Tahun 2019.
Banyak tren yang mulai muncul dikalangan gue.
Apa?
Nikah. Muda.
Tapi, bentar dulu. Gue nggak ada maksud apapun menulis ini. Of course, gue belum pernah nikah. Gue masih 17 tahun, dan gue sebenernya nggak berhak untuk nulis tema seperti "ini" dalam platform blog karena terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tapi, again. Blog adalah diary gue, tempat gue menuliskan pendapat mengenai beberapa hal yang lagi happening dari ranah terdekat sampe yang jauh. Tujuannya? Nggak ada. Karena, ya gue nggak ada maksud apapun untuk mempengaruhi pihak manapun.
So, make it clear aja.
Banyak orang yang lagi stres tiba-tiba random bilang, "ah gila nikah aja mending", atau "kayaknya nikah aja enak deh?", atau "lihat orang nikah kayaknya adem aja gitu". Sebenernya, gue nggak menyalahkan celetukan ringan seperti ini, karena ya akhirnya at some point gue juga mikir, "akhirnya gue juga akan nikah", tapi orientasi pemikiran gue masih sangaaaaat panjang dan lama, pastinya gue nggak tau kapan, akhirnya that 'nikah' word malah jadi creepy banget kalo gue menafsirkan secara lengkap. Setelah melihat maraknya nikah pada orang-orang disekitar yang seumuran dengan gue, jujur, to be very very very honest gue ngerasa tertampar. Man, gue yang seumuran gini aja masih pusing masalah kuliah, atau persoalan ringan lainnya, tapi banyak dari mereka yang udah siap lahir batin membina rumah tangga, kerja, berpenghasilan, bah! Mikirin itu aja gue udah panik duluan!
Entah kenapa pemikiran tentang pernikahan menjadi bukan hal yang tabu lagi bagi anak seusia gue. Orientasi tentang nikah bukan lagi hal sulit dan justru menjadi tolak ukur untuk "terhindar dari pacaran dan maksiat". Yah, couldn't agree for more emang tujuan nikah salah satunya menghindari fitnah. Untuk persoalan menghindari fitnah gue setuju, tapi untuk aspek lain gue merasa nikah. nggak. as. easy. as. that.
Lama kelamaan semua orang jadi berbondong-bondong nikah tapi pada akhirnya makin marak juga perceraian. Nah, kalo udah gini, gimana dong?
Menurut gue, menikah adalah suatu hal yang sakral, yang nggak main-main, yang benar-benar bertujuan untuk ibadah mencapai ridho Allah swt, lalu nantinya akan lahir keturunan, dan akan ada rintangan lagi setelahnya. Gue rasa, memang usia nggak menghalangi apapun selama hal itu tujuannya baik, tapi kalo orientasi menikah menjadi semudah itu hanya karena lagi "tren", gue merasa wah nggak bisa bro nikah dibercandain.
Nikah juga bukan cuma masalah siap mental, hati, jiwa, raga, tapi juga mengenai finansial. Karena dengan nikah itu berarti persoalan finansial ditanggung berdua dong? Kalo kedua pihak masih belum siap, lebih baik jangan terburu-buru. MENURUT AKU AJA INI YA OKE.
Menikah...
Hah, yang lagi-lagi membuat gue menghela napas adalah karena gue masih jauh dari kata pantas. Pacaran aja gue nggak pernah, ini liat banyak yang udah pada nikah bikin gue malah menjadi parno sendiri. Ya emang, untuk sekarang mungkin kita jangan terlalu mikir jauhhhh kesana tapi well, mempersiapkan diri sedari dini itu lebih baik. Dan cara berpikir gue lebih kepada ketika udah waktunya maka semua halnya nggak akan tertukar.
Jodoh, maut, udah diatur. Kalo emang belum waktunya, ya jangan terburu-buru.
Pokoknya, nikah nggak semudah itu dan yang gue pahami hingga detik ini adalah semua bakal dapet jatahnya. Tunggu aja tanggal mainnya!
Well, again, gue nggak tau poin dari tulisan ini adalah apa, intinya, setuju atau tidaknya gue dengan trend nikah mudah tergantung pada siapa dan bagaimana orang itu melakukannya. Menjadikan pernikahan sebagai suatu tren baru juga gue rasa nggak bisa semain-main itu.
Married it's not a joke.
Jadi, coba cari tau lagi orientasi dari tujuan melakukan hal itu adalah untuk apa.
Kalo tujuannya agar supaya bisa upload foto yang 'cie'-able, lebih baik, jangan.
Oke, jangan dulu kalo emang belum bener-bener pantas dan siap.
Gue juga sepemikiran nih, emang tujuannya nikah itu salah satunya untuk menghindari fitnah apalagi buat orang yang udah mampu secara lahir batin dan finansial dan juga orang itu takut kalo nggak segera nikah malah terjerumus dalam kemaksiatan, tapi nikah itu juga bukan perkara yang mudah dan seenak yang kita bayangkan, dibalik itu semua terdapat tanggung jawab dan beban yang besar yang harus siap dipikul untuk membina dan mempertahankan rumah tangga, dan kalo kita nggak siap menghadapi itu semua lalu memaksa nikah pada akhirnya malah timbul hal" yang nggak mengenakkan kayak kdrt atau bahkan perceraian.
BalasHapus