Halo, selamat malam para penikmat malam minggu dan penikmat rindu.
Tepatnya, beberapa bulan terakhir, gue nggak tau kapan tepatnya, yang jelas semenjak masa akhir sekolah gue merasakan hal ini. Sesederhana pikiran yang penuh akan segala sesuatu, it sucks you know, it's really suck.
Ketika SD dan SMP gue sama sekali nggak pernah mempermasalahkan persoalan nilai atau rapot, eh nggak deng. Stres juga sih, apalagi waktu SD, gue ngerasa paling bego ketika dapet nilai 7 waktu ujian. Dan waktu SMP, mungkin karena di sekolah gue dulu setiap bulan ada rapot bulanan jadi ngerasa lebih kompetitif aja. Tapi, entah kenapa gue ngerasain banget perbedaan yang signifikan saat "dulu" dan "sekarang".
Entah bagaimana, gue merasakan perbedaan pola pikir yang amat sangat mengganggu.
Ketika dulu, dapet nilai jelek maka gue akan berakhir kecewa dengan diri sendiri, walaupun cuma di hari itu aja dan besoknya gue udah lupa gitu aja. Dan gue nggak akan pernah expect apapun kalau ternyata di tahun 2019, segalanya berubah lalu menjadi sangat abu-abu. Seakan-akan jika gue bodoh hari ini, maka masa depan gue akan semakin terasa jauh.
Itu yang lagi gue hadapi sekarang.
Setiap hari gue selalu merasa kurang. Gue terus merasa insecure sama diri sendiri. Dan gue terus ingin menjadi lebih baik dari orang lain. Pikiran gue menjadi liar, gue mulai mengincar banyak hal, dan gue selalu memikirkan berbagai cara, "bagaimana kalau", atau "bagaimana jika".
Gue, si anak bodoh ini, terus menerus berimpian dan berdoa supaya bisa jadi anak pintar. Gue selalu mencari cara gimana bisa jadi anak pintar yang selalu dianggap positif oleh orang lain. Bagaimana cara supaya kita nggak lagi dianggap remeh oleh "mereka".
Hanya, bagaimana?
Mungkin banyak orang disekitar gue yang menganggap gue adalah anak pemikir dan lebay. Menyalahkan segala ke-insecure-an gue pada diri sendiri. Most of them, menganggap hal itu justru salah, dan terus menerus menghakimi, tapi nggak memberi solusi. Terus buat apa?
Gue nggak butuh dikatain, "ayo semangat!" "ayo berusaha!" "ayo bangun!" "ayo belajar!" atau hal-hal lain yang berkaitan. Karena faktanya, gue aja nggak bisa menerima support dari orang sekitar apalagi dari diri gue sendiri? Support system yang gue butuhkan hanyalah, "lo udah berusaha keras, lo adalah orang hebat", dan sampai sekarang gue belum menemukan itu. Atau lebih spesifiknya, gue belum menemukan seseorang itu.
Walaupun ada, beberapa sahabat gue yang berhasil mengatakan kalau gue udah berusaha dan diakhir ada kalimat lain yang justru lagi nggak ingin gue dengar.
"Tapi, lo masih harus terus berusaha."
Sampai batas mana gue harus berusaha? Gue tau diri dan mengerti sampai mana harus berjuang. Tapi kadang, gue juga butuh untuk dimengerti bahwa gue sudah berusaha maksimal. Walaupun faktanya, hasil yang gue peroleh selalu kurang dari anak kebanyakan.
Kenapa?
Apa yang salah dari gue?
Apakah gue harus nggak tidur demi menjadi orang pintar?
Apakah usaha gue masih kurang dari anak kebanyakan?
Apakah gue memang harus lebih berusaha lagi supaya sedikit aja ada yang mengakui eksistensi gue didunia ini?
Karena, sekeras apapun usaha yang udah gue berikan semua orang akan tetap sama. "Hah? Hazara? Yang mana?" Gue tidak berusaha mencari pengakuan soal ketenaran atau as famous person yang dipikirkan orang, gue hanya ingin kalau keberadaan gue "ada" disekitar. Banyak fakta yang kadang membuat gue tidak ingin dekat dengan siapapun.
Hanya karena gue nggak ingin dibandingkan.
Gue nggak ingin dijadikan perbandingan yang justru membuat gue terlihat kasihan.
Gue nggak ingin hanya dijadikan opsi kesekian hanya karena si ahli yang berhalangan.
Gue hanya ingin usaha gue diakui.
Cuma itu, gue nggak minta lebih.
Karena, sekarang gue sedang mencoba realistis. Apa yang sedang gue hadapi sekarang bikin gue aware, kalau tingkat usaha seseorang hanya bisa diukur dengan hasil yang memuaskan.
Malam sebelum ujian gue akan menghabiskan waktu lama hanya untuk mengulang materi.
Besoknya saat ujian gue ngerasa baik-baik aja.
Tapi di hari saat nilai dibagikan, hasilnya selalu dibawah rata-rata. Bahkan gue nggak expect kalo ternyata usaha gue hanya berakhir dengan nilai "kursi".
Malam sebelum try out matematika gue harus mengorbankan waktu tidur hanya untuk memahami satu soal yang sama sekali nggak bisa gue kerjakan.
Lucunya, lagi-lagi saat ujian gue ngerasa bisa.
Tapi lebih lucu saat hasilnya selalu dibawah ekspekstasi.
Itulah hebatnya tentang usaha.
Dan gue mulai mengerti, ternyata gue harus lebih berusaha lagi.
Dan gue mulai menyadari, entah sampai kapan gue harus terus berusaha.
Dan gue mulai menyiapkan diri, jika nantinya gue harus gagal, lagi.
Tandanya, gue harus lebih berusaha kan?
Usaha emang nggak akan ada batasnya.
Dan selamanya, mungkin, gue akan terus menjadi Hazara si penyendiri yang harus selalu berusaha.
22:12 WIB.
🖤🖤
BalasHapus