Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Kita Berbeda tapi Kita Tetap Sama | HAZA X KAKAK

***





***

Halo!

Dari headline tulisan mungkin kalian udah bisa nebak sih di segmen kali ini aku mau bahas tentang apa. Sebenarnya ini based on “tugas kakak” yang sekarang lagi kuliah di Jurusan Psikologi salah satu universitas swasta di Kota Malang. Terus kebetulan dia nyadar kali ya kalo adeknya suka banget ngomenin hal yang lagi happening dan kebanyakan ngomong entah didunia tulisan ataupun nyata.

Oke. Ayo kita kupas.

Mungkin banyak society yang masih belum terlalu memahami “Apa sih Anak Bekebutuhan Khusus itu?”,“Kok bisa sih anak itu jadi Heward (ABK)?”,”Apa aja faktornya?”, yang sebenernya kalo nggak gara-gara kakak juga aku nggak bakal buka tentang kasus Heward ini.  

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain : tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan, istilah lain bagi ABK adalah anak luar biasa.

Masalah teori bisa kalian dalami sendiri lewat internet atau sumber lain ya. Diatas aku Cuma kasih gambaran umum aja.

Jadi, sebenarnya apa tujuan aku menulis ini? Karena biasanya aku nulis kalo lagi ada masalah yang ditimbulkan dari suatu persoalan. Tapi, ABK? Kok bisa?

Selain karena bantuin tugas kakak, tapi baru-baru ini aku lagi pengen cari topik lagi yang sedikit sensitif buat aku angkat lewat tulisan. Surprisingly, I found it!

Selama ini, yang kita tau ABK selalu mendapatkan “label” sendiri dalam society. “Eh, anak itu rada gini ya”,”Oh, pantesan anaknya pecicilan, ABK ternyata”,”Itu lo, si Fulan, aneh banget soalnya ABK”. Well, mereka terlalu menomorsekiankan anak-anak hebat ini. Banyak yang hanya peduli pada apa yang terlihat, padahal anak seperti ini justru punya banyak sekali kelebihan yang nggak bisa dilihat dalam sekali pertemuan aja.

Mungkin, some of our society memang menaruh perhatian besar pada ABK. Mereka peduli, mereka perhatian, dan rela mendalami ilmu Pendidikan Luar Biasa. Namun, tetap keberadaan ABK dalam society selalu berada di kasta bawah yang nggak bisa mendapat kesempatan sama dalam hidup.

Apakah lahir dengan keadaan seperti itu adalah permintaan mereka?

Apakah saat datang ke dunia terbesit pada pemikiran mereka kalau nantinya akan jadi buta atau tuli?

Apakah itu kemauan mereka untuk berpikir sedikit berbeda dari anak-anak seusianya?

The answer is, no.

They don’t wanna be that way.

Lantas, apakah dunia akan terus seperti ini dalam memberi kesempatan pada anak-anak luar biasa?

Iya, mungkin. Karena, sebagian berpikir bahwa anak luar biasa memang sangat berbeda dan selamanya mereka akan berada di dunia yang berbeda dari orang normal.

What are jokes?

Berbeda bukan berarti tidak sama. Berbeda hanyalah label khusus yang membuat sebagian orang menutup mata, mulut, bahkan telinga supaya tidak perlu kerepotan mengurus kehidupan.

Anak luar biasa menjadi berbeda karena Allah swt. ingin hidup tetap bisa berjalan dengan adil.

Semua hal diciptakan di dunia selalu dengan berjuta manfaat. Kalau orang-orang banyak menilai bahwa anak luar biasa bisanya Cuma nyusahin doang, jadi itu mengindikasikan kalo dia lagi menghina pemilik dunia ini, dong? Kata Kak Gitasav, makhluk sekecil lalat aja yang masih bikin bingung apakah eksistensi-nya di dunia ini, juga pasti punya manfaat. Apalagi, makhluk sesempurna manusia?

Berdasarkan survey yang aku lakukan lewat dunia maya semalam, banyak jawaban yang sama, dan itu kebanyakan mengenai respek mereka dengan anak luar biasa.

Kira-kira variasi jawabannya seperti ini,

“Aku kalo ngeliat anak-anak kayak gitu tuh jadi sedih, simpati, tapi kadang juga bisa jadi motivasi."

“Menurutku, aku malah kasian ngeliat mereka (tapi bukan kasian yang menyepelekan, lebih ke kasian yang sayang/cinta sama keberadaan mereka didunia). Pengen nemenin mereka, ngajakin ngobrol, atau ngurusin mereka.”

“Sebenernya, aku juga punya saudara anak luar biasa, justru aku ngerasa iri sama mereka, karena mereka kayak nggak punya dosa, jadi aku iri.” –funny answer, jawaban langka banget bok!

“Dulu waktu SD, pernah punya temen luar biasa. Sempet mikir gitu karena dia kadang ‘ganggu’. Dia pernah bikin suatu rangkaian listrik sederhana pake baterai + kawat, buat apa? Buat nyetrum guruku. Pada kesel semua akhirnya, tapi di umur segitu, nggak ada yang bisa bikin rangkaian listrik coy selain dia.”

Yap, jadi kurang lebih jawaban yang aku dapatkan seperti itu. Well, dari jawaban keempat mungkin disitu kita bisa menyimpulkan, di sisi dia punya hal ‘negatif’ tapi ternyata dia lebih unggul dari anak seusianya. Mungkin dari jawaban keempat banyak opini juga kalau anak itu bener-bener luar biasa, sampai berani nyetrum si guru, tapi woy? Dia butuh buat ditemani, butuh untuk dituntun, memanfaatkan kelebihan yang dia punya kepada hal lebih baik, tapi justru semuanya berbalik, menjadikan dia menjadi penjahat yang disalahkan dimanapun itu.

Berakhir, anak luar biasa “lagi-lagi” tidak memiliki kesempatan sama dalam society. Mereka justru mengais kasih sayang dari orang yang bahkan tidak respect sedikitpun dengan adanya mereka di dunia ini. Lagi-lagi lahirnya anak luar biasa dianggap suatu kesalahan dan dianggap menjadi suatu penyakit yang sangat mengganggu sampai tidak ditemukan obatnya.

Mirisnya, di panti asuhan pun banyak sekali ditemukan anak luar biasa yang mungkin “sengaja” dibuang oleh orang tuanya. Karena dianggap dengan adanya mereka segalanya menjadi sulit, dengan adanya mereka hidup menjadi susah, dengan adanya mereka tidak ada yang namanya kebahagiaan dalam hidup, dan alasan lain yang akhirnya membuat si orang tua berakhir tidak mensyukuri kehadiran sang buah hati lalu membuangnya.

Mari menghela napas sejenak.

Jadi, point dari tulisan ini adalah bagaimana caranya agar anak luar biasa ini dapat memiliki kesempatan yang sama di dalam society. Mereka boleh berbeda, tapi mereka nggak boleh dikesampingkan dalam hal mendapat hak yang sama dengan orang lain.

That’s my point, actually. 

Entah kalian akan memahami atau nggak, yang pastinya setelah ini aku berharap nggak ada lagi yang meremehkan adanya anak-anak luar biasa ini dalam kehidupan kita.

Dibawah akan aku cantumkan review tulisan dari kakak aku mengenai poster yang udah aku cantumkan diatas.

Sekian.

***

Kita BERBEDA tapi Kita Tetap SAMA.

Apa sih maksud dari kalimat itu?

Kenapa kita yang orang normal disamakan dengan para orang-orang berkebutuhan khusus yang jelas mereka BERBEDA dengan kita?

Memang kita orang normal memiliki perbedaan dengan mereka. Tetapi itu hanya sebatas fisik saja. Ya, hanya FISIK saja! Tapi untuk hal yang lain bagaimana? SAMA.. Ya kita tetap sama dengan mereka. Kita sama-sama makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Kita sama-sama memiliki hak untuk hidup tinggal di bumi ini. Kita sama-sama berhak melakukan segala hal yang kita inginkan. Dan yang terpenting adalah kita sama-sama MANUSIA.

Jadi... kita tidak memiliki perbedaan yang begitu berarti dengan mereka. Sama sekali tidak ada. Mereka sama seperti kita. Kita sama seperti mereka. Kita dan mereka sejajar. Perbedaan mengenai fisik tidak akan mempengaruhi segalanya.

Dilahirkan dalam kondisi semacam itu bukan keinginan mereka. Mereka tidak minta dilahirkan dalam kondisi tuli. Mereka tidak minta dilahirkan dalam kondisi buta. Mereka tidak minta dilahirkan dalam kondisi memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Jelas jawabannya adalah TIDAK. Mereka ingin lahir normal. Mereka ingin seperti kita menjadi orang-orang yang normal. Tapi harus bagaimana lagi semua itu adalah takdir yang diberikan Tuhan kepada mereka. Kepada kita. Maka dari itu yang harus kita lakukan adalah menjalani kehidupan dengan baik. Tentu mereka juga harus menjalani kehidupan dengan baik pula. Itulah yang dinamakan persamaan atau kesejajaran. Kita dan mereka sama-sama harus hidup dengan baik.

Oleh karena itu mulai sekarang cobalah untuk menganggap mereka sama seperti kita. Karena mereka juga berhak hidup dengan baik, sama seperti kita. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang memiliki hak sama seperti kita. Tanam sikap saling peduli kepada mereka. Karena mereka membutuhkan kita. Kita juga membutuhkan mereka. Kita dan mereka sama-sama membutuhkan satu sama lain. (Review tulisan : Hilya Nadiha Maula El-Hakeem a.k.a my sister)

***

Komentar

Postingan Populer