Jangan ngerasa paling menderita di dunia ini.
Jangan ngerasa seakan-akan hidup lo paling susah.
Jangan ngerasa seakan-akan hidup lo paling banyak sedih dan nangis.
Openingnya begitu aja deh.
Gue sering dihadapkan dengan bermacam-macam orang, bermacam-macam kepribadian, bermacam-macam sifat dan cara pandang, serta berbagai macam cara bersikap. Lantas, dari situ membuat gue membuat note di otak, kalo emang mereka punya orientasi sendiri mengenai hidup. Either me, yang jelas berbeda setiap orangnya. Lo nggak bisa memaksa seseorang buat sependapat dengan apa yang lo pikirkan. Lo nggak bisa membuat orang satu circle pemikiran dengan apa yang sedang lo pikirkan. Karena ya begitu, setiap orang punya cara berpikirnya masing-masing, and you don't have the right to interfere with it.
Hampir 18 tahun hidup, rasa-rasanya udah cukup banyak hal yang bisa gue bagi. Lewat platform ini.
Hampir 18 tahun hidup —juga, bisa membuat gue merasakan hambarnya memiliki rasa sama orang. Or make it clear, with some guy.
Like, no more excuses for me to find someone right. For now.
Kalo ada cowok ganteng dan baik ke gue, i am just simply saying, "hah iya, lo baik, ganteng, nge baperin, terus selanjutnya gue harus gimana?"
Semati rasa itu.
Semati rasa itu buat gue melupakan gimana rasanya tulus sama orang.
Karena, udah sebanyak 2 atau 3 atau justru 4 kali gue merasakan rasanya tulus sama orang, yang ternyata menganggap tulusnya gue cuma bercandaan.
Peduli dunia dengan orang yang bilang gue terlalu mendramatisasi keadaan, meromantisasi suasana, membuat sesuatu simpel menjadi berat. Terserah.
Yang gue tau hanya, perasaan seseorang bukan sesuatu yang bisa dibercandai.
Yang gue tau hanya, ketulusan seseorang bukan sesuatu yang bisa dibercandai.
Yang gue tau hanya, perasaan dan ketulusan bukan sesuatu yang bisa dibeli pake uang, harta, kekayaan.
Meanwhile, banyak yang menominalkan perasaan dan ketulusan hanya karena mereka ingin, hanya karena kebutaan seseorang sama yang namanya tulus yang selalu berkaitan sama perasaan.
Egois dengan mengatakan, "gue sedang tahap mencari dan menemukan yang cocok. The reasons why till now, gue banyak gonta-ganti pacar."
Egois dengan mengatakan, "sebangsatnya cowok, nantinya dia juga bakal cari cewek yang baik-baik buat dijadiin pasangan hidup."
Ya masalahnya........cewek itu mau kagak sama lo?
Simply, cowok baik buat cewek baik.
Nggak ada orang yang nggak baik di dunia ini. Adanya cuma orang yang nggak mau belajar dan mengerti.
Udah gitu doang.
Healing my self gue terlalu lama. Sampai rasanya mau membuka hati dan kembali berkenalan dengan orang baru bikin gue trauma. Trauma kalo semua laki-laki sama, dan stereotipe ini nggak bagus banget, sejujurnya.
Tapi gue hanya nggak ingin ketulusan gue akan diputarbalikan, dinaikkan turunkan kayak roller coaster, seakan-akan gue cuma dijadiin wahana permainan, didatangi ketika mereka butuh seneng-seneng —in a good ways of course, and then they leave, begitu aja seterusnya.
Bullshit dengan bilang, "jangan meromantisasi keadaan, belom waktunya lo mikir jauh kesana".
Because at the end of our life, semuanya bakal berorientasi kesana. Dan kalo setiap orang punya stereotipe seburuk gue, bakal jadi bahaya.
Isn't it?
Tahap mencari dan menemukan nggak akan gue lakuin lagi. Because i'm too tired to do that.
Biar nantinya, gue yang akan dicari dan ditemukan. Sekarang gue hanya akan menunggu.
Begitu saja.
Dan satu hal. Jangan pernah menganggap hidup lo paling menderita dan susah. Karena lo juga perlu tau mengenai hidup orang lain, yang bisa jadi lebih sulit dari lo, dalam hal lain yang nggak pernah lo expect sebelumnya.
Kita punya mata untuk melihat, jangan terus menerus juga lihat sesuatu yang terlalu superior sampai ngelupain adanya eksistensi orang dibawah kita.
Kita punya hati, untuk merasakan kesedihan diri sendiri, nor kesedihan orang lain, and respect for them.
The point is.
Hidup.
Sesuai apa yang lo mau.
Dan jangan kaget.
Karena yang lo dapetin bakal sesuai dengan apa yang lo tanam.
Done.
Saya cukup simple aja meringkas dari inti sari ini yang uda saya baca ini dek sejatinya hidup pasti gakan lepas dari kata iya ato tidak dalam memilih pasangan semua ada pada diri samean dalam memilih yang baik percayalah yang memang bener2 tulus ke samean pasti suda samean rasakan dan temukan karna hati gakan bisa bercanda
BalasHapus