***
***
Halo!
Dari
headline tulisan mungkin kalian udah bisa nebak sih di segmen kali ini aku mau
bahas tentang apa. Sebenarnya ini based on “tugas kakak” yang sekarang lagi
kuliah di Jurusan Psikologi salah satu universitas swasta di Kota Malang. Terus
kebetulan dia nyadar kali ya kalo adeknya suka banget ngomenin hal yang lagi
happening dan kebanyakan ngomong entah didunia tulisan ataupun nyata.
Oke.
Ayo kita kupas.
Mungkin
banyak society yang masih belum terlalu memahami “Apa sih Anak Bekebutuhan
Khusus itu?”,“Kok bisa sih anak itu jadi Heward (ABK)?”,”Apa aja
faktornya?”, yang sebenernya kalo nggak gara-gara kakak juga aku nggak bakal
buka tentang kasus Heward ini.
Anak
berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang
berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan
mental, emosi, atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain : tunanetra,
tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan
perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan, istilah lain bagi ABK
adalah anak luar biasa.
Masalah
teori bisa kalian dalami sendiri lewat internet atau sumber lain ya. Diatas aku
Cuma kasih gambaran umum aja.
Jadi,
sebenarnya apa tujuan aku menulis ini? Karena biasanya aku nulis kalo lagi ada
masalah yang ditimbulkan dari suatu persoalan. Tapi, ABK? Kok bisa?
Selain
karena bantuin tugas kakak, tapi baru-baru ini aku lagi pengen cari topik lagi
yang sedikit sensitif buat aku angkat lewat tulisan. Surprisingly, I found it!
Selama
ini, yang kita tau ABK selalu mendapatkan “label” sendiri dalam society. “Eh,
anak itu rada gini ya”,”Oh, pantesan anaknya pecicilan, ABK ternyata”,”Itu lo,
si Fulan, aneh banget soalnya ABK”. Well, mereka terlalu menomorsekiankan
anak-anak hebat ini. Banyak yang hanya peduli pada apa yang terlihat, padahal
anak seperti ini justru punya banyak sekali kelebihan yang nggak bisa dilihat
dalam sekali pertemuan aja.
Mungkin,
some of our society memang menaruh perhatian besar pada ABK. Mereka peduli,
mereka perhatian, dan rela mendalami ilmu Pendidikan Luar Biasa. Namun, tetap
keberadaan ABK dalam society selalu berada di kasta bawah yang nggak bisa
mendapat kesempatan sama dalam hidup.
Apakah
lahir dengan keadaan seperti itu adalah permintaan mereka?
Apakah
saat datang ke dunia terbesit pada pemikiran mereka kalau nantinya akan jadi
buta atau tuli?
Apakah
itu kemauan mereka untuk berpikir sedikit berbeda dari anak-anak seusianya?
The answer
is, no.
They
don’t wanna be that way.
Lantas,
apakah dunia akan terus seperti ini dalam memberi kesempatan pada anak-anak
luar biasa?
Iya,
mungkin. Karena, sebagian berpikir bahwa anak luar biasa memang sangat berbeda
dan selamanya mereka akan berada di dunia yang berbeda dari orang normal.
What
are jokes?
Berbeda
bukan berarti tidak sama. Berbeda hanyalah label khusus yang membuat sebagian
orang menutup mata, mulut, bahkan telinga supaya tidak perlu kerepotan mengurus
kehidupan.
Anak
luar biasa menjadi berbeda karena Allah swt. ingin hidup tetap bisa berjalan
dengan adil.
Semua
hal diciptakan di dunia selalu dengan berjuta manfaat. Kalau orang-orang banyak
menilai bahwa anak luar biasa bisanya Cuma nyusahin doang, jadi itu
mengindikasikan kalo dia lagi menghina pemilik dunia ini, dong? Kata Kak
Gitasav, makhluk sekecil lalat aja yang masih bikin bingung apakah
eksistensi-nya di dunia ini, juga pasti punya manfaat. Apalagi, makhluk sesempurna
manusia?
Berdasarkan
survey yang aku lakukan lewat dunia maya semalam, banyak jawaban yang sama, dan
itu kebanyakan mengenai respek mereka dengan anak luar biasa.
Kira-kira
variasi jawabannya seperti ini,
“Aku
kalo ngeliat anak-anak kayak gitu tuh jadi sedih, simpati, tapi kadang juga
bisa jadi motivasi."
“Menurutku,
aku malah kasian ngeliat mereka (tapi bukan kasian yang menyepelekan, lebih ke
kasian yang sayang/cinta sama keberadaan mereka didunia). Pengen nemenin mereka,
ngajakin ngobrol, atau ngurusin mereka.”
“Sebenernya,
aku juga punya saudara anak luar biasa, justru aku ngerasa iri sama mereka,
karena mereka kayak nggak punya dosa, jadi aku iri.” –funny answer, jawaban
langka banget bok!
“Dulu
waktu SD, pernah punya temen luar biasa. Sempet mikir gitu karena dia kadang ‘ganggu’.
Dia pernah bikin suatu rangkaian listrik sederhana pake baterai + kawat, buat
apa? Buat nyetrum guruku. Pada kesel semua akhirnya, tapi di umur segitu, nggak
ada yang bisa bikin rangkaian listrik coy selain dia.”
Yap,
jadi kurang lebih jawaban yang aku dapatkan seperti itu. Well, dari jawaban
keempat mungkin disitu kita bisa menyimpulkan, di sisi dia punya hal ‘negatif’
tapi ternyata dia lebih unggul dari anak seusianya. Mungkin dari jawaban
keempat banyak opini juga kalau anak itu bener-bener luar biasa, sampai berani
nyetrum si guru, tapi woy? Dia butuh buat ditemani, butuh untuk dituntun,
memanfaatkan kelebihan yang dia punya kepada hal lebih baik, tapi justru
semuanya berbalik, menjadikan dia menjadi penjahat yang disalahkan dimanapun
itu.
Berakhir,
anak luar biasa “lagi-lagi” tidak memiliki kesempatan sama dalam society. Mereka
justru mengais kasih sayang dari orang yang bahkan tidak respect sedikitpun
dengan adanya mereka di dunia ini. Lagi-lagi lahirnya anak luar biasa dianggap
suatu kesalahan dan dianggap menjadi suatu penyakit yang sangat mengganggu
sampai tidak ditemukan obatnya.
Mirisnya,
di panti asuhan pun banyak sekali ditemukan anak luar biasa yang mungkin “sengaja”
dibuang oleh orang tuanya. Karena dianggap dengan adanya mereka segalanya
menjadi sulit, dengan adanya mereka hidup menjadi susah, dengan adanya mereka
tidak ada yang namanya kebahagiaan dalam hidup, dan alasan lain yang akhirnya
membuat si orang tua berakhir tidak mensyukuri kehadiran sang buah hati lalu
membuangnya.
Mari
menghela napas sejenak.
Jadi,
point dari tulisan ini adalah bagaimana caranya agar anak luar biasa ini dapat
memiliki kesempatan yang sama di dalam society. Mereka boleh berbeda, tapi
mereka nggak boleh dikesampingkan dalam hal mendapat hak yang sama dengan orang
lain.
That’s
my point, actually.
Entah kalian akan memahami atau nggak, yang pastinya
setelah ini aku berharap nggak ada lagi yang meremehkan adanya anak-anak luar
biasa ini dalam kehidupan kita.
Dibawah
akan aku cantumkan review tulisan dari kakak aku mengenai poster yang udah aku
cantumkan diatas.
Sekian.
***
Kita BERBEDA tapi Kita Tetap SAMA.
Apa sih maksud dari kalimat itu?
Kenapa kita yang orang normal
disamakan dengan para orang-orang berkebutuhan khusus yang jelas mereka BERBEDA
dengan kita?
Memang kita orang normal memiliki
perbedaan dengan mereka. Tetapi itu hanya sebatas fisik saja. Ya, hanya FISIK
saja! Tapi untuk hal yang lain bagaimana? SAMA.. Ya kita tetap sama dengan
mereka. Kita sama-sama makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Kita sama-sama
memiliki hak untuk hidup tinggal di bumi ini. Kita sama-sama berhak melakukan
segala hal yang kita inginkan. Dan yang terpenting adalah kita sama-sama
MANUSIA.
Jadi... kita tidak memiliki
perbedaan yang begitu berarti dengan mereka. Sama sekali tidak ada. Mereka sama
seperti kita. Kita sama seperti mereka. Kita dan mereka sejajar. Perbedaan
mengenai fisik tidak akan mempengaruhi segalanya.
Dilahirkan dalam kondisi semacam itu
bukan keinginan mereka. Mereka tidak minta dilahirkan dalam kondisi tuli.
Mereka tidak minta dilahirkan dalam kondisi buta. Mereka tidak minta dilahirkan
dalam kondisi memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Jelas jawabannya adalah
TIDAK. Mereka ingin lahir normal. Mereka ingin seperti kita menjadi orang-orang
yang normal. Tapi harus bagaimana lagi semua itu adalah takdir yang diberikan Tuhan
kepada mereka. Kepada kita. Maka dari itu yang harus kita lakukan adalah
menjalani kehidupan dengan baik. Tentu mereka juga harus menjalani kehidupan
dengan baik pula. Itulah yang dinamakan persamaan atau kesejajaran. Kita dan
mereka sama-sama harus hidup dengan baik.
Oleh karena itu mulai sekarang
cobalah untuk menganggap mereka sama seperti kita. Karena mereka juga berhak
hidup dengan baik, sama seperti kita. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang
memiliki hak sama seperti kita. Tanam sikap saling peduli kepada mereka. Karena
mereka membutuhkan kita. Kita juga membutuhkan mereka. Kita dan mereka
sama-sama membutuhkan satu sama lain. (Review tulisan : Hilya Nadiha Maula
El-Hakeem a.k.a my sister)
***
Komentar
Posting Komentar