Ngomongin soal ini, dari headline kayaknya nggak bisa ditebak gue mau menggiring topik ini ke arah mana.
Tapi ini adalah hal yang mengganggu gue beberapa waktu belakangan.
Menjadi seorang Muslim adalah suatu kebanggaan bagi diri gue. Memakai hijab, dikenal sebagai muslimah adalah hal yang membuat gue bangga. Nggak pernah sedikitpun selama gue hidup dan terlahir sebagai Muslim membuat gue merasa menyesal. Has never been at all. Or rather, will never be at all.
Kayak, buat apa gue menyesal terlahir dengan agama ini. Agama yang mengajarkan gue banyak hal mengenai cara hidup dengan benar dalam sehari-harinya. Sekolah dari TK sampai SMA dengan background agamanya yang kuat membuat gue sedikit banyak mengerti tuntunan yang dimau agama gue. Dan tentu berada ditengah keluarga yang sangat mengedepankan nilai agama juga membuat gue terbiasa dengan ini semua.
Bukan gue yang sok islami. Sok alim. Sok paling mengerti agama.
Nggak. Sama. Sekali.
Karena gue nggak mau di cap sebagai seseorang yang 'islami banget' hanya karena apa yang mereka liat.
Biarlah keislaman itu buat diri gue sendiri dan Allah SWT. Karena ya buat apa gue terlalu menunjukkan betapa alimnya gue padahal pengetahuan gue soal agama masih minim. Masih sama-sama belajar. The way temen-temen gue bilang kalo gue alim banget, atau kelihatannya gue memang sangat paham dan mengerti soal agama, apalagi yang mereka lihat dari bagaimana cara orang tua gue mendidik soal agama. Beliau berdua sangat keras memang soal agama, tapi biarlah itu menjadi cara masing-masing orang memahamkan diri dengan persoalan agama. Gue udah terbiasa dengan itu jadi overall nggak ada yang jadi beban buat gue.
Tapi belakangan gue mulai risih kalo banyak orang mengaitkan cara pandang gue soal Islam or make it clear soal agama, dengan cara pandang gue soal pilihan gue nantinya. Wah, panjang urusan kalo gue bahas semuanya disini. Gue nggak pernah se blak-blakan ini dalam menulis tapi biarlah, biarlah ini menjadi branding yang bisa orang lain label-kan pada gue terlepas dari berbagai macam ke soktauan mereka.
Mungkin, at some point gue sering memang nggak sengaja mengucapkan sesuatu atau melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain menganggap gue alim banget. Misalnya, ketika gue bales chat temen-temen di jam 3 pagi which means itu adalah saat dimana gue terbangun dan jam segitu ngapain lah kira-kira gue bangun. Dari situ wah makin banyak orang yang makin makin makin melabeli gue sebagai sosok islami dan religius karena rajin tahajjud, misalnya. Sebenernya, nggak ada maksud apapun dari gue melakukan itu, nggak sama sekali ingin disanjung setinggi langit karena rajin ibadah mungkin padahal sunnah gue masih bolong-bolong juga cuma mungkin orang lain nggak melihat itu, dan malah mengecap gue sebagai sosok religius tadi. Atau ketika gue heboh mengajak semua orang buat sholat, mengutamakan sholat, mengutamakan waktu ibadah sebelum kembali melanjutkan aktivitas. Hanya karena gue ngerasa nggak tenang aja dalam hati gue ketika gue masih asik meneruskan aktivitas padahal waktu sholatnya hampir habis.
Okay, salah.
Mungkin setelah ini makin banyak yang melabeli gue alim banget.
Buset gini banget.
Bukannya gue nggak mau. Tapi dude, dude, gue nggak mau aja.
Karena ketika nanti gue melakukan kesalahan dikiiiit aja pasti orang lain bakal mengaitkan itu dengan orientasi gue soal agama.
Mengaitkan hal itu dengan apa yang mereka labelkan pada gue dan menyalahkan keislaman gue lalu nantinya timbul banyak omongan nggak bener. Padahal sama sekali gue nggak ingin di cap dengan label alim, islami banget, atau bahkan pendakwah.
Biarlah gue menjadi gue.
Gue dengan agama gue.
Gue dengan keislaman gue.
Dan gue dengan tanggung jawab gue pada Allah SWT.
Karena sampai sekarang, gue masih belum banyak ilmu tentang agama. Masih banyak hal yang harus gue pelajari. 12 tahun belajar dengan background agama yang cukup kuat, lalu ketika kuliah gue masuk di instansi dengan background negeri cukup membuat gue kaget.
Tapi ya sudahlah, karena tadi. Karena ya itu tadi.
Gue tidak, masih belum.
Komentar
Posting Komentar