Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Paruh 2019

***

Tahun 2019 gue anggap sebagai salah satu tahun terberat dalam hidup gue. Ya setidaknya bisa gue katakan sebagai paruh tahun terberat, karena tahun ini masih menemui 6 bulan untuk bisa berganti ke tahun 2020. 

Selama ini gue nggak pernah expect apapun terhadap masa depan diri sendiri. Yang gue tau tentang masa depan atau cita-cita adalah sebuah harapan dan capaian, menjadi tolak ukur apakah lo bersungguh-sungguh untuk meraihnya atau nggak. Dan ternyata sampai sekarang pun gue masih gagal menafsirkannya. Hingga akhirnya waktu berjalan, memberi cambuk tanpa ampun yang bikin gue mau nggak mau harus segera lari buat tujuan itu.

Terus, kalo tujuan itu udah tercapai lantas apa selanjutnya?

Sampai detik ini gue masih terus mencerna sebenarnya apa yang gue lakuin selama beberapa waktu buat memperjuangkan apa yang gue mau.

Gue bimbel mati-matian.

Gue belajar review semua materi yang udah gue pelajarin selama bimbel.

Gue browsing disemua laman yang memuat soal sbm tahun-tahun sebelumnya.

Ah, sbmptn.

Poin tulisan ini mungkin akan mengarah kesana.

Setiap hari nggak ada sedetikpun gue membuang waktu tanpa belajar. Gue mendadak menjadi anak rajiiiin banget sampai-sampai semua anggota keluarga gue bingung dengan perubahan gue. Selama ini setelah insiden pemerintah yang mendadak merubah sistem sbmptn, semua orang jadi mendadak berubah juga, disadari ataupun nggak. Gue pun begitu.

Mungkin, bagi kalian yang mengikuti semua tulisan gue diplatform ini udah tau, setinggi apa target yang ingin gue capai.

FK/FKG UNPAD.

Wah, hampir semua orang yang "kepo" dengan jurusan apa yang akan gue ambil ketika kuliah, akan sangat heboh menyadari target gue. Perlahan, semua orang menaruh harapan besar pada gue sehingga secara nggak langsung itu menjadi beban tersendiri buat gue.

Lagi-lagi, gue akan hidup di bawah ekspektasi orang lain.

Lo dituntut bisa, ketika sebenernya lo udah nggak kuat.

Lo dituntut belajar, ketika sebenarnya otak lo udah mau meledak saking pusingnya.

Lo dituntut kuat, ketika sebenarnya banyak tangisan yang udah disembunyikan dari orang lain.

Dan itu semua karena tuntutan dari orang yang bahkan nggak mau tau sebesar apa usaha yang udah lo keluarin.

Beruntungnya, gue lahir ditengah keluarga yang nggak pernah menuntut apapun dari pencapaian gue. Mereka mengikuti arus yang sedang gue arungi dan mereka yang selalu rutin menyuruh gue untuk berhenti mendayung sesaat untuk kemudian membantu gue mendayung lagi.

Tapi, gue tetap berusaha walaupun rasanya jenuh udah menggerogoti seluruh organ gue. Batas belajar yang biasanya gue patok di jam 10 malam menjadi molor hingga jam 1 dini hari. Ketika biasanya gue tahan minum kopi sampai akhirnya gue menjadi mual ketika mengonsumsi minuman berkafein. Semua itu hanya demi gue bisa mendapat nilai tinggi di sbmptn 2019.

Sampai tinta bolpoin gue habispun gue nggak ingin membuang waktu hanya untuk membeli bolpoin baru. Rasanya, satu menit yang gue buang untuk mengganti tinta bolpoin bisa gue gunakan untuk menyelesaikan satu soal.

Katakanlah gue termasuk anak yang paling bego di kelas bimbel. Karena dengan begitu gue bakal terus berusaha tanpa pernah puas. Klise kedengarannya. Tapi emang segitu besar pengaruh tes masuk perguruan tinggi ini bagi gue.

Gue nggak peduli ketika kertas try out gue harus lecak hanya karena gue mengerjakannya berulang kali ketika udah balik bimbel. Gue nggak peduli dengan tulisan gue yang nggak rapi lagi seperti biasanya hanya karena gue ingin cepat menemukan jawaban dari soal yang lagi gue kerjakan.

Ketika menulis ini, gue tertawa. Serius, menertawai segala keberlebihan gue hanya demi duniawi yang nggak jelas apakah benar-benar menjamin keberhasilan gue kelak.

Yang jelas, setelah satu bulan bimbel akhirnya gue menemui hari H utbk 1. Entah kenapa nggak ada sesuatu yang mengganjal di hati gue ketika mengerjakannya, karena ya harusnya gue pede dong? Gue udah belajar sampek rasanya pengen ngerobek semua soal sialan yang bener-bener susah itu dan gue merasa kalo nilai gue setidaknya bisa masuk rata-rata anak ganesha which is tempat bimbel gue ini.

Sampai akhirnya.....

Nilai utbk 1 gue keluar.

Dan rasanya dunia kelar.

Gue nggak puas sama sekali.

Bersyukur awalnya, tapi jadi lemes akhirnya.

Karena ternyata usaha gue tadi masih harus terus gue tambah dalam sebulan kedepan buat mempersiapkan tes utbk 2.

Gue lagi-lagi dituntut untuk lebih tinggi lagi, harus bisa lebih tinggi untuk mengikuti ekspektasi orang.

Gue mulai nggak fokus belajar ketika melihat soal try out yang mulai susah dari hari ke hari.

Gue mulai nggak menemukan keahlian diri sendiri pada setiap bidang tes.

Gue mulai kebingungan...

Puncaknya, ketika sehabis sholat maghrib berjamaah bareng keluarga gue. Abi berdoa yang diaamiinkan kita semua, "Semoga kak zya bisa masuk di kedokteran....blablabla", dan gue nangis literally nangis sesenggukan sampek mukenah gue basah. Gue nggak pernah ngerasa nangis seheboh itu cuma buat pendidikan gue, sumpah nggak pernah. Akhirnya, Abi ngangkat kepala gue dan terus meyakinkan kalo gue pasti bisa. Karena, Allah masih pengen liat usaha gue buat tes selanjutnya.

Yang gue ingat saat itu gue hanya bisa ngucapin, "kak zya nggak bisa, susah, ummi nggak tau sesusah apa ini", gue bener-bener jadi orang paling insecure dan nyerah sedunia. Rasanya, dunia berakhir kalo gue sampai nggak masuk kedokteran. Padahal, sebenernya keluarga gue pun nggak terlalu menuntut gue harus dikedokteran tapi entah kenapa keinginan gue sebesar itu.

Pada akhirnya, gue kembali berjuang seperti sebelumnya.

Sampai di hari terakhir, malam terakhir gue belajar buat utbk 2. Dan gue bener-bener nyampe di tahap nangis karena ngerasa gue nggak belajar apa-apa di dua bulan intensif sbm. Gue sibuk mematok target dan sibuk memenuhi ekspektasi orang sampai nggak sadar kalo sebenernya itu nggak terlalu penting. Karena kadang, terlalu tinggi target yang kita punya justru jadi beban terberat selama kita berjuang buat gapai itu.

Tes kedua lebih susah dan berat dari sebelumnya.

Pertanyaan yang sama dari hari ke hari terus terputar, "nyampe nggak ya gue di nilai 700 buat ke unpad?".

Well said, pengumuman nilai utbk 2 dimajuin. Gue semakin tegang dan nggak siap dengan segala halnya. Pikiran-pikiran, "gimana kalo?" "gimana jika?" juga terus terputar.

Pernah denger kalimat, "usaha nggak akan pernah ngekhianatin hasil", pasti pernah lah ya.

Dan saat itu, gue menjadi orang yang dikhianatin usaha sendiri. Gue terpuruk karena nilai gue turun, sama sekali nggak ada bagus-bagusnya, dan sama sekali nggak sebanding sama apa yang udah gue perjuangin. Gue nyampe pada fase nggak ngerti harus dibawa kemana cita-cita gue. Selama itu gue terus termenung, menjadi orang yang lebih lama berada diatas sajadahnya, lebih lama berdoa sambil menangis.

Nggak lama gue bersedih, karena ya buat apa? Kalo gue berlarut-larut dalam kesedihan terus kapan gue mempersiapkan masa depan gue dengan alternatif lain?

Akhirnya, gue mulai mencari peluang lain untuk mengikhlaskan cita-cita kedokteran gue. Karena kadang, bakal datang sesuatu yang lebih baik ketika kita sudah belajar buat mengikhlaskan.

Gue juga nggak akan menyalahkan pemerintah, karena ya buat apa? Toh, dengan begini mungkin diharapkan akan lahir generasi yang hebat buat Indonesia. Pengharapan yang entahlah akan jadi kenyataan atau nggak. Mungkin maksud pemerintah baik, tapi hanya sepersekian persen kebaikan itu yang bisa gue tangkap maksudnya. Intinya, lo harus banyak-banyakin duit biar bisa daftar mandiri, udah itu aja kali maksudnya.

Sekarang gue udah jauh baik-baik aja dari sebelumnya. Gue udah mulai ikhlas dengan segala hal yang datang pada gue beberapa waktu terakhir ini. Mungkin, nantinya jodoh gue adalah seorang dokter sehingga Allah ingin gue fokus menjadi ibu dan istri yang sholehah tanpa harus bekerja sama beratnya. Hikmah sekecil itu yang menjadi mungkin kalo kita mau buat mencari dan terus berdoa.

Jadi, poin gue dengan adanya tulisan ini adalah jangan pernah menyesal dengan semua perjuangan yang udah lo lakuin. Tadinya mungkin gue menyalahkan ribuan waktu yang gue kerahkan dengan hasil dibawah target, tapi ternyata dengan adanya kejadian ini, menjadikan gue lebih realistis dari sebelumnya. Universitas nggak menjamin kesuksesan seseorang, dan jurusan juga nggak akan menjamin kesuksesan seseorang.

Sukses bakal ada buat siapapun yang mau berusaha.

Sampai kapan harus berusaha?

Nggak ada yang tau sampai lo udah diambil sama yang maha kuasa buat mempertanggung jawabkan semua yang udah lo lakuin selama di dunia.

Kalo kata Kak Gita, "it's the will, not the skill".

Ini semua hanya tentang kemauan, bukan tentang kemampuan.

Yang mampu bakal kalah sama orang yang punya kemauan besar.

Sukses terus kalian, dimanapun, dan bersama siapapun.

***

Komentar

  1. Asli nangis bacanya, ngingetin banget buat jangan pernah berhenti berusaha dan bersyukur apapun hasilnya. Haza kudu banget bersyukur karena lahir ditengah orang orang yang support sama kamu. Keep up the good work! ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. huhu kamu juga ya!!! apapun keadaannya jangan lupaaa bersyukur dan bahagia♥ you deserve better too anywayyy thanks for always support :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer