Hallo!
Malam ini, Malang kembali di guyur hujan deras. Suara hujan jatuh kembali mengingatkan gue betapa besarnya karunia yang udah dikasih Allah untuk makhluk-Nya. Dan kadang, kita sebagai manusia suka nggak pernah bersyukur betapa banyaknya nikmat yang belum pernah kita sadari bahwa hal sesederhana bisa berlindung dirumah dari hujan juga suatu nikmat. Jangan lupa, kalau diatas langit masih ada langit, we never know, apa aja yang bakal terjadi kalau kita nggak nginget Allah sedetik aja.
Oke.
Jadi, tepatnya hari ini, gue kembali merasakan kekesalan sama orang-orang disekitar. Sama manusia lain yang bersembunyi dibalik kata "teman", yang bahkan mereka sendiri sulit mendefinisikan apa arti dari kata itu.
Menurut kamus gue, temen adalah seseorang yang udah bisa masuk dalam kategori orang dekat, nggak jarang beberapa dari mereka bahkan masuk dalam kategori "sahabat". Temen adalah orang-orang yang udah ngerti bagaimana pribadi diri kita, dan sebaliknya. Tapi, malam ini, gue kembali mempertanyakan apa maksud dari temen itu sebenernya.
Selama ini, orang-orang yang bisa gue katakan sebagai temen adalah mereka yang baik sama gue, yang mengerti bagaimana harus bersikap pada seorang Hazara, yang nggak pernah bikin gue marah tanpa suatu alasan jelas, dan blablabla yang gue males nulisnya. Namun, semakin kesini, semakin gue mengerti siapa yang sebenernya tulus berteman dengan gue, dan siapa yang hanya datang silih berganti tanpa pernah menganggap gue adalah bagian dari mereka.
Dari dulu, gue adalah tipe orang yang nggak bingung bagaimana harus bersosialisasi dengan lingkungan baru. Gue nggak masalah jika harus dicap sebagai anak sksd, atau bahkan paling parah sebagai anak paling bacot seangkatan juga i don't mind. Just because, gue ngerasa suatu saat gue pasti akan butuh dengan salah satu dari orang-orang yang udah gue terima sebagai teman. Gue bukannya menjadikan mereka teman karena ada maunya, atau hanya ingin ambil manfaat dari suatu pertemanan, no, gue nggak kayak gitu. Gue hanya ingin menyadarkan diri sendiri, kalau didunia ini, banyak manusia baik yang gue inginkan untuk jadi temen gue.
Tapi, saat ini gue sadar, nggak ada yang bener-bener pengen temenan sama gue tanpa embel-embel lain. Gue nggak pengen bilang kalau 'temen' gue jahat, atau apa gitu lah. Hanya, gue ingin mereka semua tau, so far, sebenci-bencinya gue sama temen gue sendiri, sekesel-keselnya gue sama mereka, nggak pernah terbesit di pikiran untuk berhenti bergaul sama mereka, nggak pernah sama sekali. Gue udah kenyang pengetahuan tentang manusia model gimanapun, apalagi habis ini gue akan menginjak bangku perkuliahan (aamiin), which is disana gue akan semakin terjun ke dunia sosial yang sebenernya. Dan sekarang, gue akan mulai belajar, nggak selamanya orang yang baik ke gue, akan sama baiknya ketika besok gue bertemu lagi dengan 'dia'.
Balik lagi sama persoalan tadi, selama gue kesel sama temen sendiri, atau sama sahabat sendiri, gue nggak pernah ada maksud untuk menyakiti hati mereka sama dengan apa yang mereka lakukan pada gue. Sama sekali nggak pernah terbesit untuk balas dendam ke orang yang udah injek-injek gue di belakang, karena gue tau gimana rasanya dimusuhin, gimana rasanya di bully orang yang udah kita anggap temen deket.
Ayo, kita kupas kalau kalian pada nggak percaya.
-Hazara itu alay banget nggak sih? Dia itu banyak muka, cari muka dimana-mana. Sosoan pede ngomong didepan umum, ikut ini, ikut itu, padahal dia itu cari muka doang.
Gue nggak pernah bisa paham dengan komentar orang yang kayak gini. Gue bukan artis, gue nggak terkenal sama sekali, gue itu siapa sih sampek harus dikata-katain kayak gitu? Bahkan, tanpa gue harus mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut para 'nyinyir'ers, gue udah bisa nebak dari muka-muka orang, siapa aja yang nggak suka dengan apa yang gue lakukan dan bisa langsung tau apa yang akan mereka ucapkan pada orang lain mengenai gue. Selama ini, gue ikut berbagai macam hal, itu semata-mata untuk nge-challenge diri sendiri, aware sama bakat gue sebenernya dimana, dan apakah passion gue memang itu? Gue sama sekali nggak ada maksud untuk cari muka, biar terkenal disekolah, biar dikenal sama guru-guru, biar nilai gue dibagusin, or another sh*t reason. Itu hanya bonus kalau akhirnya banyak yang mengenal gue dari berbagai kegiatan yang gue ikuti. Itu. Hanya. Bonus. Mereka nggak pernah tau effort apa yang udah gue lakukan untuk mencapai semua hal itu, mereka hanya melihat apa yang terlihat, dan dengan seenaknya ngomentarin tanpa mau tau bagaimana perasaan orang yang dikomentarin tadi.
-Hazara itu sok heboh banget kan? Di chat aja bisa heboh gitu, sok ceria haha-hehe sana sini.
Gue mengakui kebenaran yang satu ini. Emang kok, gue di chat selalu terlihat heboh dan berlebihan, alay yang sering orang bilang. Contoh, ketika orang lain cuma bales 'Iya, sama-sama', maka gue akan membalas, 'iyaaaa samaaa-samaaa', like that. Gue hanya nggak ingin orang yang membaca pesan gue bakalan kesel hanya karena singkatnya balasan yang gue berikan. Beda coy rasanya, ketika membaca balasan, 'iya', dengan 'iyaaaaa'. Ngaku deh, iya nggak? Kalo gue sih iya. Jadi, bukan karena gue ingin terlihat 'sok' heboh, 'sok' ceria, nggak. Sekali lagi, gue hanya ingin orang lain membaca pesan yang gue kirimkan merasakan energi yang gue kirim dari pesan itu. Tapi kalau kalian ngerasa nggak nyaman, sorry, udah hukum alam diri gue diciptain alay kali ya. Temen gue, adalah dia yang bisa menerima kekurangan gue yang seperti ini.
-Hazara itu tukang ngeluh ya. Tugas gini dikit ngeluh, gitu dikit ngeluh, besoknya lagi ngeluh. Padahal semua orang juga sumpek, nggak cuma dia aja.
Biar sedikit gue luruskan. Gue adalah orang yang suka ngedumel sendiri, suka berbicara pada diri gue sendiri ketika merasakan capek yang luar biasa. Gue terlalu ekspresif menurut mereka, gue terlalu memperlihatkan apa yang sedang dirasakan, tanpa bisa memalsukan. Man, gue juga manusia, mana bisa gue memalsukan diri, dikata agen rahasia kali ya *apa hubungannya elah*, oke pokoknya gitu. Jadi, kalau telinga kalian ngerasa terganggu sama apa yang gue lontarkan, plis, hargain gue. Kalian kalau ingin mengeluh dengan kenceng seperti apa yang gue rasakan, sure, karena gue akan ikut mengeluh menertawakan hidup bareng sama kalian. Oke, kalau bilang nggak cuma gue doang yang sumpek, karena mungkin aja tugas kalian setebel tugas presiden sampek berani meremehkan masalah orang lain. Terserah sih, hak asasi. Yang penting gue sudah meluruskan.
-Hazara emang muka-muka pantes di bully sih, nggak kaget kalo waktu SD dia di bully. Ngeselin juga emang.
Ha. Let me laugh a lot right now. Siapa lo pantes ngomong kayak gitu? Udah ngerasa diri lo perfect sampek berani menyumpahi orang lain seperti itu? Sehina itu gue sampek pantes dibully ya? Terserah kalau mau mengartikan gue adalah orang yang baperan akut. Saking bapernya, sampek masalah gini aja di speak up-in diblog. Dasar alay. Iya, gue tau kok kalau Hazara sebaperan itu, jadi kalau nggak mau tau konfirmasi selanjutnya silahkan minggir dari lapak ini. Terima kasih.
Oke, jadi gue pernah di bully waktu SD. Alasan klise, karena mereka nggak suka berteman dengan gue. Kelas 4 kira-kira gue mengalami hal kelam yang sampek sekarang bikin gue terheran sendiri. Sebesar itu dampaknya buat psikis anak SD umur 10 tahun saat itu. Yang namanya nggak punya temen itu ternyata semenyakitkan itu. Ketika gue dateng kesekolah, nggak ada satupun yang menyambut kedatangan gue, nggak ada yang memberi sapaan kepada gue. Yang gue tau saat itu, bangku yang akan gue dudukin udah dinaikin keatas meja, dengan posisi berdiri, dan tempat dudukannya dipenuhi sama betadine serta minyak kayu putih. Man, anak SD coy, umur 9-10 tahun saat itu, belajar darimana mereka hal bodoh kayak gitu? Kebanyakan sinetron di negara kita memang berkisar pada hal seperti itu, bully-membully teman adalah sebagian dari hidup, sepertinya kayak gitu prinsipnya. Nggak kaget kalau yang jadi korban akhirnya para generasi yang masih belum mumayiz, yaitu membedakan mana yang baik atau enggak versi mereka. Ya, dan pada akhirnya saat itu, orang tua gue yang turun tangan. Beliau yang menyeleseikan masalah itu dengan kepala dingin, tanpa menjudge siapapun, dan bahkan beliau nggak marah sama temen-temen gue, beliau hanya diam sambil tersenyum, walaupun dalam hatinya tersimpan sejuta amarah tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu.
Ya, jadi kalian ngerti kan apa point gue menulis ini?
Sampai sekarangpun, detik ini ketika tangan gue masih berada diatas keyboard, gue masih nggak tau siapa aja yang bener-bener tulus berteman dengan gue. Tanpa harus mengatakan berbagai hal yang udah gue kupas diatas. Itu bahkan cuma sebagian, belum semuanya, gue hanya nggak ingin mengupas hal yang bikin gue sakit hati sendiri.
Sekali lagi, kalau kalian ingin punya temen yang sesuai sama diri kalian, berkacalah, apakah kalian udah pantes mendapatkan temen yang baik ketika kalian sendiri nggak pernah bisa menghargai orang lain?
Udah, deh.
Capek ngomongin manusia yang nggak pernah bisa diajak ngomong dengan bahasa baik.
Bye, peace guys!
Malang, 5 Desember 2018.
20:17 WIB.
Haz sumpa ya mau jujur aku baru pertama kali baca dan buka blogmu huhu temenku terharu aku tuh huhuhuhu
BalasHapusHallooo! ini teh siapa? unamenya unknown soalnya hehe makasii yaa udaa bacaa🙆
Hapus