Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Quarantine?



Bicara soal quarantine, udah berapa lama sih kita di "Rumah Aja" ?

More than thirty days, i guess?

Dan pasti dari sini orang-orang banyak bertanya, "udah ngapain aja lo sebulan lebih dirumah?", terus kalau misal gue jawab, "ya gini-gini aja, kuliah online, nugas, standar lah."

Banyak dari mereka yang akan berpendapat, "ya Allah masa iya selama itu nggak ada progress sama sekali? Ngasilin sesuatu apa gitu kek?"

Dude.

Gue aja bisa tenang seharian full tanpa mikirin tugas udah seneng banget. Gue bisa tenang sejam aja, at least, buat nggak mikirin deadline yang sedikit sialan ini bisa lega banget. Bisa muji diri sendiri yang udah kerja keras di tengah kelas online dan deadline online itu udah suatu achievement tersendiri buat gue. 

Quarantine is about take a rest? 

Dude, are you kidding me?

Gue ngerasa karantina bisa bikin gue makin 'gila' dari aktivitas sehari-hari sebelum adanya pandemi ini. Dituntut untuk produktif, tetep belajar, nggak ada istirahat karena kata dosen gue, "kamu tuh kuliah online, bukan libur, jadi semuanya tetep berjalan seperti biasa."

Serem.

Gue dituntut untuk mengumpulkan tugas yang sama sekali nggak gue pahamin apa maksud materi yang dibahas. Merasa jadi orang paling nggak realistis di dunia karena mempelajari sesuatu pake bayang-bayang, "gimana-gimana lo harus paham."

Otak gue kayak mau meledak baru selesai satu deadline dan hari berikutnya gue udah dikasih deadline baru. Dan parahnya gue bener-bener nggak ngerti apa yang di mauin sama tugas gue.

Poor you.

Jurusan gue Teknik Elektro dan di semester 2 ini most of mata kuliahnya itu praktek. Sekitar 85% perkuliahan diisi sama praktek. 

Bisa bayangin?

Gue harus berkenalan dengan software-software pengganti praktek dan sebagaimanapun gue berusaha memahami, still, it's really hard.

Sedihnya adalah ketika dosen-dosen nggak mau tau dengan itu, pokoknya udah dikasih modul, praktekkin, tulis laporan, and then submit

Lucu.

Gue suka salut juga dengan mereka yang nggak mengaduh sama sekali dengan keadaan karena their brain akan dengan mudah mengenali itu. Soalnya, mereka udah ngerti sama konsep jurusan ini akan mengarah kemana.

Walaupun ada juga beberapa dosen yang nggak membebankan apa-apa ke mahasiswa dan gue bener-bener salut dengan betapa pengertiannya beliau. 

Iya, gue paham gue nggak lagi liburan. 

Tapi, gue juga paham kalau harusnya yang dimaksud kuliah online itu ya.... belajar online, jangan deadline nya yang ditambah terus dengan alibi bikin mahasiswa pinter dengan belajar sendiri.

Nggak semua orang terlahir dengan otak pinter.

Nggak semua orang terlahir dengan kecerdasan yang sama.

Dan harusnya itu bisa jadi konsep berpikir yang lebih realistis.

Gue tau niatnya baik, tapi jujur, gue merasa tertekan. Tidur gue nggak ada tenang-tenangnya sama sekali. Mau tidur gue kepikiran, "ya Allah tugas gue yang ini, yang itu, yang ini itu, yang itu ini, belom kelar, kapan ya deadline. Gue besok ngerjain yang mana dulu ya?", bangun tidur pun gue harus terdiam dulu untuk memulai hari dengan setumpuk deadline yang seakan bilang saling bersahutan, "KAPAN NIH LO KERJAIN?" 

Gue juga sedikit terganggu dengan orang-orang yang dengan gampangnya bilang, "tugas tuh dikerjain, jangan dikeluhin doang. Nggak bakal selesai kalo lo cuma diem doang."

Rasanya gue pengen bilang, "sini, sini. Sini coba lo jadi gue, kerjain tugas yang nggak lo mengerti sama sekali apa maksudnya, walaupun udah dijelasin berulang kali, sini lo coba rasain!"

Gue juga nggak minta dimengerti karena lagi-lagi, "people see your results, not your struggle to get that achievement."

Hebat.

Hebat banget dunia tempat gue berpijak sekarang.

Gue nggak bisa diajakin multitasking, disebelah kiri gue ngerjain tugas A, disebelah kanan gue sambi ngerjain tugas B, didepan gue ada tugas C, dan tangan gue sambil memegang sendok which is gue sambil makan, terus telinga gue disumpal headset yang memutar video online yang tersambung dengan handphone, ngebahas tentang materi baru yang harus gue pelajarin.

Dude, gue nggak mau mati muda gara-gara stress nggak tidur ya.

Gue masih ingin melakukan banyak hal yang gue sukai. Tapi, ternyata, dunia ingin gue melakukan hal yang nggak gue sukai dan itu setiap hari. Setiap jam, menit, detik, gue disuruh (re: dipaksa) melakukan hal yang gue ingin untuk dilakukan pelan-pelan aja.

Kayak gue pengen banget teriak, "gue pasti selesai kok, gue pasti bisa nyelesain ini, tapi please jangan paksa gue kayak apa yang lo mau. Bisa nggak sih?"

Intinya, gue nggak setuju dengan konsep multitasking.

Gue nggak setuju dengan konsep karantina bukan istirahat tapi tetep kerja, cuma bedanya lo kerja dirumah. Iya, boleh, emang konsepnya kayak gitu. Tapi, bukan berarti bobot bekerja dirumah dengan lo kerja di tempatnya juga disamain, karena beda bro. Lagi-lagi, manusia itu nggak bisa hidup tanpa manusia lain.

Dan ketika di rumah aja, kadang juga nggak membantu segalanya menjadi membaik, justru ritmenya harus lebih diperlambat, karena kapasitas orang untuk menyerap sesuatu juga beda-beda, jadi...

Jadi, jangan paksa orang lain sesuai apa yang lo mau.

Jangan egois,

Jangan ngerasa sok paling menderita dan nyeramahin orang lain.

Tapi satu hal sih, jangan juga jadikan bertumpuk-tumpuk deadline itu jadi ajang lo jauh dari Tuhan. Justru ini saat yang tepat untuk lo curhat lama-lama ke Allah, minta bantuan sebanyak-banyaknya, dan kalo bisa kirim banyak doa buat dosen lo biar nggak banyak-banyak kasih tugas. 

Jangan juga jadikan ini jadi ajang untuk nggak bersyukur.

Still, semua terjadi itu ada alesannya, ada asbabun nuzulnya, yang pasti alasannya itu baik buat kita.

Lucu nggak?

Gue abis mengaduh abis-abisan soal quarantine tapi ujung-ujungnya gue juga akhirnya.... yaudah lah, ada Allah, kenapa gua bingung?

Ya kan?

Selama ada Allah di sekitar kita, gue yakin semua akan tetap baik-baik saja.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan segala penderitaan, kesulitan, kesusahan, yang kita alami juga akan berakhir.

Aamiin.

Selamat berpuasa dan beribadah semuanya!

Semoga selalu lancar dan penuh berkah!

Komentar

Postingan Populer