Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Tulisan Jelang Ramadan




Alhamdulillahirabbil'alamin.

Sebelumnya, saya mau ngucapin beribu syukur dulu masih diberi kesempatan untuk bisa kembali bertemu dengan Ramadan tahun ini, tahun 2020, 1441 tahun Hijriah.

Ada yang mau ikutan bersyukur bareng saya?

Semoga masih diberi kesempatan untuk terus menerus mengucapkan, "Alhamdulillah", setiap harinya dalam kondisi bagaimanapun. Aamiin.

Kalian gimana kabarnya?

Masih baik dan sehat-sehat kan? Semoga masih.

Jelang Ramadan, banyak hal yang hadir dalam hidup saya. Banyak perubahan baru yang saya rasakan pada diri saya. Banyak kekosongan yang dulunya tidak terisi kini saya sudah menemukan obatnya.

Kaget? Oh ya jelas.

Sekali lagi, maha besar Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. 

Allah SWT nggak pernah ingkar janji, nggak pernah pergi, selalu ada, selalu mendengar dan maha betah mendengar. Kalau kata Ustadz Hanan Attaki, beliau bilang Allah SWT punya sifat Maha Mendengar, tapi artiannya luas, nggak cuma ngedenger, tapi Dia juga betah mendengar. Sepanjang apapun curhatan kita disetiap doa, sepelik apa cara kita bercerita, sebagaimana rumitnya bahasa yang kita sampaikan, Allah SWT Dzat Maha Mendengar, selalu ada, dan selalu memberikan ketenangan atas semua hal yang kita sampaikan. 

Gue adalah tipe orang yang gampang ngeluh dan gue yakin dengan mengeluh beban gue bakal meringan. Gue juga tipe orang yang gampang nangis dan gue yakin dengan menangis beban gue juga bakal berkurang. Tapi nyatanya, semuanya tetep terasa berat buat gue. Even gue udah berusaha distraksi pikiran dengan terus bilang, "gapapa, semua bakal baik-baik aja", it's never been more better

Lalu akhirnya gue tau arti kalimat yang selalu Abi ucapkan setiap gue nangis sehabis sholat atas semua hal yang gue alami. Pernah waktu itu, gue balik kuliah dan rasanya badan gue capeeeeeeek banget, huruf E dibanyakin mewakili selelah apa gue saat itu. Gue lelah dan perasaan gue campur aduk banget kayak hidup gue sampe situ aja, gue udah putus asa dan nggak ngerti harus gimana.

Sampai dirumah, nggak ada seorang pun yang membukakan pintu seperti biasanya. Jam 6 malam saat itu, dan gue tau itu adalah jam saat Hossam, adek gue, waktunya murojaah hafalan Qur'annya. Harusnya gue ngerasa biasa aja saat nggak ada yang menyambut gue, tapi justru gue semakin marah dan perasaan gue makin nggak aturan. Masuk rumah, gue salam, naroh kunci motor, dan wajah gue udah ketekuk banget kek kertas lecak. Gue salim ke Abi dan Ummi yang saat itu menyimak hafalan adek gue, lalu naik begitu aja ke kamar atas. Gue nggak ada cerita apapun ke beliau berdua.

Diatas gue cuma bisa ngehela napas panjaaaaaang banget.

Kakak udah sibuk lagi sama skripsinya saat itu. Dan gue cuma salim lalu turun kembali buat ambil air wudhu. Gue harus sholat, gue harus curhat, gue harus menumpahkan uneg-uneg dalam dada gue.

Abi dan Ummi cuma bisa diam ngelihat gue yang juga cuma diem aja saat itu. Beliau ngira gue kecewa karena nggak ada yang menyambut gue tadi, tapi justru bukan itu yang bikin emosi gue berantakan. 

Saat terberat banget.

Gue sholat, ketika takbiratul ihram semua emosi gue tumpah. Gue nangis, senangis-nangisnya manusia. Selesai sholat gue mulai menyampaikan apa yang gue rasakan kepada Dzat Yang Maha Mendengar. Gue mengaduh, mengeluh, menyalahkan semua yang terjadi di hidup gue.

Kakak curiga kenapa gue berdoa bisa selama itu, dan akhirnya doi turun ke bawah. Dari bawah Ummi berkali-kali teriak menyuruh gue buat makan. Kakak yang menjawab kalo gue masih sholat. Lalu ketika Kakak turun dan bilang ke Ummi Abi, kalo gue lagi nangis.

Beliau berdua naik keatas.

Bukan Ummi lagi yang menjadi penenang gue pertama kali, ketika biasanya beliau yang selalu pertama memeluk gue. Kali ini Abi, memeluk gue, menanyakan apa yang lagi terjadi.

Lo semua tau kan, ketika nangis dan orang yang paling kita sayangi nanyain apa penyebabnya disitu tangis gue makin nggak kekontrol. 

"Jangan main rahasia sama Abi, nggak baik."

Disitulah gue menyampaikan semua hal yang gue rasakan, gue menangis, merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Merasa jadi orang paling nggak beruntung di dunia. 

Abi memeluk erat, menepuk-nepuk punggung gue menguatkan, beribu kali mengucap, "istighfar".

Dan ketika gue udah tenang, beliau mengatakan, "jangan mendikte Allah, jangan pernah ngerasa kalo Allah ndak tau yang terbaik untuk Kak Zya. Jangan mendikte Allah seakan-akan kita yang paling tau yang terbaik untuk kita. Punya cita-cita dikejar, jangan ditangisi dulu.".

Berulang kali Abi mengucap, "jangan mendikte Allah, jangan mendikte Allah, jangan mendikte Allah."

Begitulah.

Disitulah.

Dan disinilah.

Gue menjadi yakin. 

Yakin, kalo Allah SWT bukan tidak mendengar dan tidak mengabulkan doa gue. Allah SWT hanya ingin gue terus berdoa dan terus menceritakan apa yang gue rasakan. Dia hanya ingin gue terus mendekat kepada-Nya, dan disaat kita merasa banyak ujian yang kita alami, disitu yakinlah Allah SWT hanya menyampaikan pesannya, "hambaku, aku rindu sujudmu, aku rindu curahan hatimu, aku rindu dzikirmu, aku rindu al-maatsuratmu, aku rindu hafalanmu, aku rindu doa kerasmu di sepertiga malam". 

Disitu gue yakin. 

Semakin yakin. 

Gue bukan seseorang yang sangat agamis sehingga berani mengutarakan hal-hal yang menyangkut religi seperti ini.

Gue hanya ingin dalam tulisan kali ini menyampaikan kepada kalian, siapapun yang membaca ini, bahwa kalian nggak sendirian.

Kalian punya Allah SWT.

Kalian punya Allah SWT.

Kalian nggak akan dan nggak pernah sendirian.

Allah SWT nggak akan pernah ninggalin kalian.

"Alah, mana nih gue nggak ngerasa impact apa-apa setelah berdoa semalam suntuk?"

Belum.

Belum.

Segala hal baik harus melalui naik turun sebelum nantinya akan menemui, "ah jadi ini".

Sabar, Allah SWT tidak akan pernah ingkar janji.

Selamat menunaikan Ibadah Ramadan. Semoga semuanya senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan.

Jangan suudzon dengan hal atau kesusahan apapun yang lagi lo rasain. Karena sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.

Cheer up, dear!






Jadi, sebenernya poin lo nulis ini apa, Za?

Mau pamer ibadah?

Mau dipuji udah alim banget?

Atau gimana....?



"Hehe, yaaa nggak gimana-gimana. Gue hanya ingin menyampaikan kalo Allah SWT itu ada dan sangat dekat. Dah, gitu aja, hehe...."


Komentar

Postingan Populer