Udah setahun ternyata.
Setahun lalu, di tanggal yang sama, 30 April, tapi di tahun yang berbeda dengan sekarang.
2019.
Saya udah pernah bilang kan kalau 2019 adalah tahun terberat buat saya?
Tapi dari seluruh hari yang ada di tahun 2019, saya menandai tanggal ini.
30 April 2019.
Kenangannya masih terasa nyata, karena saat itu, kami di wisuda.
Kami dipaksa untuk menyudahi segala perjuangan selama masa-masa madrasah aliyah. Padahal saat itu saya masih serakah, dan meminta lebih lama lagi berada di bangku SMA.
Sayangnya, waktu akan tetap jadi waktu yang nggak akan bisa mundur atau diputar kembali.
Bagus.
Saya mulai merasa serakah lagi, justru ingin kembali mengulang semua kenangan disana.
Nggak peduli sepahit apapun kenangan itu saya hanya.... ingin.... Nggak apa-apa walaupun perihnya akan tetap sama, tapi setidaknya saya masih ingin mengulanginya.
Perjuangan saat pulang kerumah di musim hujan, saya harus menunggu hujan sedikit reda untuk kemudian berjalan mencari angkot yang akan membawa saya pulang ke rumah, nggak apa-apa. Tidak apa-apa, karena kenangan itu salah satu yang paling membekas dalam benak saya. Saya bersama Shelby, teman angkot saya ketika kelas 10 sampai kelas 11, harus menembus banjir setinggi lutut karena kita nggak tau kalo di gang itu ada banjir. Dan kami justru berjalan sambil tertawa, karena apa? Karena walaupun kelihatannya menyedihkan justru itu yang paling dirindukan. Saat sudah di angkot kita harus merasakan kedinginan hingga sampai di rumah baju itu sudah kering, saking jauhnya perjalanan yang harus ditempuh.
Perjuangan mengejar pelajaran yang tertinggal hampir tiga bulan, karena dalam waktu itu saya terus menerus dispen izin keluar kelas. Ada saja yang saya kerjakan. Padahal saat itu saya udah berada di semester 2 kelas 11, artinya tinggal sedikit langkah saya menuju kelas 12. Mungkin kalau dihitung selama semester satu hingga dua di kelas 11 saya hanya berada 3 bulan dikelas, itupun juga masih ada beberapa hari yang saya harus meninggalkan kelas di jam-jam tertentu. Lalu, pulang ketika bel sekolah dibunyikan oleh pak satpam, tanda semua aktivitas harus dihentikan karena kegiatan anak-anak ma'had akan dimulai. Jam 5 sore dan saya akan sampai dirumah malam hari. Saya nggak apa-apa, karena? Karena saya suka.
Hal seberat apapun, yang dijalani karena emang suka, rasanya nggak apa-apa diulang terus menerus.
Lebih baik berat tapi memang suka, daripada berat tapi dipaksakan.
Lalu perjuangan saya ketika kelas 12. Saya mulai sibuk bimbel dan pulang jam 9 malam. Belum lagi kalau saya harus tambahan di tempat bimbel. Sebelumnya pun ketika semester 1 saya masih betah untuk les privat, tapi makin lama saya merasa saya bisa gila kalau terus menerus belajar sendirian. Akhirnya di semester 2 saya memutuskan untuk bimbel di salah satu lembaga bimbingan belajar yang ada di jalan Bandung. Bersama beberapa teman saya di kelas, yang pastinya. Saya juga merasa baik-baik saja walaupun mengaduh adalah aktivitas saya sehari-hari tapi saya tetap menjalaninya, karena memang saya merasa akan baik-baik saja. Karena, itu menyangkut masa depan saya.
Banyak ujian yang dilalui ketika kelas 12, dan saya bersekolah di madrasah aliyah. Pelajaran yang lebih banyak daripada anak sekolah negeri, ujian yang lebih banyak, dan dan dan peraturan yang lebih ketat. Try out jadi makanan sehari-hari, lalu mendadak semua pelajaran hanya berisi mata ujian nasional. Dan sebelum itu ada ujian akhir madrasah, which means, hanya berisi mata pelajaran agama lalu seminggu penuh kita hanya belajar mata ujian yang berkaitan dengan fiqih, sejarah islam, dan qur'an hadist. Kenyang.
Setelah itu siklusnya hanya berisi untuk ujian madrasah dan ujian nasional.
Ujian, ujian, dan ujian.
Kalau dipikir-pikir, hebat juga saya bisa melewati itu semua sampai selesai. Sampai benar-benar selesai.
Tapi, justru semua keribetan itu yang saya rindukan.
Dan itu udah lebih dari setahun yang lalu.
Mana pernah saya berpikir saat wisuda, "oh tahun depan gue udah jadi anak teknik, lagi ada pandemi Covid-19, dan gue kuliah online".
Dude, mana kepikiran.
Dan ternyata hari ini saya justru menertawai itu, karena di tanggal yang sama tapi tahun yang berbeda saya justru sedang duduk memerhatikan kuliah online tentang saluran transmisi yang rasanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, ditengah pandemi yang ada.
Semua orang dirumah dengan kesibukannya masing-masing.
Semesta dan seisinya emang selalu misterius.
Dan kasih jawaban dari pertanyaan yang diberi emang selalu di luar ekspektasi.
Ugh, tulisan apa ini sebenernya.
Mungkin, menyampaikan betapa rindunya gue dengan seneng-senengnya hidup.
Dah gitu aja.
Hahahahahaha yang masih SMA nikmatiiiinnn!!!
Pengen nanges huhu kangen galaxi :"
BalasHapusKangen banget ...
BalasHapusSetelah perpisahan terbitlah kerinduan memang benar adanya ya