-Akanksha Gulia.
Lagi-lagi nama itu. Yang selalu bisa menginspirasi, memberi gue sejuta pemikiran untuk bisa menciptakan suatu cerita baru. Big thanks to Akansha Gulia, karena dia, gue bisa melahirkan banyak karya, berkaitan dengan semua kalimat indah penuh makna darinya.
Banyak orang nggak percaya sama sekali dengan yang namanya takdir dan cinta.
Katanya, cinta nggak melulu hadir karena adanya takdir. Dan saya tertawa. Tertawa paling keras. Karena lucunya, hingga detik ini saya selalu ada dalam tautan takdir yang diberikan Tuhan berkaitan dengan makhluk yang dinamai perempuan.
Awalnya, saya tidak terlalu percaya dengan cinta pada pandangan pertama.
Karena ya bagaimana?
Bagaimana bisa kita jatuh cinta kepada seseorang yang baru kita temui pertama kali? Tepat ketika tangan kami saling bertaut dan mata kami bertemu lalu saya berhasil mendengar suara merdu menyapa pendengaran saya dengan kalimat, "Kenalkan, saya Cantara Eshal, penulis karya 'Nama'. Kamu..... Fatih, bukan?"
Saya terdiam untuk beberapa detik pertama setelah dia memperkenalkan dirinya.
Lalu disitulah, saya percaya bahwa
love at the first sight itu memang ada.
"Perkenalkan, saya Fatih Hazwan, kamu bisa panggil saya Fatih. Dan dalam
project kali ini, saya yang akan membuat ilustrasi dari karya 'Nama' milik kamu."
Dia tersenyum sangat ramah, memunculkan lesung pipi yang begitu dalam. Menambah kecantikan alami yang ada dalam parasnya. Cantik alami wanita Indonesia yang entah kenapa berhasil mencuri perhatian saya saat pertemuan pertama kami kala itu.
"Mohon kerja samanya ya Fatih. Saya suka bawel masalah ilustrasi."
"Karya kamu bagus. Dan saya sangat tertarik menciptakan visualisasi dan ilustrasi setiap bagiannya."
Cantara menunduk dalam dan tersenyum untuk kesekian kalinya hari itu.
"Sampai bertemu lagi di rapat selanjutnya."
Lalu dia masuk kedalam
city car berwarna putih dan mulai melajukannya.
Sebelum itu, saya masih diizinkan mendengar suara merdunya mengucap salam, "Assalamuailaikum, Fatih."
Hingga kami dipertemukan kembali untuk membicarakan bagian pertama yang akan mulai saya garap ilustrasi serta visualisasi setiap tokohnya. Bagaimana cara dia mendiskripsikan setiap tokoh yang ada dalam karya 'Nama', bagaimana dia menjelaskan suasana yang ada dalam bagian itu, dan bagaimana binar matanya menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi karya ketiganya ini.
"Kenapa kamu memutuskan untuk membuat ilustrasi serta mulai menjelaskan visualisasi karya 'Nama' ini, Ra?" Tanya saya sore itu. Penasaran dengan motivasi Cantara menjadikan karyanya dalam bentuk gambar.
Dia terdiam cukup lama. Wajahnya terlihat sangat serius memikirkan jawaban paling tepat untuk pertanyaan saya. Lalu kemudian Cantara tersenyum dan menatap saya.
"Saya ingin orang lain tau kalau Azada dan Nayara itu ada. Mereka segalanya saya, yang menemani paruh tahun saya, pagi, siang, sore, dan malam. Memberi saya jutaan kisah yang bisa saya torehkan dalam 'Nama'. Lantas membuat saya ingin para pembaca nggak hanya membayangkan itu semua, tapi juga bisa bertemu dengan mereka lewat ilustrasi serta visualisasi yang nantinya akan kamu wujudkan." Terangnya panjang dengan terus tersenyum, seakan tidak ada hal lain yang bisa membuat Cantara bahagia selain karena karya 'Nama'.
"Karya paling berkesan sepertinya?" Tembak saya langsung. Seperti ada hal paling berkesan yang membuat Cantara sebegini tulus dengan karyanya.
Lima tahun menjadi ilustrator lantas bisa membuat saya mudah menebak karya yang berusaha saya gambarkan. Dari karya 'Nama', saya melihat banyak luka, pedih, tawa, duka, yang membaur menjadi satu. Melihat Cantara menggambarkan kisah ini sebegitu pedihnya hingga di ujung cerita, sang tokoh utama tidak bisa lagi saling bertemu, karena terbatas ruang dan waktu serta tidak lagi bisa menemukan 'Nama' satu sama lain.
Bait terakhir yang berbunyi, "
Azada tidak lagi bisa menemukan Nayara. Dan Nayara gagal mengenali nama Azada dalam tanda pengenalnya. Mereka hanya berakhir di 'Nama' yang tidak lagi dikenal oleh Azada dan Nayara."
"Karya paling menguras emosi saya lebih tepatnya. Nggak ada seharipun saya habiskan sambil tertawa ketika menulis karya ini."
"Kenapa terpikir memberi judul 'Nama'?"
Dia sama sekali tidak merasa tersinggung karena saya banyak bertanya sore itu. Ini tujuan saya untuk bisa membuat ilustrasi terbaik untuk karya Cantara.
"Nama. Bagi saya, 'Nama' itu penjelasan paling simpel ketika kita mengenal orang lain. Kadang dari nama kita bisa mendadak mengenali sifat orang itu. Dan ketika kita nggak tau nama orang yang ingin kita kenal, selamanya kita akan terus sembunyi tanpa berani maju untuk mengutarakan apa yang kita mau. Saya hanya ingin menyampaikan betapa penting 'Nama' didalam diri saya."
Saya kembali kagum. Kembali larut dalam setiap kalimat yang Cantara ucapkan.
"Mulai bagian pertama dengan menggambarkan sosok Azada ya, Fatih. Saya harap semua yang sudah saya tulis mengenai Fatih, ah, mengenai Azada maksud saya, bisa kamu ilustrasikan dengan baik." Lanjutnya ketika saya tidak kunjung memberikan respon.
Sore itu, di pertemuan kedua kami, saya justru mengucapkan respon yang luar biasa bodoh, mengingat kami belum bisa dikatakan sebagai teman, hanya sebagai kenalan yang dipertemukan karena pekerjaan.
"Kamu percaya cinta, Cantara?"
Perempuan ini terlihat terkejut dengan pertanyaan saya yang terkesan sangat jauh dari topik. Namun, dengan cepat Cantara menguasai diri dengan senyuman tipis.
"Kenapa memangnya?" Dia balas melempar pertanyaan.
Karena nasi sudah menjadi bubur, sepertinya saya harus bertanggung jawab atas pertanyaan saya pada Cantara.
"Saya.... hanya ingin tau. Bagaimana kamu menulis karya ini. Bagaimana kamu membuat Azada serta Nayara akhirnya tidak bersama. Bagaimana kamu membuat Azada tidak pernah sama sekali mengakui kalau dirinya sudah jatuh cinta sejak lama pada Nayara. Saya hanya..... ingin tau." Jawab saya dengan ucapan paling masuk akal yang membuat saya tidak sama sekali terlihat grogi.
Cantara kembali tersenyum, entah untuk yang keberapa kalinya.
"Siapa sih yang nggak percaya cinta. Fatih? Kamu nggak percaya?"
"Saya lebih dari percaya dengan cinta, Cantara."
"Lalu? Kenapa kamu bertanya pada saya mengenai percaya tidaknya saya dengan cinta?"
"Saya hanya ingin tau. Supaya saya bisa jatuh cinta bersama dengan orang yang saya inginkan."
"Maksud kamu?"
Detik menggantung menjadi menit. Ketika kami saling terdiam. Mempelajari mimik masing-masing. Mempelajari detail wajah satu sama lain. Dan saya berusaha mengutarakan apa yang saya rasakan.
"Saya nggak ingin menjadi Azada dan Nayara yang akhirnya tidak saling mengenal. Bahkan saling melupakan 'Nama' satu sama lain."
"Ya, lalu? Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan, Fatih?"
"Saya mencintai kamu, Cantara Eshal. Dengan seluruh hal yang saya miliki. Saya tulus mencintai kamu."
***
Untuk Cantara Eshal,
Bagaimana kabar kamu hari ini? Kamu baik-baik saja, kan?
Sudah bertemu bahagia kamu hari ini? Atau bahkan belum sama sekali?
Hari ini saya berhasil menyelesaikan hingga bagian kedua puluh dalam karya 'Nama' milik kamu. Saya berhasil membuat Azada dan Nayara berakhir tidak saling mengenal dalam goresan ilustrasi saya. Berakhir dengan Azada yang mengenal Nayara hanya sebatas 'Kamu' bukan dengan 'Nama' perempuan itu. Dan Nayara yang hanya mengenali Azada sebagai 'Dia' bukan dengan 'Nama' laki-laki itu.
Ternyata kisah saya juga berakhir seperti Azada dan Nayara dalam 'Nama'.
Di pertemuan kedua kita, semuanya berjalan baik-baik saja hingga pernyataan cinta saya terlontar dan kamu pun memberi kesempatan kepada saya untuk berjuang.
Tapi, sama sekali kamu tidak memberi tahu bahwa waktu kamu untuk mengingat saya hanya tersisa 7 hari saja. Selebihnya kamu hanya akan menjadi Cantara Eshal penulis karya 'Nama' yang kehilangan ingatan sepenuhnya karena Alzheimer.
Dan saya berakhir menjadi Fatih Hazwan yang setidaknya akan terus mengingat kamu sebagai Cantara, segalanya saya. Berbeda dengan Azada dalam 'Nama' yang ikut melupakan Nayara karena tidak ingin mengingat perempuan itu sendirian.
Temui bahagiamu dulu.
Kalau rasanya susah, saya hanya ingin kamu mengingat saya sebagai salah satu orang yang pernah mencintai kamu sedalam ini.
Saya hanya ingin kamu bisa bertemu bahagia kamu.
Nggak apa-apa saya tidak bertemu bahagia saya, karena bahagia saya itu kamu.
Ingat saya, walaupun hanya satu detik akhir dari hidup kamu.
Satu hal yang perlu kamu tahu.
"Namamu telah tercantum dalam jiwaku jauh sebelum kita bertemu, bahkan sebelum ada huruf."
Aku mencintai kamu, Cantara.
Dan akan selalu begitu.
Kasihmu,
Fatih Hazwan.
***
Sekali lagi, terima kasih Akanksha Gulia atas segala inspirasinya.
Dan untuk tokoh dalam cerita pendek ini :
Fatih Hazwan & Cantara Eshal
Serta sebuah karya 'Nama' yang lahir tiba-tiba dengan menghadirkan tokoh Azada serta Nayara.
Terima kasih, pembaca setia.
-ruang kasih
Komentar
Posting Komentar