Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Pelangi




"Terima kasih telah menciptakan pelangi, disaat semua hal yang saya lihat adalah hujan." 
-Akanksha Gulia.

Terima kasih Akanksha Gulia telah membuat saya bisa melahirkan sejuta pemikiran baru yang tidak hanya bertahan pada pikiran, tapi berhasil saya torehkan disini.

Jujur, disaat orang lain mengalamatkan saya sebagai "si penulis" atau "si blogger" tidak pernah terpikirkan dalam benak saya akan mendapat branding diri sendiri yang seperti itu.

Karena saya hanyalah ingin menjadi saya yang seperti ini saja. 

Dengan karya-karya saya yang cukup menjadi pengenal sebagai sebuah karya "saja", bukan sebagai sebuah karya "Hazara". Karena ketika sebuah karya berubah menjadi sebuah karya "Hazara", karya itu akan kehilangan nyawanya. Dan saya tidak mau begitu. Cukuplah saya dengan karya itu yang nantinya akan dikenal sebagai kita. 

Karena setiap karya yang lahir dari benak saya, itu semua berasal dari saya dan kamu. Iya, kamu.

Yang nantinya akan saya harapkan menjadi "Kita".


***

Kirania.


Aksa pernah bilang pada saya kalau saya adalah dunianya.


Dan saya selalu bilang pada Aksa bahwa dia adalah segalanya saya.


Sekarang sedang hujan, dan Aksa adalah penggemar hujan.


Rasanya saya ingin mengirim pesan pada Aksa bahwa saya sedang kesepian saat ini. Saya sedang sendirian. Harusnya Aksa tau kalau saya benci sendirian, benci dengan kesunyian. Tapi sekarang Aksa tidak datang. Tidak ada tanda-tanda dia akan mengetuk pintu rumah saya, sambil berteriak, "Mbak Kirania Maheswari! Ada paket!!" lalu saya akan berlari kencang membuka pintu rumah.


"Paket apa ya, Mas? Saya nggak pesan apa-apa tuh." Ujar saya ketika pertama kali membuka pintu dan mendapati separuh badannya sudah basah karena hujan. Aksa terbiasa memarkirkan mobilnya di ruko pinggir jalan, dekat gang menuju rumah saya. Berakhir dia harus kehujanan dan sakit keesokan harinya.


"Paketnya minta diantar setiap hujan, Mbak. Paket yang ada setiap Mbak sendirian dan lagi turun hujan seperti sekarang." Jawabnya sambil mulai memeluk tubuhnya sendiri. Saya tau dia paling anti dengan air hujan, sebesar apapun rasa cintanya pada langit yang selalu menangis itu.


"Paketnya berupa apa lebih tepatnya, Mas?" Tanya saya mulai menggoda Aksa yang sudah menghela napas kesal dengan kebiasaan saya yang tidak akan berubah dari hari ke hari.


"Kirania, kamu mau terus membiarkan saya kedinginan seperti ini?"


Saya tertawa, "mau saya peluk?"


"Jangan, kamu tau saya paling nggak bisa lihat kamu sakit."


"Lalu, kamu mau membiarkan saya melihat kamu sakit? Nggak adil."


"Lalu, kamu mau membiarkan kita sama-sama sakit?"


Dan kami berakhir tertawa bersama dengan percakapan yang tetap sama, siklus dan suasana yang sama, semua hal yang tetap sama, tapi tidak pernah membosankan.


Saya merindukan kamu, Aksa.


Saya merindukan semua hal tentang kamu.


Merindukan bagaimana kamu selalu mendengarkan semua cerita saya.


Bagaimana kamu selalu membiarkan saya memandang kamu selama apapun yang saya mau. Mengingat setiap detil wajah rupawan milik kamu. Yang sekarang sudah tidak bisa saya lihat lagi.


Jika diminta memilih, saya akan memilih Tuhan mengambil pendengaran saya saja saat itu. Karena jika Tuhan mengambil pendengaran saya, mungkin Aksa masih bersedia menemani saya hingga saat ini.


Saya benci bagaimana dengan mudahnya orang lain menjanjikan soal hari esok ketika saya masih belum memikirkan harapan apa yang akan saya buat besok. Sejak saya tidak bisa lagi melihat apa yang ada didepan saya, disitulah saya membiarkan harapan saya menggantung menjadi jika setiap harinya. Membiarkan harapan saya menggantung menjadi angan yang tak kunjung menemukan jawabannya.


"Nggak apa-apa ketika kamu nggak lagi bisa melihat saya, memandang saya sepuas kamu. Karena saya percaya 5 tahun yang sudah kita lewati, bisa membayar semua kerinduan kamu terhadap saya. Jangan memikirkan apa yang akan kamu lalui besok, karena saya akan terus membersamai kamu untuk memikirkan setiap harapan yang kamu punya."


Itulah alasan saya percaya bahwa menunggunya, menunggu Aksa adalah harapan yang akan saya buat setiap harinya. Walaupun saya tidak tau apakah hari ini sudah menginjak hari esok, karena harapan saya akan tetap sama.


Harapan untuk melihat Aksa, segalanya saya.


***

Aksa.


Saya pernah mengatakan sebesar apa rasa senang saya setiap kali melihat hujan.


Saya juga sering membiarkan orang lain melihat sebesar apa rasa sayang saya kepada dia.


Kirania Maheswari.


Kirania adalah dunia saya. Dan mencintai seseorang tidak pernah terasa sebegini beratnya bagi saya. 


Berat melihat seseorang yang saya sayangi harus menderita karena tidak bisa melihat hal apa yang menjadi kesukaannya.


Dia bilang, "saya suka melihat kamu. Melihat mata, alis, hidung, bibir, dan bagaimana kamu tersenyum. Saya suka. Jadi jangan pernah tanyakan apa yang menjadi kesukaan saya. Karena semua hal yang ada pada Aksa adalah kesukaan saya."


Lalu bagaimana tangisnya yang tidak bersuara tapi penuh kepiluan ketika dokter memvonisnya tidak lagi bisa melihat, menikmati apa yang menjadi kesukaannya. Dan bagaimana dia tersenyum, menghapus tangisnya, "saya nggak apa-apa. Saya masih bisa mengingat bagaimana detil wajah kamu, kok! Jangan sedih ya?"


Tidak adil bagaimana dia bisa setegar itu menguatkan saya, ketika seorang Kirania Maheswari justru butuh dikuatkan. Dan saya tidak ada disana, hingga sekarang.


Berat bagi saya.


Harus terus menyalahkan diri saya sendiri, menyalahkan ketidakbergunaan diri yang tidak ada saat Kirania, dunia saya, harus kesakitan sendirian.


Membayangkan bagaimana tubuhnya harus terpental beberapa meter disaat sebuah mobil menghantamnya di persimpangan jalan menuju rumah saya. 


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau ini menyakitkan? Kenapa kamu justru tersenyum disaat ada jutaan tangis yang kamu sembunyikan? Kenapa kamu membiarkan saya merasa bodoh?" Tanya saya sore itu, di kursi sepanjang koridor rumah sakit, dan saya duduk dihadapannya yang masih berada diatas kursi roda. 


Sedang turun hujan saat itu. 


Dan hari itu pertama kalinya saya membenci hujan. 


Karena kepiluan dari air mata yang dikeluarkan semesta seakan memberi tahu saya untuk turut menangis akan apa yang terjadi pada Kirania. 


Tangan Kirania mengambang, berusaha menemukan dimana letak wajah saya. Dan ketika saya menyentuh tangannya, mengarahkannya pada wajah saya, dia tersenyum. "segalanya saya, kamu itu segalanya saya. Tuhan masih baik hanya membiarkan penglihatan saya menghilang, bagaimana jika ingatan saya yang pergi? Saya melihat kamu, tapi saya tidak mengingat secuil memori apapun tentang kamu. Meskipun saat ini hanya kegelapan yang bisa saya lihat, tapi masih ada telinga yang bisa mendengar suara kamu, memori yang masih bisa mengingat setiap detil wajah kamu, saya akan baik-baik saja."


Pertama kalinya dalam hidup, saya menangis dengan suara yang terdengar menyedihkan dan Kirania yang memeluk saya. Menguatkan saya, membisikkan ribuan kalimat, "saya akan baik-baik saja, Aksa."


"Terima kasih Kirania karena kamu telah menciptakan pelangi untuk saya, ketika selama ini hanya hujan yang bisa saya lihat."


Sekarang sedang hujan. Dan saya tidak lagi menikmati hujan yang turun dengan meminum segelas cokelat sambil duduk didepan meja belajar yang menghadap jendela. Atau mungkin sedang berada diruang tamu sederhana milik gadis yang hingga kini masih saya alamatkan sebagai dunia saya.


Saya tau dia benci sendirian, kesunyian. Dan hujan menjadi alasan kenapa dia selalu meminta saya datang. 


Tapi kini, saya tidak lagi bisa menerima pesan yang dia kirim, hanya karena saya selalu mengatakan, "kamu nggak perlu memanggil saya, karena saya akan selalu datang, kapanpun." 


Saya tidak pernah takut sakit, ketika Kirania selalu bersedia menjadi obat penyembuh hanya dengan menemani saya semalaman penuh dengan dia yang tertidur di ujung kasur. 


Saya tidak pernah takut sakit, ketika Kirania selalu bersedia menerima sakit saya karena dia menganggap hanya sakit yang bisa membuat seorang Aksa Delana mau untuk beristirahat.


Saya tidak pernah takut sakit, hanya karena Kirania. 


Tapi dunia saya, sedang sakit saat ini. Dan saya justru seperti orang bodoh yang tak henti menyalahkan diri sendiri. Dunia saya sedang tidak bisa memeluk dan merawat saya, karena dia sedang butuh seseorang untuk memeluknya, dengan segala luka yang dia miliki.


Mungkin itu.


Yang menjadi alasan saya berdiri disini.


Didepan rumah yang pintunya terbuka lebar, berdiri banyak orang yang berkerumun, ramai sekali. Karena yang saya tau selama ini, Kirania benci mengundang banyak orang kerumahnya. Karena dia benci keramaian, walaupun dia juga benci kesunyian.


Saya berjalan mendekat ketika sebuah police line telah menutupi sebuah kamar yang pintunya juga terbuka. Saya masih bisa menemukan sebuah sandal rumah milik Kirania ada didepan kamar itu, kamar Kirania.


"Mas, jangan deket-deket. Tadi sama polisinya cuma boleh sampe sini aja." Seorang bapak-bapak memegang lengan saya ketika saya akan masuk ke dalam kamar Kirania. 


"Saya..... pacarnya Kirania." Hanya itu penjelasan yang bisa saya berikan kepada beliau ketika semua orang yang ada disana mendadak memandang saya dengan iba.


"Yang sabar ya, Mas."


Tidak ada penjelasan lain yang saya dapat. Yang saya tau hanya banyak polisi masuk lalu mendorong kami semua untuk keluar. 


"Pak, sebentar. Saya..... saya..... ini sebenarnya ada apa?" 


"Mas siapa? Keluarga atau temannya?"


"Saya..... teman..... saya pacarnya."


"Saudari Kirania ditemukan meninggal sekitar pukul 3 tadi karena...... bunuh diri."


Saya tidak bisa menemukan aktivitas dan pergerakan apapun disekitar saya. Semua seakan berhenti dan semua memori yang ada dalam otak saya mendadak menguar seperti film yang terputar. Lalu tangan saya mendadak sudah memegang sebuah ipod yang selama ini menemani pagi, siang, sore, serta malam seorang Kirania Maheswari. Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan. Saya tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Saya hanya merasa kaki saya lemas ketika melihat sebuah tubuh mungil yang sudah ditutupi kain putih diangkat untuk dibawa ke rumah sakit. 


Siapa itu?


Apakah semua yang dikatakan polisi benar?


Kirania Maheswari, dunia saya.


Dia pergi. 


***


Ehem.

Halo, Aksa, segalanya saya. 

Hah, akhirnya saya bisa menemukan ini. Setelah tadi saya harus mengobrak-abrik meja belajar saya untuk mencari benda ini. Hehe.

Suara saya semoga masih bisa kamu kenali walaupun mungkin tidak lagi sama seperti dulu.

Bicara soal dulu, sudah berapa lama saya menunggu kamu? Hingga saya bisa mengatakan pertemuan kita sebagai persoalan yang sudah 'dulu'. Lama sekali ya?

Atau bahkan hanya sehari tapi saya yang sangat merindukan kamu sehingga menganggap itu sebagai 1000 tahun lamanya?

Aksa, orang bilang menunggu itu melelahkan. 

Seperti saya yang selalu menunggu Papa dan Mama dengan ditemani kamu, dan ketika mereka sudah pergi, tidak ada jalan untuk kembali, saya sudah tidak pernah menunggu lagi. Karena kamu masih tetap disitu.

Sekarang ketika waktu mengizinkan saya untuk merasakan bagaimana menunggu kamu, ternyata saya merasa kepayahan dan kelelahan. 

Ternyata memang benar. Kalau menunggu itu lelah, sangat lelah.

Saya sempat berpikir bagaimana kalau Tuhan mengambil pendengaran saya tapi tidak dengan penglihatan saya? Mungkin, kamu tidak akan membiarkan saya menunggu seperti sekarang.

Tidak. Saya nggak menyalahkan kamu sama sekali. Mungkin fase hidup saya sekarang adalah untuk menunggu kamu.

Saya menunggu sambil terus mengingat bagaimana detil wajah kamu, karena ketika nantinya kamu datang saya masih bisa tersenyum sambil membayangkan kamu sedang tersenyum kepada saya.

Itu saja.

Terus ingat saya sebagai seseorang yang pernah datang dalam hidup kamu, Aksa.

Karena kamu adalah segalanya saya.

Dan semoga saya masih tetap dunia kamu.

Terakhir, saya akan mengucapkan kalimat favorit yang selalu kamu ucapkan.

"Terima kasih Aksa karena kamu telah menciptakan pelangi untuk saya, ketika semua hal yang saya lihat adalah...... kegelapan."

Saya mencintai kamu dengan segala hal yang saya punya.

Dan satu hal yang perlu kamu tau, bahwa saya tidak pernah menyesal telah mencintai kamu.

Saya tidak akan pernah menyesal.


***

Kirania Maheswari
dalam kenangan.

"Terima kasih, Kirania. Telah hadir sebagai sesuatu paling luar biasa dalam hidup saya."

***


-Selesai-

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer