Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Zaman Sekarang Nih Ya...

Gue nggak tau mau mulainya darimana. Segimana jari gue ngetik aja deh ya. 

Akhir-akhir ini gue mulai dilanda kegabutan parah sejak balik mudik. Sempet sih kemaren sedikit hectic tapi siklusnya biasa aja. Kamis pagi kemaren gue baru nyampe dari mudik, terus langsung sarapan plus berbenah sebelum akhirnya gue kembali keluar rumah. Ngurus pendaftaran buat ke Polinema yang waktu itu terakhir diurus. Gue juga ke RSI buat periksa keterangan bahwa gue nggak buta warna. Nyampe rumah gue udah tepar nggak tau lagi mesti gimana intinya capek banget. Jumatnya seharian gue belajar, mengurung diri wets ya maksudnya gue berusaha mengingat-ingat pelajaran sbm yang kali aja masih melekat di salah satu sudut otak gue wakakakaka. Baru hari sabtunya gue tes di Polinema mulai pagi sampek siang terus balik tes gue cod-an sama temen gue, salah satu olshop tas di sosial media Instagram.

Sabtu menemui minggu, untuk kemudian Hazara menemui kegabutannya haha.

Sebenernya, udah sejak kelar tes utbk gue udah gabut dan itu jadi ajang gue buat menjadi pengamat untuk semua orang disekitar gue. Semua deh, mengamati temen-temen gue, keluarga gue, tetangga gue, temen gue di dunia online pun menjadi bahan pengamatan gue.

Dari hasil pengamatan itu menunjukkan kalau ternyata dunia seluuuuuuuaaaaaaas itu bro. Kalau udah gini gue mendadak jadi insecure karena ya gue siapa? Gue udah memberikan apa buat negara gue? Gue udah memberikan apa untuk orang-orang disekitar gue? Gue udah sesukses apa untuk bisa berbangga diri? 

Bangga karena gue udah sering nge-mc?

Bangga karena gue punya banyak karya tulis?

Bangga karena viewers blog gue udah diliat sampe ke negara Amerika Serikat?

Bangga karena gue mendadak diberi label seorang "blogger" oleh orang-orang?

Dari sisi mananya gue harus merasa bangga dengan pencapaian yang sebenarnya hanya secuil dari apa yang orang-orang diluar sana lakukan lebih dari apa yang gue capai?

Terus, gue mendadak menjadi observer buat orang lain. Kayak semuanya mendadak menjadi orang lain yang nggak gue kenal kalo udah kena label "zaman sekarang". Oh ya jelas, kita sebagai anak muda zaman milenial ini nggak boleh dong ketinggalan trend yang lagi marak. Trend dateng ke cafe-cafe bagus hanya untuk mendapat predikat, "wih nih bocah tajir ya cafe yang didatengin selalu Instagramable". Trend dateng ke acara gigs band musik lokal yang jingkrak-jingkrak asik supaya bisa diberi label "anak gaul". Atau trend menjadi anak yang cinta mati sama kopi yang sekarang mulai dikenal banget oleh anak muda. 

Semua jawabannya hanya sesimpel, "biar nggak ketinggalan zaman" "biar nggak kayak hidup di goa" "biar bisa lebih open minded sama keadaan sekitar". 

Menurut gue, mengikuti trend bukan berarti harus melulu menyamai semua arus yang lagi marak. Ketika lagi trend pake baju model A, mendadak semua orang di Indonesia jadi pake baju model gitu semua. Ketika lagi trend pake kacamata bulet ala-ala vintage, mendadak semua orang jadi merubah gaya mereka pake kacamata model gitu. Atau ketika lagi trend baju syar'i, mendadak semua perempuan muslimah jadi berubah pake kerudung gede semua dan ketika trend itu udah abis mereka berubah kembali menjadi....tidak syar'i. 

Gue hanya.....bingung.

Lalu, ada lagi banyak orang yang hanya ingin berteman dengan segolongan yang sama-sama punya duit banyak. Agar supaya kalo trendnya berubah mereka nggak perlu merasa ketinggalan karena satu geng duitnya banyak, jadi nggak ada cerita terseok-seok zaman ya karena mereka mampu memenuhi kebutuhan zaman yang terus menerus berubah. 

Terus pertanyaan gue, "asiknya sebelah mana sih terus menerus mengikuti trend yang ada? trend yang bukan lo bangeeet?". 

Ya, apapun deh. Pokoknya gue merasa tidak menjadi social media addicted sampai sekarang. Of course, disaat tertentu ketika ada momen yang ingin sekali gue abadikan maka gue juga nggak akan segan buat upload di medsos. Tapi untuk ikutan hype bareng orang-orang tentang sesuatu yang lagi happening itu bukan. gue. banget. 

Seems like, gue ngerasa nggak ketinggalan zaman, tapi gue hanya nggak ingin untuk ikutan hype karena ya buat apa?

Di umur segini kadang gue masih ingin menjadi anak kecil yang nggak terlalu ngerti sama yang namanya trend. Karena, di usia mau jadi mahasiswa adalah masa dimana lo mulai mencari-cari pengakuan orang lain. Mencari apa sebenernya eksistensi lo disini. Dan ketika lo gagal mengikuti trend maka orang-orang akan meninggalkan lo. Disadari atau nggak. 

Platform social media yang mungkin sering dijadiin tolak ukur lo gaul atau nggak adalah Instagram. Tak terkecuali gue. Gue termasuk orang biasa-biasa aja, terkenal juga kagak, dan followers ig gue cuma 300 an. Fyi, gue udah 3 kali ganti akun Instagram hanya karena gue sering kebobolan akun dan ya akhirnya gue bikin lagi. Dan sampai sekarang followers gue adalah rata-rata gue kenal doi dan doi juga kenal sama gue. 

Lebih baik followers gue sedikit dan gue kenal semua sama mereka daripada banyak tapi isinya toxic semua.

Wong followers 300 sekian aja gue masih sering dapet direct message inappropiate kok. Mangkannya nggak jarang gue ngeblock akun-akun aneh yang gue sendiri ngerasa risih sama dm yang mereka kirim. Dan gue nggak segan menghapus mereka dari daftar followers gue.

Masalah IG udah pernah gue bahas di twit dan itu bener-bener berisi semua kegundahan hati gue tulis di twitter.

Yah lagi-lagi, gue harus menyalahkan zaman yang terus menerus berubah sebelum gue selesai untuk menikmatinya. Dan zaman yang terus menerus berubah juga mendadak merubah orang-orang disekitar gue. Tapi beruntungnya, semakin banyak gue berbicara seperti ini, semakin banyak teman baru yang muncul di daftar kenalan gue, dan itu sangat menambah relasi gue ke jenis pertemanan manapun. 

Tapi, bukan berarti gue berteman dengan sembarang orang.

Gue juga selektif bro, jangan salah hehe.

Udah deh gitu aja. Nggak tau apakah ini nyambung di otak apa justru nggak sama sekali. 

Komentar

Postingan Populer