Dulu saya sering memimpikan, gimana jadinya kalo saya tidak lahir di keluarga ini.
Bagaimana jadinya saya hidup dan berada di keluarga lain yang bukan keluarga ini.
Dan saya hanya menemukan jawaban bahwa saya tidak mau. Saya tidak ingin. Saya hanya ingin berada disini, di tengah-tengah Abi, Ummi, Kakak, dan Adek.
Orang-orang yang selalu mengajarkan saya mengenai hidup ini.
Orang-orang yang selalu ada bersama saya, disaat saya berada dalam sebuah kesuksesan, maupun ketika saya berada di titik terendah saya.
Mereka selalu ada.
Tidak ke mana-mana.
Lantas, saya kembali membayangkan, bagaimana jadinya jika penerang hidup saya hilang? Atau pergi?
Saya menggambarkan keluarga ini sebagai rumah. Sebuah bangunan.
Dan kalau misalnya satu komponen saja hilang, maka sebuah bangunan nggak akan berdiri kokoh lagi.
Walaupun hingga detik ini, saya masih merasa gagal untuk bisa menjadi anak yang baik buat kedua orang tua saya. Buat Abi dan Ummi.
Klise. Saya hanya bisa menyusahkan tanpa memberi timbal balik apapun untuk beliau berdua. Saya masih belum bisa membahagiakan keduanya. Saya belum bisa memberikan pencapaian luar biasa untuk Abi dan Ummi.
Padahal keinginan saya sangat besar. Untuk setidaknya memberikan suatu hasil yang baik, yang bisa membuat mereka berdua bangga. Tapi sejauh ini. Lagi-lagi, tidak ada.
Saya berusaha. Saya banyak sekali berusaha. Tapi saya gagal. Saya banyak sekali gagal.
Saya menjanjikan banyak hal untuk Abi dan Ummi, tapi saya banyak ingkar terhadap janji yang sudah saya sampaikan.
Saya tetap berdiri disini dan tidak bergerak kemanapun. Disaat harusnya saya harus mulai menata kembali hidup saya, mulai menata kembali waktu - waktu yang banyak terbuang untuk hal yang tidak penting. Menata semuanya.
Termasuk menata kembali harapan yang ada dalam benak Abi dan Ummi.
Saya berusaha banyak. Tapi berbanyak-banyak juga saya mengeluh. Tanpa pernah mengerti sebanyak apa doa yang dipanjatkan kedua malaikat hebat dalam kehidupan saya setiap sepertiga malam dalam hari-harinya.
Saya masih diizinkan untuk membuka mata, dan menatap kedua malaikat hidup saya setiap paginya. Untuk kemudian malamnya saya kembali istirahat lalu keesokannya kembali memulai fase yang sama. Dan masih tetap diizinkan bertemu, bertatap muka dengan keduanya.
Tetapi saya seringkali lalai, tanpa peduli, sibuk dengan kehidupan saya, sibuk dengan aktivitas saya, sibuk mengeluh, tanpa pernah berpikir selelah apa kedua malaikat saya hari ini. Menolak peduli, seolah kehidupan mereka harus berorientasi dengan mendengar cerita saya.
Padahal tidak.
Saya butuh didengar..
Pun mereka. Pun Abi dan Ummi yang memiliki jutaan cerita hari ini. Yang ingin diceritakan tapi tertutup dengan cerita saya yang tiada habisnya.
Harusnya. Saya tidak lagi begini.
Harusnya. Saya mengerti.
Harusnya. Saya menyiapkan diri.
Harusnya. Saya memegang janji.
Harusnya. Saya mendengar.
Harusnya. Janji tidak hanya sekedar janji.
Harusnya. Saya bisa menjadi versi yang lebih baik dari ini.
Harusnya......
Saya bersyukur, banyak bersyukur dengan adanya 'Rumah' yang tidak berpindah kemanapun. Sejauh apa saya melangkah, saya yakin, ''Rumah" saya tidak akan berpindah. Akan tetap dalam posisi dan komponen yang sama.
Saya tidak membutuhkan apapun lagi, sepertinya. Untuk saat ini.
Karena segalanya saya, adalah mereka. Hanya mereka.
Saya tidak butuh apapun lagi.
Ketika saya banyak mencintai diri sendiri, disitu saya banyak mencintai adanya segalanya saya yang selalu ada.
Yang tidak pernah menyakiti saya sedikitpun.
Yang tidak pernah membiarkan saya tersakiti oleh siapapun.
Yang tidak pernah membiarkan saya merasakan sakitnya hidup sendirian.
Yang tidak pernah membiarkan saya terluka sendirian.
Yang tidak pernah membiarkan saya.......menderita sendirian.
Banyak harapan yang tersirat mengenai saya beberapa tahun kedepan. Harapan yang harus segera saya wujudkan.
Harapan baik.
Yang saya yakini tidak akan berhenti disini saja.
Saya tidak pernah tau kalau mencintai seseorang bisa segini besar pengaruhnya dalam hidup saya.
Mencintai segalanya saya, Abi, Ummi, Kakak, dan Adek.
Segalanya saya, kehidupan saya, permata hati saya, penerang hidup saya, dan.......rumah saya.
Saya pulang, saya akan kembali, dan saya akan terus begini, terus menjadi saya yang sekarang.
Tahun depan. Tahun depannya lagi. Dua tahun selanjutnya. Tiga tahun selanjutnya. Dan beberapa tahun selanjutnya lagi. Saya berjanji akan menjadi versi terbaik, paling terbaik dari diri saya. Saya akan......memenuhi janji saya.
Saya akan membawa segalanya saya menuju hal terbaik, pencapaian terbaik.
Karena, nggak akan ada kata tidak buat saya, kalau itu menyangkut kalian.
Lagi, Terima kasih sudah membuat saya banyak sekali belajar.
Lagi, Terima kasih untuk selalu menerima kesalahan saya tanpa menyalahkan.
Lagi, Terima kasih sudah selalu menjadi versi terbaik untuk saya.
Lagi, Terima kasih untuk selalu membuka lebar pintu rumah ketika saya lelah dan ingin pulang.
Lagi, Terima kasih.
Hanya, Terima kasih.
—beloved,
kak zya.
Komentar
Posting Komentar