Halo.
Selamat malam semuanya, semoga selalu sehat, dimanapun kalian.
Pertama, gue mau mengucap turut berduka cita atas meninggalnya salah satu ex member girl band f(x) Choi Jinri atau yang akrab panggilannya dengan Sulli, sore ini ditemukan di kediamannya. Semoga seluruh keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberikan ketabahan, keikhlasan, melepas kepergian kak Sulli. Seluruh fans dan orang-orang yang sayang dengan kak Sulli semoga bisa selalu tabah, semoga.
Dalam konten yang selalu gue tulis akhir-akhir ini adalah mengenai tulisan random yang berkaitan dengan bagaimana caranya agar orang yang baca tulisan gue bisa selalu termotivasi lalu pada akhirnya dia akan berucap pada diri sendiri, "iya, lo udah berusaha, lo udah berjuang, lo udah ngelakuin yang terbaik".
Gue selalu berpikir bagaimana, dan bagaimana, membuat orang lain merasa berguna ada di dunia ini. Bagaimana caranya gue bisa menjadi orang yang menyenangkan bagi semua orang disekitar gue. Bagaimana gue bisa menjadi pendengar yang baik bagi semua orang terdekat gue. Bagaimana gue bisa menyampaikan sesuatu dengan baik tanpa menyakiti hati siapapun. Bagaimana jari gue tidak akan menyakiti siapapun ketika 'mungkin' gue sibuk bercengkrama dalam bingkai media sosial. Dan bagaimana yang.......lainnya.
Berbalik ke peristiwa sore hari ini, yaitu berita kematian kak Sulli yang mengejutkan seluruh dunia karena jujur siapa yang nggak kenal sama dia? Kecuali orang-orang yang memang tidak begitu paham dengan dunia kpop, gue nggak bahas tentang itu. Dan berita kematian itu diikuti sebab akibat yang mana membuat kita akhirnya bilang, "lagi-lagi, jangan lagi", saking kita nggak pengen siapapun tersakiti lagi.
Kak Sulli meninggal karena.......suicide case.
Gue nggak ingin memperjelas bagaimana cara dia bunuh diri, karena jujur, it hurts me a lot. Not just me, tapi semua kpopers di seluruh dunia.
Sejauh ini, alasan banyak artis dengan kasus suicide adalah karena tekanan. Ini faktor paling utama, tekanan itu bisa dalam bentuk apapun, tekanan pekerjaan, dituntut terlalu berat, dan tekanan fans, tekanan haters yang nggak ada henti, dan tekanan - tekanan lain yang menyakiti mereka secara nggak langsung.
Kalo ada yang bilang, "lo kalo nggak mau dapet hate comments ya nggak usah jadi entertainer lah, gitu kok ngeluh?"
Well said, hidup itu pilihan.
Ketika hidup itu pilihan pasti disitu ada impian atau cita-cita.
Cita-cita lo sama gue jelas beda.
Dan ada yang perlu ditandai disini. Nggak menutup kemungkinan buat yang nggak jadi artis juga bisa kena kasus suicide.
Anak sekolah aja ada yang kena kasus suicide.
Pekerja kantoran juga.
Orang biasa yang keliatan fine-fine aja juga banyak yang tiba-tiba besok dikabarin meninggal karena suicide.
Gue yang sekarang jadi anak kuliahan dengan kesibukan lain jadi blogger dan sometimes ngemc juga seriiiiing dapet hate comments dari yah nggak perlu gue sebut disini.
Intinya, disini gue cuma pengen menekankan kalo di dunia ini masih banyaaaak orang baik yang sama sekali nggak ngerugiin kita dari sisi manapun.
They have their own life, yet, semua artis yang kita idolain, mereka juga manusia, mereka juga punya kehidupan, mereka punya keseharian yang sama kayak kita, mereka juga suka rebahan, mereka juga suka goler-goleran nggak ada kegiatan, mereka juga suka bercanda, mereka juga suka ketawa sama temen-temennya, mereka juga punya keluarga yang bangga dengan setiap pencapaian yang mereka dapet, dan mereka berhak buat bahagia hidup di dunia ini.
Siapa yang mau melulu dapet komentar, "duh lo berubah banget sih sekarang? jadi nggak alim deh sekarang? kok jadi gini deh? kok jadi gitu deh? blablabla", dan segala keberisikan lainnya.
Again guys, everyone have their own life, and they deserve to do everything they want. Everything.
Terserah, lo mau ngapain aja juga terserah. Karena lo hidup di dunia berhak buat dapet apa yang lo mau. Berhak ngelakuin apa yang lo mau. Selama itu nggak ngerugiin siapapun, selama itu nggak ngerugiin diri lo sendiri, dan selama lo bahagia dengan itu kenapa nggak?
And again, setiap orang punya masalah hidupnya masing-masing. And trust me, nggak ada siapapun yang kuat buat nahan masalah apa yang dia punya. Pasti, pasti ada satu atau dua orang yang kita percaya buat denger masalah kita. Temen, sahabat, orang tua, atau pacar mungkin? Siapapun itu, pasti kita punya orang kepercayaan.
Diantara ribuan orang yang lo kenal di dunia ini pasti ada satuuuuu aja satu orang aja yang mau jadi pendengar lo dengan baik.
And like i said before on another headline, kalo nggak ada orang yang mau dengerin lo, kalo nggak ada orang yang mau respon cerita lo, maka gue akan ada disini, sebagai orang yang bilang kata-kata positif dan selalu berbagi hal-hal baik supaya lo masih tetep punya alasan buat bahagia.
Karena, yang paling penting dari hidup ini adalah jangan pernah lupa buat bahagia. Hidup itu pilihan dan bahagia adalah suatu keharusan dari hidup. Lo harus bisa menuntun kehidupan lo menjadi sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, menenangkan.
Of course, sebagai muslim, gue menyarankan kalian, yang beragama muslim, buat sholat, berdoa, berdzikir, baca qur'an, curhat ke Allah, deket-deketin diri ke Allah, dan mohon ampun atas segala kerisauan yang lo semua punya.
Kata-kata yang selalu gue pegang selama ini ketika ada masalah adalah, "deketin diri ke Allah SWT, kayak nggak punya Tuhan aja lo".
Udah, itu aja rumus kebahagiaan yang selama ini gue pegang.
Banyak pembelajaran yang bisa gue ambil dari ini semua. Untuk selalu menjaga lisan, dari segala perkataan yang bisa menyakiti siapapun yang ada disekitar gue. Untuk selalu menjaga jari, supaya nggak menuliskan sesuatu yang buruk di media sosial. Untuk selalu menjaga sikap, supaya nggak membuat orang lain berpikiran yang buruk mengenai gue.
Apalagi, era sekarang selalu berkutat di media sosial. Dari lo buka mata pagi sampe tutup mata malem aktivitas nggak akan pernah lepas dari media sosial. Everything you share on social media, and trust me, you always sharing about good things, never share about your sadness, or your problems. Karena ya buat apa?
Buat apa lo sharing kesedihan lo di medsos?
Buat apa lo share kesusahan lo di medsos?
Dari ribuan posting pasti selalu hal baik yang kita share, Jalan-jalan kesini lah, main kesini lah, situ lah, foto dengan side sebagus mungkin, mikir caption sampek nggak tidur (lebay) hanya demi upload an yang apik dan kekinian banget. Kita rela untuk itu. Padahal belum tentu ketika membagikan itu hati kita lagi baik-baik aja.
The reasons why, we always doing double filter, filter foto, dan filter kesedihan. Nggak usah munafik karena gue pribadi juga kayak gitu.
Dari semua hal itu, kita semua harus selalu berusaha jadi orang baik.
Ketika bisa jadi orang baik, kenapa kita harus memilih jadi orang jahat?
Ketika masih banyak alasan didunia ini untuk selalu baik kenapa selalu memilih sesuatu yang nggak baik?
Ketika masih banyak alasan untuk bahagia kenapa harus bersedih?
Satu kata aja yang lo ucapin, sesimpel apapun menurut lo tapi kalo menurut orang yang lo katain buruk, akan jadi buruk dan menyakitkan.
Kita nggak pernah tau selama apa orang nangis hanya dari perkataan yang kita ucapkan. Hanya dari apa yang kita tulis.
Kita nggak pernah tau selama apa dia nggak tidur mikirin apa yang dia dengar dari mulut kita. Mikirin apa yang udah di baca dari postingan kita yang ditujukan untuk dia.
Kita nggak pernah tau sepanjang apa malam yang dia lewatin untuk terus berdamai dengan diri sendiri hanya karena secuil hate comments tadi.
Gue bukan orang baik, tapi setidaknya, gue berusaha terus untuk menjadi baik.
Jadikan hari ini sebagai hari yang bisa bikin lo bahagia. Sesimpel apapun itu.
Jangan lupa bahagia hari ini.
Good night✨
No one knows kan kalo ucapan atau ketikan kita ternyata jadi senjata yang mematikan :")
BalasHapusWell done, tulisannya scr keseluruhan bagus. Tapi aku kurang setuju utk kalimat "buat apa sharing kesedihan maupun kesusahan di medsos?". Seperti yg kamu blg di atas bahwa semua orang berhak melakukan apapun asal nggak ngerugiin org lain. Mungkin bbrp orang sharing their sadness nor their struggle in their socmed bc mereka hanya ingin mengeluarkan uneg2 saja. Mungkin mereka bisa menjadi lega setelah melakukan itu, siapa tau. Ketika semua tdk ada yg dipercaya, medsos adl pelariannya. Kebanyakan dr mereka yg sedih ataupun depresi hanya butuh didengarkan. Bbrp mungkin sharing kesedihan ataupun kesusahannya utk mencari simpati, tp sebagian lagi mereka hanya ingin mengeluarkan apa yg ada dipikiran mereka tanpa ingin dikomentari, just it. Satu pertanyaan dek, ketika orang muslim yg terkena depresi atau mental illness, apakah dia kurang dekat dengan Allah?
BalasHapushalooo!
Hapuscouldnt agree for more, well said, emang iya kok. banyak orang yang suka share semua hal yang ada di hidupnya lewat media sosial, tapi even they share about their sadness on socmed nggak bakal lah di share semua-muanya hanya karena mau minta simpati ke orang lain, again, mereka ttp ngelakuin filter atas semua yang mereka post di socmed. yet, aku juga ketika pengen banget curhat di socmed nggak akan semua hal yang menyedihkan itu aku bagi buat semua orang yang ada dalam lingkup pertemanan ku di socmed, karena ya buat apa? buat apa share semuanya seakan2 orang lain yang bersimpati bakal terus kayak gitu buat selanjutnya. krn semua orang punya hidupnya masing2, dan semuanya tergantung gimana setiap orang menyikapinya, terserah, itu urusan lain, diluar kuasaku pribadi dalam beropini. and talking about depression or mental illness, apakah mereka kurang dekat dengan Allah? balik lagi ke setiap orang yang mengalami itu dan menganggap mental illness adalah akibat kurang dekat dengan Allah, well mungkin beberapa persen penyebabnya adalah karena mereka kurang dekat dengan Allah. disadari atau nggak, setiap orang harus bisa introspeksi terhadap apa yang terjadi di hidupnya. hidup itu aksi reaksi, kalo kita nggak pernah mendekati pencipta kita, terus berharap Dia mau respect ke kita? well, jangan pernah bosan buat terus berkaca sama apa yang udah kita lakuin selama ini. thats all for me, thankyou for share your opinion in my platform✨