Gue sering banget dimarahin gara-gara punya waktu sedih yang lebih banyak daripada seneng. Padahal kalo dipikir-pikir gue punya seribu alasan yang bisa bikin gue bahagia. Tapi nggak tau kenapa waktu sedih itu lebih sering datengin hidup gue, kayak.... sering banget?
Disaat gue sedih sebenernya gue nggak pengen sedih, cuma nggak tau kenapa (lagi-lagi) perasaan sedih itu terus ngedatengin gue. Gue selalu punya waktu Indonesia bagian sedih tersendiri dalam hidup gue. Walaupun nggak selamanya hal itu nyakitin, bahkan kadang lewat sedih gue bisa push diri sendiri untuk, "Ah, lo bisa lebih baik dari kemarin."
Gue orangnya gampang trauma akan sesuatu. Sekali aja gue mengalami hal yang susah, rasanya gue nggak ingin merasakan kesusahan yang sama di kemudian hari. Gue hanya.... nggak siap. Gue nggak siap kalau aja nantinya gue akan merasakan kesusahan yang membuat waktu gue untuk bahagia perlahan hilang, atau bahkan nggak ada sama sekali. Tujuan hidup gue sama dengan yang lain, sama dengan lo semua, yaitu untuk mencapai dan merasakan sesuatu yang bisa buat gue bahagia. Yang bisa buat tidur gue nyenyak tanpa harus kepikiran hal-hal sulit itu.
Sesak rasanya.
Sebanyak apapun gue mencoba menjemput bahagia gue, tapi seringkali gue gagal dan gue kembali sedih.
Gue hanya ingin melakukan sesuatu yang nggak membebani gue sedikitpun, menjalaninya dengan hati selega mungkin. Melakukan sesuatu yang membuat waktu gue untuk bahagia lebih banyak daripada sedihnya. Melakukan sesuatu yang membuat tidur gue nyenyak walaupun cuma 1 jam sekalipun, tapi gue melakukannya karena gue suka.
"Kalau kayak gitu berarti lo maksa dan dikte Allah SWT dong?"
Nggak.
Gue percaya Allah selalu tau apa yang terbaik buat gue. Setiap jalan yang gue tempuh sejauh ini juga atas izin Allah. Dan gue bisa melewatinya sejauh ini juga karena bantuan Allah SWT.
Setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Dibalik kesulitan pasti akan ada kejutan.
Gue percaya dengan kalimat itu.
Itu kenapa hingga sekarang gue selalu mencoba yang terbaik untuk menjemput bahagia gue.
Gue nggak peduli lagi apa kata orang, gue hanya ingin menatap ke depan, tanpa harus menoleh ke kanan dan ke kiri hanya untuk sekedar mendengar orang bilang, "lo nggak akan bisa sampai disana, jauh banget, lo nggak akan sampai," atau melihat ke belakang hanya untuk mendengar masa lalu gue berbisik sadis, "lo udah gagal kemaren, masih mau gagal lagi?"
Nggak.
Gue nggak mau.
Gue hanya ingin menatap ke depan.
Karena yang gue tau, future is forward, jadi toleh kanan-kiri, atau berbalik ke belakang, itu bukan persoalan yang penting lagi.
Sudah.
Gue hanya ingin menjemput apa yang bisa membuat gue bahagia.
Dan yang bisa membuat orang tua gue bilang, "anak gue hebat banget".
Cuma gitu aja.
Komentar
Posting Komentar