Gue nggak tau akan membagi kisah apa dalam tulisan ini.
Mungkin, gue hanya akan membagi sepetik kisah dari apa yang terjadi disekitar gue. Lima hari nggak buka medsos cukup membuat gue gagu informasi dan akhirnya setelah "kembali" membuka, gue mulai "ah, i found something".
17 tahun hidup didunia membuat gue sedikit banyak mulai mengetahui apa dan bagaimana sesuatu itu terjadi. Sesuatu yang belakangan mulai gue pahami menjadi suatu hal krusial, wajar terjadi di masa remaja yang peralihan kayak gini.
Apa?
Cukup membuat gue bergidik kegelian ketika harus mengucapkan hal ini secara gamblang.
Yes, falling in love.
Sejauh ini gue udah mulai berhenti untuk mencari dan menemukan, lalu kemudian dekat, untuk selanjutnya berpisah, dan fase kembali terulang. Gue nggak pernah pacaran, even sekarang lagi musim hubungan tanpa status gue merasa relationship yang gue jalani nggak bisa dikategorikan sebagai suatu "hubungan" yang kebanyakan orang bilang atau sebutkan.
Gue nggak pernah pegangan tangan.
Gue nggak pernah dalam satu lokasi hanya berdua aja dengan lawan jenis.
Gue nggak pernah jalan bareng.
Gue nggak pernah ketemuan yang (literally) ketemu karena direncanakan, diluar plan pun gue nggak pernah ketemu.
Hubungan yang gue jalin hanya sekedar bertukar kabar lewat aplikasi chat, dan foto berdua ketika ada suatu event yang membuat kami (atau justru hanya gue, dia nggak), yang membuat gue mengharuskan untuk membidik suatu kenangan dalam satu frame. Lalu suatu pertemuan tidak disengaja yang direncanakan semesta, yang sebenarnya tidak melibatkan kami, hanya kebetulan ada nama gue dan dia dalam rancangan itu. Dan selebihnya, udah. Nggak ada ceritanya gue dikejar-kejar cowok dan jadi bahan pembicaraan orang hanya karena hubungan kami terlalu goals, atau hubungan gue jadi headline "panutanku", nggak ada sama sekali.
Jadi, ketika sebuah pertanyaan muncul seperti, "kamu masih deket sama dia?", gue jadi memutar otak untuk menemukan jawabannya. Karena, orientasi dekat yang dibilang orang-orang itu berbeda dengan gue. Mungkin, dekat yang mereka maksud bisa jadi udah lebih dari sekedar bertukar kabar lewat chat, lalu gue mengimplikasikan dekat bisa melalui berbagai aspek.
Terus, kalo gue jawab "iya", mereka akan terus mengorek, mencari pertanyaan lain yang lebih menarik lalu kemudian akan muncul gosip yang salah sedikit judulnya, maka beritanya bakal beda juga. Dan gue rasa, kaum cewek yang banyak ruginya kalo udah kayak gini.
Kenapa?
Ya, karena cewek selalu dilabeli sebagai kaum yang selalu meromantisasi keadaan, dalam kondisi bagaimanapun. Haha.
Kalo ceweknya baper, maka cowok bakal dengan gampang bilang, "ya padahal gue biasa aja, dianya aja kebaperan".
Kalo ceweknya nangis-nangis patah hati karena dibaperin, si cowok as casual bilang, "ya kan gue dari awal emang nggak niat serius, kalo masalannya gini, salah sendiri semua dibawa baper".
Kalo ceweknya salah mengartikan perbuatan, si cowok gamblang dan as easy ngomong, "gue ke semua orang gitu kali, baperan amat sih".
Akhirnya, that "baper" word jadi biang kesalahan, lagi.
Terus mau lo apa, hah?
Ini yang sampai sekarang bikin gue belajar banyak dari pengalaman. Sometimes, kita butuh disakiti berjuta kali supaya tau caranya bahagia, agar supaya kita tidak menyakiti orang lain karena kita udah kenyang sama yang namanya "sakit".
Mana yang belum pernah gue rasakan?
Ngeliat orang yang gue taksir berakhir jadian sama sahabat gue sendiri? Oh, udah pernah.
Ngeliat orang yang gue suka, jalan sama ceweknya depan gue? Oh, khatam.
Ngeliat orang yang belakangan deket sama gue tiba-tiba ilang dan muncul sama cewek lain, even dia adek kelas gue sendiri? Oh, nggak usah nanya, bahkan depan komuk gue mereka ketemuan, blah!
Ngeliat orang yang gue suka berakhir confess ke gue dan kita deket, lalu tiba-tiba dia pergi hanya karena dia bingung dan merasa bersalah sama gue? Oh, barusan kemaren bok!
Lalu peristiwa melihat-lihat yang lain, yang rasanya kalo gue ceritakan secara mendetail akan jadi satu naskah cerita yang bisa gue terbitkan.
Terus poinnya apa?
Well, setiap orang punya rasa sakitnya masing-masing dengan masalah cinta. Ada yang masih kagok dengan urusan seperti ini lalu akhirnya menjadi trauma untuk kembali menemukan dan memulai. Ada yang terlalu terbiasa, sehingga beberapa hari saja udah cukup membuat dia recovery sakit hatinya. Ada yang langsung menemukan orang baru untuk kemudian kembali memulai. Ada yang memutuskan untuk berhenti, karena menunggu seseorang dan waktu yang tepat untuk menemuinya.
Gue yang mana?
Gue akan dengan lantang memilih option terakhir.
Putus cinta, sakit hati karena ditinggalkan, bukan suatu tolak ukur keberlangsungan hidup kita. Karena seperti yang gue pernah bilang dalam salah satu headline tulisan lain, "People Come and People Go, and then, they change."
Dunia nggak berakhir hanya karena kita ditinggalkan oleh pujaan hati.
Dunia nggak berakhir hanya karena kita belum ditemukan oleh insan yang digariskan Tuhan menjadi jodoh kita.
Dunia nggak berakhir hanya karena laki-laki yang memang nggak baik dan akhirnya Allah memilihkan jalan untuk kita ditinggalkan.
Life sucks, dan kita jangan terlalu terjebak didalemnya. Recovery diri sendiri itu penting. Gue tidak menyalahkan orang-orang yang terlalu nggak bisa mengobati sakit hatinya, karena everyone needs a time.
Take your time, darling.
Sebanyak-banyaknya, karena gue tau rasanya disakiti itu seperti apa. Mereka yang nyakitin kita cuma nggak ngerti bagaimana cara berbicara dengan orang baik.
Yang perlu gue tekankan adalah jangan sampai kita menyakiti orang lain seperti apa yang udah kita rasain. Even dunia sosial sekalipun, just don't.
Dunia masih butuh orang seperti kalian.
Cheer up!
Sedih pol :(
BalasHapusiiihh sedih kenapaaa huhuhu
Hapushazaaa, seneng bgt liat postingan2 muuu :'')))
BalasHapus