tatanan baru, dan hal-hal yang berkaitan. Nih ya, minat baca masyarakat Indo aja rendahnya minta ampun, kalau font kekecilan aja udah protes, font nya nggak asik aja juga protes, ada gambarnya dibilang kayak bacaan anak-anak, jadi... susah kan? Jadi buat apa capek-capek bikin poster, banner, dan kawan-kawannya kalau pada akhirnya itu bakal jadi sampah, jadi bungkus makan, jadi alas tidur? Ya nggak? Katakan ada yang bilang, "ya dicoba dulu lah, kan nggak semua warga kita kayak begitu," ya kalo gitu sih silahkan. Kalau gue, mending cobain cara lain yang lebih mudah dipahami sama masyarakat.
Nggak semua orang juga TERTARIK cuma buat ngelirik spanduk pencegahan yang lo pasang ya :)
Menurut gue, peran yang paling penting adalah dengan perbuatan. Mau sampe berbusa gimana kita sosialisasi tapi kalau pada akhirnya orang lain nggak ngerti apa yang lagi diomongin, percuma, lagi-lagi. Lebih baik melakukan perbuatan yang bisa dilihat secara nyata daripada cuma ngoceh yang bahkan orang nggak minat lagi denger karena, "ini lagi, ini lagi".
Perbuatan nyata seperti pakai masker kemanapun kita pergi, nggak menggunakan masker di dagu, cuci tangan dan bawa handsanitizer kemanapun udah bisa jadi tolak ukur masyarakat buat sekedar ngebatin, "orang lain berusaha mencegah, masa gue nggak", lebih baik menunjukkan perbuatan atau contoh daripada sekedar mengucapkan atau membuat poster yang bahkan orang nggak tertarik lagi.
Kesiapan dalam bidang pendidikan gue merasa harus benar-benar diperhatikan juga. Gue tau dirumah aja itu emang se-membosankan as that, tapi kita juga harus paham dengan situasi yang sedang nyata terjadi di sekitar kita. Corona itu benar-benar ada, benar-benar nyata terjadi di sekeliling kita, benar-benar exist di negara Indonesia. Yang ngerasain sekolah dari rumah nggak cuma lo aja, tapi seluruh pelajar di negara ini, bahkan di dunia ini juga ngalamin hal sama dengan lo. Jadi kalau orang-orang di luar sana banyak yang protect themselves dengan hal baik, kenapa kita harus memilih jadi orang egois dengan kesana-kemari seenak jidat TANPA ada niatan memperhatikan protokol kesehatan?
Ya, sektor pendidikan emang penting. Dan langkah tatanan baru yang paling sesuai adalah dengan tetap belajar dari rumah. Belajar online memang lebih berat, karena beban pemahamannya lebih besar. Justru disini peran diri sendiri yang sangat penting. Disinilah peran masing-masing siswa dibutuhkan. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah, punya peran masing-masing terhadap pendidikannya. Mungkin kalau TK dan SD peran orang tua masih sangat besar, tapi untuk tingkat SMP sampai kuliah gue rasa peran diri sendiri lebih besar daripada peran orang tua. Kalau mau maju ya coba edukasi diri sendiri lebih banyak daripada sebelumnya, tapi kalau nggak mau... ya mundur aja sekalian.
Belajar itu kewajiban. Success things juga nggak ada yang instan. Dan gue merasa dengan tatanan normal baru tetap bisa membuat pelajar ya jadi pelajar yang semestinya. Jangan cuma tiktokan terus yang dipikir, feeds ig doang yang dipikir.
New Normal dalam bidang pendidikan gue rasa akan lebih baik daripada ketika awal-awal pembelajaran daring diadakan, karena gue yakin pemerintah akan lebih well prepared for education dan para pelajar juga harusnya segera terbiasa dengan pembelajaran daring. Nggak muluk-muluk kok, tetap belajar walaupun cuma dari rumah.
Karena yang paling penting bukan tempatnya, tapi bagaimana effort kita untuk mendapatkan ilmu itu.
Dari segi ekonomi yang paling kelihatan ya online shop, yang kemarin sebelum adanya pandemi orang-orang udah mulai serba online kalau belanja, sekarang karena pandemi, makin apa-apa pake online. Peran penting yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan kepercayaan kepada warga tentang keamanan dari suatu produk dan jasa. Biasanya setelah kita beli sesuatu, pasti ada review kan? Entah sekedar review ke keluarga, temen, atau bahkan tetangga, udah bisa jadi tolak ukur aman atau nggaknya suatu produk yang kita beli.
Tatanan kenormalan baru mungkin membuat masyarakat tetap akan berpegangan pada online shop, tapi yang lagi-lagi perlu diperhatikan adalah protokol kesehatannya. Entah dari si kurir, atau kita sebagai penerimanya. Mangkannya itu kenapa penting banget buat nggak lupa "spray spray" setiap dapetin paket dari luar.
Nah, kalo gini kan tatanan normal jalan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Gampang, tho?
Sumpah deh, peran dari milenial kadang sederhana banget tapi justru yang mudah melekat ke masyarakat.
Karena sometimes warga dengan usia lanjut lebih percaya dengan omongan milenial daripada omongan pemerintah. Katanya milenial masih seger-segernya otak buat nyerap informasi.
Mau bagaimanapun, mau seperti apa tatanan kenormalan baru bakal diterapkan, semoga warga bisa lah paham secara sederhana arti dari new normal itu apaan.
New normal itu bukan berarti udah aman ya, tapi situasi yang mengharuskan kita buat berdampingan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. New normal bukannya udah normal, tapi "kenormalan baru" yang sengaja dibuat agar segala sektor tetap dalam kondisi baik-baik saja sampai batas waktu yang nggak diketahui.
Karena sampai sekarangpun, kita masih buta, masih nggak tau sampai kapan wabah ini akan terus ada.
Please, jangan mengira new normal yang bakal diterapkan adalah bentuk bahwa Indonesia sudah baik-baik aja, still, Indonesia masih tidak baik-baik saja. Mangkannya terapin tuh protokol kesehatan! Jangan bandel-bandel lah jadi warga, hanya karena wilayah kita belum terpapar.
Mungkin pembahasan ini cukup panjang tapi nanti yang akan dibikin podcast bakal kolaborasi dari naskah yang gue buat dan naskah yang Aura buat. Tunggu ya! Kalau podcast video ver. udah beres bakal di post on our instagram account!
Hope you guys enthusiastic with this project!
Once again, I hope you understand what points of new normal in our country, don't just criticize others, educate yourself is more important, okay?
Okay.
Komentar
Posting Komentar