Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Don't Judge Book by It's Cover

Awalnya setelah tau ada kalimat, "don't judge book by it's cover", gue ngerasa gagal unuk menerapkan hal itu. Kalimat itu cuma gue anggap angin lalu aja. Man, siapa sih yang nggak menilai orang lain dari covernya dulu? Gue pribadi memang sekarang lagi menganut paham "berhenti menscanning orang lain", tapi tetap yang bisa menjadi penilaian pertama kita pada orang lain adalah dari sesuatu yang terlihat. Apa lagi kalo bukan covernya? Right?

Tapi hari ini, gue kembali menelaah arti sebenarnya dari kalimat itu.

Don't judge book by it's cover.

Gue terus menerus mencoba. Tapi terus menerus gagal. Kalimat itu terlalu "aneh" bagi gue. Gini loh, ya emang kalimat itu punya implikasi yang baik. Jangan menilai orang dari covernya. Kalo covernya baik belum tentu sifatnya baik, kalo covernya buruk belum tentu sifatnya bakal buruk juga. Atau make it easy, jangan gampang menilai seseorang hanya dari pranala luarnya aja.

Bener kok.

Emang.

Dan malam ini gue belajar banyak hal dari temen gue sendiri. Dia salah satu temen smp gue dan sekarang kita juga berada di sma yang sama. Selama ini, gue menganggap dia teman, sama kayak yang lain. Walaupun, jujur, mungkin ada beberapa sikap dia yang nggak cocok sama gue, tapi gue hanya menganggap itu suatu perbedaan yang wajar terjadi diantara temen. At another side, mungkin gue pernah ilfeel sama dia karena sikapnya yang "kadang bebas" dan itu bukan gue banget, tapi apakah gue berhak menghakimi?

Jawabannya, enggak.

Gue sama sekali nggak berhak.

Semenjak sma, kita udah nggak deket kayak waktu smp, dan kita udah beda jurusan. Deketnya kita waktu smp ya karena pernah saling cerita aja bareng, terus karena temen gue ini kalo ngomong suka apa ya....ngablak? Ceplas ceplos gitu dan gue suka aja sama orang yang nggak menipu keadaan. Dia bicara sesuai apa yang dia liat dan gue rasa itu habit yang nggak buruk, selama nggak disalahgunakan aja. Terus sma ini semakin banyak berita "miring" tentang dia, yang ngebuat gue semakin kasih crossline sama hubungan pertemanan kita. Dari smp dia udah sering banget digosipin, dan itu rata-rata gosip miring semua. Dan di sma, semua orang pada nyinyir sama sikap dia yang blablabla kata orang, gue males nulisnya.

Tapi, gue serasa ditampar jauh sama realita yang ada. Gue juga menipu diri sendiri ternyata. Gue hanya mempercayai apa yang selama ini gue dengar tanpa berniat mencari kebenaran dari itu semua. Gue sibuk mengotak-otakkan sifat orang lain padahal itu semua nggak sepenuhnya bener. Gue terlalu sibuk menghakimi orang yang bahkan nggak pernah merugikan gue sama sekali. Gue ngerasa jahat aja. Sorry, ya.

Ternyata, orang yang gue sangka akan memberi impact buruk bagi gue justru menjadi orang pertama yang ngebikin gue awoke diri sendiri.

She's not bad anyway, justru dia adalah orang baik yang berhak bahagia sama kehidupannya.

Tau apa yang gue dapat dari dia hari ini?

Ternyata, lagi-lagi kata ini, iya ternyata selama ini gue salah besar dalam menilai dia. Gue nggak sadar kalo dia ngerasa dissapointed banget selama ini. Dia nggak punya temen gara-gara segala predikat buruk yang udah nempel di namanya. Dia selalu merasa tertekan sama keadaan sekitar yang seakan meyudutkan dan nggak pernah ada buat mengulurkan tangannya. Dia stress, dia udah nggak bisa lagi nangis gara-gara nggak ada lagi ekspresi yang bisa dia keluarin untuk bilang kalo dia nggak kuat.

Sebesar itu bro pengaruh "lisan" buat hidup orang lain.

Dia selalu dikucilkan hanya karena temen-temennya udah terlanjur menganggap dia sebagai parasit yang nggak bisa diobati. Mereka sibuk memberi saran tapi nggak mengulurkan tangan buat membantu. Terus buat apa? Nggak guna banget. Padahal tanpa perlu dibantu, justru dia bisa change herself to be stronger person i ever met before. Dia berusaha berubah, sendirian, mati-matian, ditengah lingkungan pertemanan yang nggak ngedukung dia sama sekali. Dan orang yang kayak gini masih sering dihujat gara-gara segala hal negatif yang sebenernya itu bisa disikapi dengan hal baik, guys.

Jadi orang kuat itu nggak gampang. 

Lo harus ngerasain jatuh berkali-kali dan bangkit berkali-kali walaupun nggak ada yang bisa dateng buat ngulurin bantuan. 

Gue salut, sangat.

Belum tentu ketika gue ada di posisi yang sama bakal bisa sekuat itu. Disindirin orang aja gue sampek mikirnya sebulan, apalagi sampai terburuknya nggak punya temen. Sumpah, gue nggak bakal sekuat itu.

Point gue menulis ini adalah, jangan pernah menilai orang dari apa yang kalian dengar atau lihat aja. Lain kali, kalo memang kalian nggak ingin dicap sebagai "tukang gosip", maka kalian juga harus pinter kayak petugas CIA buat cari kebenaran dari apa yang kalian lihat/dengar. Kita nggak pernah tau berapa banyak kasus kayak yang apa temen gue alami, gampangnya adalah, bullying. Iya, ini juga termasuk bullying loh. Temen gue ini waktu kelas 11 sampai sering bolos gara-gara tertekan sama keadaan di kelas. As always, dikucilkan dan dibenci. Jahat? Iya, jahat banget emang. Gue udah tau rasanya di bully, dan itu berpengaruh banget buat kehidupan pribadi kita. Makan aja nggak nafsu, apalagi buat belajar.

See?

Secara nggak langsung hal-hal kayak gini yang ngebikin masa depan orang lain terhambat.

Ulah siapa?

Thinking by yourself and answer that question.

Jangan pernah jadi alasan buat kesedihan seseorang. Tapi, jadilah alasan untuk bikin orang lain selalu bahagia karena kita.

Last, don't judge book by it's cover.

Komentar

Postingan Populer