Barusan tiba-tiba aku pengen bikin cerita baru dong. Dan selama ini aku nggak pernah bikin cerpen, pengen nyobain deh gimana. Apakah aku bisa fokus?
Terinspirasi sama salah satu quotesnya Akanksha Gulia, yang sampai sekarang aku nggak tau apakah dia cowok atau cewek, pokoknya aku suka sama cara dia menginterpretasikan apa arti kata "cinta".
Selamat membaca ya! Aku nggak tau apakah ini akan menjadi karya kesekian yang akan aku entri di akun wattpad. Kalau banyak yang baca mungkin bakal aku entri ke akun wattpad, guys!
Embun menghela napas untuk kesekian kalinya. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, dia sedang dalam masa rekonstruksi hati pasca ditinggalkan oleh seorang laki-laki. Laki-laki yang didambanya beberapa tahun belakangan, semenjak gadis itu menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.
Embun Grizelle, nama gadis yang saat ini sibuk dengan layar laptop yang menampilkan sederetan kalimat mutiara tentang cinta, ah lagi-lagi kata itu. Iya, cinta. Sampai sekarang Embun masih enggan menyebut secara gamblang makna dari kata sakral dengan ribuan arti itu. Dirinya terlalu enggan terus menerus larut dalam drama kehidupan yang pelik mengenai cinta.
Katanya kesempurnaan itu mitos tapi aku melihat kesempurnaan dalam dirimu, apakah itu artinya kamu adalah mitos?
Ha.
Lucu.
Bahkan sederet kalimat mutiara itu masih jelas terekam dalam ingatannya. Ketika beberapa waktu lalu dengan mudahnya laki-laki bernama Tirta, yang selama ini menjadi tambatan hatinya, tiba-tiba out of the blue secara frontal membicarakan masalah sayang-menyayangi yang sampai sekarang masih sangat asing dalam kamus hidup Embun.
Bahkan detail kalimat yang diucapkan Tirta masih dapat diulangnya dengan lancar.
Embun menghelas napas saat itu. Dia lelah, beberapa hari dibendung oleh tugas kuliah yang seakan mencekiknya, dan jangan tanya betapa banyak deadline lain yang menunggunya.
"Ta, kalau kamu cuma mau gangguin saya ngerjain tugas, mending lain waktu aja deh. Saya lagi males buat diajak ngobrol." Ujar Embun dingin, walaupun, kalau boleh jujur jantungnya seakan terasa meledak disaat Tirta mengajaknya makan di café dekat kampus sore itu. Tapi, lagi-lagi tugas sialan membuat mood seorang Embun Grizelle jatuh ke dasar jurang yang dinamai kekesalan tak berujung.
Tirta ikut menghelas napas. "Saya mau ngomong serius sama kamu. Kalau kamu mau denger, mungkin nggak sampai 10 menit saya udah selesei bicara."
Embun menyerah. Dia menyisihkan laptop serta hpnya kearah kiri. Tangannya dia tumpukan ke atas meja, bersiap mendengar "hal serius" yang akan diucapkan Tirta padanya.
"Iya, saya denger. Waktu saya nggak banyak, so please,.."
Tirta menyeruput jusnya sebelum berbicara. Membasahi kerongkongan yang terasa kering akibat debar aneh dari salah satu organ tubuhnya, yang dinamai jantung.
Gantian Embun yang mulai merasa tidak tenang akibat kalimat yang akan Tirta ucapkan. Dirinya perlahan menurunkan tangan dan diletakkan diatas paha, mulai menautkan kedua tangannya yang terasa berkeringat.
Siapa sangka, Tirta Gavin Kalandra, ketua BEM salah satu Universitas bergengsi di Bandung, yang fotonya sering mejeng di instagram hits Bandung, dan dengan
followers bejibun di Instagram, pujaan semua teteh-teteh dari kota dengan julukan Paris Van Java, akan seterang-terangan ini menyampaikan perasaannya pada seorang Embun Grizelle yang hanya seorang mahasiswi biasa, dengan kesibukan "biasa aja" jika dibandingkan dengan Tirta. Dan Embun yang selama ini sama seperti cewek lainnya, hanya bisa mengagumi Tirta lewat foto, atau kalau lagi beruntung bisa ketemu ketika makan di kantin jurusan karena mereka berada di fakultas dan jurusan yang sama, Ilmu Komunikasi, namun sekarang, sebongkah es justru terasa menjatuhi kepalanya hingga membuat cewek ini tersedak ludahnya sendiri saking tidak adanya persiapan untuk mendapat pernyataan kayak gini dari Tirta.
Memang, beberapa bulan ini ada
project Artworking bekerja sama dengan anak seni, dan kebetulan (lagi-lagi) membuat Embun serta Tirta harus berada dalam ring yang sama. Bukan senangnya Embun bisa bertemu dengan orang yang berhasil mencuri atensinya sejak pertama kali berada di kampus. Namun, gadis ini terlalu pintar memalsukan hingga sifat dingin yang melekat pada dirinya selalu membuat Tirta kepayang.
"Ehem." Deheman singkat Tirta membuat kepala Embun yang tadinya menunduk langsung tegak seketika.
Ah, dia sedang bingung saat itu.
"Kamu paham maksud saya?" Tirta bertanya lagi, dengan nada kalem, karena nggak ada respon berarti yang ditunjukkan Embun saat itu.
Embun menggeleng singkat. "Saya nggak ngerti, Ta. Saya bingung.." Ujar Embun dengan nada sumbang, gerakan matanya tidak fokus. Tiba-tiba tugas yang sedari tadi membuat moodnya turun seakan hilang entah kemana, digantikan oleh kebingungan luar biasa berasal dari cowok dihadapannya.
"Perlu saya jelaskan?"
Embun hanya diam. Matanya memandang kosong kearah Tirta yang hanya tersenyum teduh, seperti biasanya.
"Sini tangan kamu." Tirta menengadahkan tangan kanannya diatas meja, bermaksud meminta tangan Embun untuk berada dalam genggamannya. Gadis itu hanya bisa terdiam tanpa paham apa maksud dari Tirta yang tiba-tiba ini.
"Embun.."
"...ya?"
"Sini.." Embun hanya menurut akhirnya. Menaruh tangannya diatas tangan Tirta yang hangat di sore yang sedang turun hujan saat itu.
Badan Embun menegang merasakan sensasi aneh yang menjalari tubuhnya sore itu. Mendadak impiannya yang selama ini mengendap di otak seakan keluar dari peraduan dan semuanya menjadi kenyataan. Mimpi apa dia semalam hingga laki-laki yang selama ini hanya ia kagumi dari jauh sekarang malah ada didepannya, sambil menggenggam tangannya pula.
Ya Tuhan..
"Saya suka sama kamu, Embun."
"Saya sayang sama kamu."
"Kata Akanksha Gulia dalam kalimat mutiaranya, sempurna itu mitos, tapi saya melihat kesempurnaan dalam diri kamu. Kalau memang kamu itu mitos, izinkan saya untuk membuktikan kalau kamu bukan cuma sekedar mitos.."
"Mau kamu ngasih izin saya?"
Embun merasakan kepalanya pusing saat itu. Perutnya mual seakan ada sesuatu yang mengaduk-aduk disana. Jantungnya berdegup tidak seperti biasanya. Bulir keringat membasahi keningnya padahal udara sedang dingin-dinginnya.
"Ta, saya bingung.."
Lagi-lagi hanya itu yang bisa diucapkan Embun. Dia masih tidak menyangka akan sesuatu yang akan datang di hidupnya. Selama ini, menjadi dekat dengan Tirta hanya menjadi angan-angan Embun. Dirinya bisa satu tim dengan Tirta dalam project saja senangnya udah kayak menang lotere. Intinya, dia bersyukur walaupun hanya mengenal Tirta dari bingkai pertemanan tak disengaja ini.
Namun..
Kalau begini jadinya, Embun harus bagaimana?
"Saya akan nunggu kamu."
"Ta, maaf.. saya baru inget kalau ada urusan mendadak sekarang. Saya.. duluan ya." Secepat kilat Embun mengemasi barang-barangnya, tanpa peduli tatapan bingung yang ditujukan Tirta padanya.
Tirta dan Embun sama-sama terjebak oleh kebingungan oleh keadaan saat itu.
Hingga Embun selesai mengemasi barang dan berdiri dari duduknya. "Saya duluan, Ta. Nanti kalau ada yang mau dibicarain mengenai project, kamu hubungi Sandra aja biar dia sampein ke saya."
Tirta belum sempat menyampaikan apapun ketika Embun mendadak pergi dengan langkah seribu menjauh darinya. Suara hujan semakin deras membuat Tirta sadar kalau Embun tidak membawa payung dan dia kesini menaiki mobilnya tadi.
Embun masih berada dipelataran café ketika Tirta sudah mencegah pergelangan tangannya seraya berkata, "Saya antar, saya nggak mau dengar penolakan."
BRAK.
Embun tersadar dari lamunan panjangnya mengenai kejadian beberapa minggu yang lalu. Sebuah suara mengusik konsentrasi beberapa pengunjung perpus yang sedang sibuk siang ini. Begitu pula dengan Embun yang terlamun cukup lama hingga suara beberapa buku jatuh membuatnya terganggu.
Penasaran, Embun menghampiri sumber suara. Benar saja, seorang gadis tampak menjatuhkan beberapa buku dari rak yang cukup tinggi dan ya kayaknya gadis itu terlalu memaksakan diri untuk mengambil.
"Butuh bantuan,
teh?" Embun menawarkan.
Gadis tadi tersenyum mendapati ada orang yang masih peduli padanya ditengah kesibukan para manusia di perpustakaan itu. "Boleh,
ganggu enya, teh?" (
read: ganggu ya?)
Embun menggeleng sopan. Langkah kakinya mendekat dan mulai menyusun buku-buku yang jatuh serta menyusunnya sesuai nomor. "Saya panggilkan petugasnya aja ya,
teh? Ketinggian, saya nggak nyampe." Tawar Embun ketika melihat gadis yang diyakininya bernama Hana, menilik dari sampul binder yang tertera namanya, dan bermaksud berdiri untuk menuju ke bagian petugas perpus.
"Oh, boleh,
hatur nuhun, teh..?" Hana terlihat menggantung pernyataannya menjadi sebuah pertanyaan di akhir.
"Embun Grizelle, panggil aja Embun."
"
Teh Embun, saya Hana."
"Angkatan berapa?" Tanya Embun ramah.
"2017
teh, kalo
teteh?"
"2016. Oiya, Hana saya panggilin petugasnya dulu ya buat bantuin kamu balikin buku,-" ucapan Embun terputus ketika tiba-tiba datang suara dari balik tubuhnya.
"Biar saya yang bantu."
Hanya dengan sebaris kalimat singkat yang diucapkan oleh orang itu, berhasil membuat jantung Embun berdetak dengan cepat seperti kejadian 3 minggu lalu yang lagi-lagi kembali berputar dalam otaknya.
"Permisi, saya mau lewat." Dan dengan cepat Embun melangkah kesamping, mempersilahkan cowok itu berjalan melewatinya. Bahkan aroma semerbak langsung menggelitik indra penciumannya tepat ketika laki-laki itu berada didepannya.
Parfum yang sama.
Aroma yang dirindukannya.
Kemana saja laki-laki ini setelah mengucapkan pernyataan perasaan yang berhasil membuat hidup Embun nggak tenang setiap harinya?
Kemana saja laki-laki ini selama 21 hari membuat Embun kebingungan mencari kemana sebenernya cowok ini pergi?
Banyak hal ingin ditanyakan Embun saat ini, namun, semuanya hanya menjadi bias kekecewaan ketika Tirta justru pergi setelah membantu gadis bernama Hana tadi menaruh bukunya di rak.
Laki-laki itu terus berjalan menjauh. Membiarkan udara disekeliling Embun menjadi kosong kembali. Hana sudah pergi beberapa saat lalu. Dan Embun hanya termenung menghadap jendela.
Apa-apaan ini?
Apakah ini hanya sebuah permainan?
Kenapa semuanya terlihat mudah bagi Tirta namun tidak bagi Embun?
Tidak menunggu lama, Embun tersadar, kemudian segera berlari keluar perpustakaan. Meninggalkan semua barangnya disana. Hanya demi mengejar laki-laki yang dengan seenaknya datang dan pergi tanpa peduli segala gejolak yang mengganggu Embun.
Hujan turun, membasahi tubuh mungil Embun yang hanya berbalut kemeja floral pink serta celana jins putih yang kini memunculkan noda dari genangan air yang dia injak karena berlari. Sepatu kets putihnya juga sudah berubah warna menjadi kecokelatan.
Embun berhenti berlari ketika sebuah tangan putih terjulur dengan membawa payung maroon yang amat dihafalnya. Tanpa harus tau siapa pemilik tangan dan payung itu, Embun refleks membalikkan badannya dan mendapati Tirta berdiri dibelakangnya. Dengan badan yang juga basah kuyup.
"Kenapa hujan-hujanan?"
Hanya itu kalimat yang dilontarkan Tirta dengan memandang Embun penuh khawatir.
"Kenapa kamu hilang 3 minggu ini?"
Embun tidak menjawab pertanyaan Tirta, justru dirinya melontarkan pertanyaan lain untuk menjawabnya.
"Nanti kamu sakit."
"Nanti saya bingung kalo kamu hilang." Embun tiba-tiba terisak ditengah suaranya yang semakin hilang akibat menahan tangis.
"Kalau kamu sakit, nanti saya sedih." Tirta membelai lembut pipi Embun yang basah karena air hujan.
"Jangan pergi, Ta. Kamu harus menemukan jawabannya. Apakah kesempurnaan yang kamu bilang beneran mitos atau nggak." Embun semakin sesenggukan kehilangan suaranya, tangannya menggenggam tangan Tirta yang masih betah berada di pipinya.
"Saya takut nyakitin kamu."
"Saya nggak mau disakitin, tapi kalau kamu orangnya, saya yakin kamu bakal jadi obatnya juga. Jadi, jangan pergi, Ta."
Tirta tersenyum. Dirinya baru tau, kehadiran kita diharapkan oleh seseorang bisa segini besar pengaruhnya.
"Saya nggak akan pergi lagi."
Cinta itu sesederhana itu. Sesederhana ketika ada orang yang berkata "jangan pergi" atau "jangan sakit". Ketika muncul kata "jangan" maka akan muncul kata "nanti", yang definisinya hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang sedang terjatuh dalam pedihnya cinta.
Jatuh cinta itu juga jatuh.
Sama kayak kita ngerasain jatuh dari sepeda.
Sama-sama sakit.
Kalau jatuh dari sepeda kita bakal jatuh sendirian, tapi jatuh cinta kita bakal jatuh bersama orang yang mau jatuh bareng kita.
Lalu, apakah kesempurnaan cinta cuma suatu mitos?
the end.
***
Wah. Cukup menguras energi ternyata.
Ini mataku sampek pedih loh.
Aku nggak tau ini termasuk apa, karena semuanya mengalir kayak gitu aja. Aku cuma pengen kalian tau kalo jatuh cinta nggak sesederhana itu *wets apasih*
Pokoknya, aku cukup puas dengan hasil malam ini. Dari abis maghrib nih ngetiknya hehehe. Sampai ini tadi baru kelar capeeeeedeh.
Udah ya, semoga bisa nulis cerita yang lebih baik lagii!!!😆
Malang, 27 Desember 2018.
21:27 WIB.
Komentar
Posting Komentar