Kalian bisa check website dari orang yang selama ini menginspirasi gue.
Iya, Kak Gita, yang ngebuat gue jadi kayak sekarang. Lebih realistis dan mengerti apa yang sebenernya diinginkan dari hidup.
Hidup sederhana itu emang nggak gampang, apalagi dizaman yang penuh hedonisme kayak sekarang. Semuanya serba ada, entah dari dunia offline maupun online. Lo pengen ini tinggal kesini, lo pengen itu tinggal kesitu. Dan di usia seperti gue saat ini, duit itu masih minta ke orang tua. Masih "agak" jarang rasanya mendapati anak SMA yang punya duit pure dari penghasilan dia sendiri, gue memberi tanda petik pada kata agak, karena memang kalau dikalulasiin, anak yang punya penghasilan sendiri waktu SMA tuh mungkin sekitar 40% an.
Gue pribadi juga apa-apa masih minta ke orang tua. Uang jajan bulanan, uang angkot, uang kas, atau uang-uang lainnya yang nggak terduga bakal gue minta ke mereka berdua. Tapi, gue sendiri juga tetap berusaha gimana caranya intensitas minta duit ke orang tua tuh nggak sesering itu. Gue nabung, of course. Karena gue menyadari kalau disaat tertentu duit orang tua gue tuh nggak ngalir deres, seret lah bahasa gampangnya. Dan disaat seperti itu gue harus paham dan mencari solusi sendiri kalau lagi nggak punya duit. Gue pernah berpenghasilan, mungkin gue termasuk anak SMA yang berpenghasilan tadi. Walaupun baru beberapa kali aja gue mendapatkan uang dari hasil jerih payah gue sendiri. Nggak beberapa kali sih, sekali dua kali doang kali, karena dulu pernah waktu SMP gue juga punya duit sendiri.
Gue pernah nge-MC dan berhasil dapat duit dari situ. Mayan lah buat nambahin uang saku gue sendiri. Tau apa yang gue rasain ketika berhasil dapet duit sendiri? Heboh dan senengnya tuh undefined hahahaha alay juga ya. Tapi dari situ gue mulai belajar, kalau duit tuh bisa kita usahain sendiri selama kita mau dan mampu. Entah mau bisnis olshop lah, atau jasa gambarin tugas orang, atau jastip mungkin? Darimana aja yang penting halal. Tapi memang, kewajiban utama kita adalah belajar, dan mencari duit bukan kewajiban kita. Cuma ada baiknya kalau kita nggak terlalu ngegantungin kehidupan materi kita sama orang tua. Kalau kita bisa membantu, kenapa enggak gitu loh?
Gue nggak mau nyombong atau apa ya. Mulai SD gue sekolah di sekolah yang "rada elite" gitu. Biaya sppnya per-bulan itu nggak bisa dikategorikan murah. Apalagi ketika masuk SMP yang juga high dan nggak begitu sesuai sama habit keluarga gue. Waktu itu sppnya perbulan tuh sekitar 300K keatas, gue nggak perlu menjelaskan nominalnya dengan jelas ya, ntar dikirain nyombong. Karena di SMP gue full day dan ada makan siangnya dari sekolah, jadi biaya bulanannya nambah. Tapi gue ngerasa biasa aja, nggak ada tuh yang namanya kewajiban harus hedon karena temen-temen gue saat itu pada hedon. Nggak ada juga yang namanya gengsi harus temenan sama temen-temen yang kemampuan materinya jauh dibawah gue. Mungkin ada beberapa temen gue yang kayak gitu, yang maunya temenan sama orang-orang yang sama highnya dengan dia, temenan sama orang-orang yang mau diajak hedon sepulang sekolah, ya kurang lebih seperti itu. Dan gue nggak ngerasa ada kewajiban harus berperilaku seperti kebanyakan anak-anak "pada umumnya".
Kalau duit gue pas seret-seretnya ya sama ummi gue cuma dibilangin, "puasa aja buat hemat duit.". Dan ya akhirnya gue puasa. Kalau pas lagi pengennya jajan mahal, ya ummi gue akan bilang, "jangan eman kalau buat makanan.". TAPI TETEP AJA GUE NGERASA DUIT GUE SAYANG BANGET DIPAKE JAJAN MAHAL WOY. Gitu.
Disaat gue teriak-teriak dikelas bilang, "Woy, chatime udah buka di Jalan Surabaya, kesana kuy!". Ya cuma jadi omongan doang, karena disaat gue pengen banget kesana pasti gue bakalan mikir ulang. Minuman seukuran gitu dengan harga segitu.....worth it sih karena rasanya enak dan kualitasnya bisa dijamin. Tapi, again, gue merasa kalau kita nggak bisa terus menerus nurutin keinginan atau nafsu. One time mungkin disaat gue amat sangat ingin, maka gue akan beli. Hehehe.
Temen-temen gue setiap malem jalan kesini, jalan kesitu, beli ini, beli itu, bikin snap di Whatsapp atau Instagram lagi makan-makan. Gue cuma menghela napas, bukan, bukan karena gue nggak memiliki kemampuan untuk seperti itu, tapi karena gue menyadari, orang tua gue nyari duit bukan buat gue hamburin-hamburin atau gue buat jajan terus menerus, jadi ya gitu. Ngerti lah apa maksud gue. Tapi, bukannya gue ngelarang para manusia hobi jalan itu untuk memuaskan hawa nafsu pribadi dengan semau mereka ya. Gue hanya nggak bisa untuk menyeimbangkan habit gue dengan mereka.
Gue sendiri kalau pas lagi stres dan bosen parah, juga bakal memuaskan keinginan gue dengan semau sendiri juga. Walaupun, gue masih ngerasa wajib untuk tau diri dan sadar diri. Kantong gue masih cukup buat hedon sebulan, tapi again, gue ngerasa lebih baik menyimpan duit itu untuk gue pakai di lain hari, ketika gue berada di fase benar-benar butuh. Alah palingan jajan gue nggak akan jauh dari beli chickmi di Mall deket sekolah, which is dengan harga super duper murah, dan minumannya cokelat klasik doang. Tapi pulang dari sana, gue akan mulai perhitungan, nyatet semua pengeluaran yang gue keluarin hari itu. Dan mulai ngejadwal jatah uang jajan gue untuk beberapa hari selanjutnya. Hahaha.
Orang tua gue nggak kaya, nggak kurang, tapi Alhamdulillah gue selalu ngerasa cukup dengan itu. Beliau berdua membebaskan gue dan kakak untuk jajan semau-mau kita, untuk menggunakan uang itu sesuai sama kebutuhan kita masing-masing, pokoknya sebulan dikasih jatah segitu, harus cukup. Walaupun ummi sering bilang, "kalau habis ya minta lagi nggak papa.", gue tetap ngerasa amat sangat sungkan untuk minta kalau emang pas lagi butuh. Jadi, sebisa mungkin gue meminimalisir pengeluaran bulanan gue. Apalagi habis ini gue kuliah (aamiin), jadi biayanya akan lebih besar, dan nggak mudah untuk nyari duit itu.
Berangkat sekolah gue naik angkot begitu juga pulangnya. Khusus hari sabtu aja gue dianter jemput. Gue nggak harus malu untuk naik angkot setiap pagi, karena, why should i am? Banyak kok anak yang ngerasa malu kalau temennya ngeliat dia naik angkot berangkatnya dan sok sokan bilang kalau dianter mobil jadi dituruninnya di gerbang, jauh gitu. Gue justru ingin menertawakan orang-orang yang hobby membohongi orang lain dengan kebohongan yang merendahkan diri mereka sendiri. Gue malah suka tau naik angkot, dan pastinya itu akan menjadi momen yang gue rindukan ketika nanti gue udah gedeeee bangeeeetttt dan kemana-mana naik kendaraan pribadi. Naik angkot secomfort itu kok, guys! Sopirnya ganti-ganti pula setiap hari kaaannnn hihihi.
Jadi, sebenernya poin gue menulis ini adalah gue nggak merasa "perlu" untuk menyamakan daily life gue dengan para temen-temen yang itu tadi.
Lagi-lagi, why should i am?
Ini hidup gue, semau gue mau ngejalaninnya kayak gimana. Omongan orang nggak usah terlalu di denger, again, netizen cuma bisa ngomentarin tanpa tau keadaan realnya itu kayak gimana.
Banyak orang sukses yang justru berperilaku amat sangat sederhana ketika mereka udah jadi "orang" yang bener-bener "orang". Contohnya, Pak Haedar Nashir, yang beberapa waktu lalu sempat menunjukkan sisi kesederhanaannya ketika berada di sebuah stasiun. Waktu itu beliau menunggu kereta disebuah stasiun Kediri yang akan menuju Jogjakarta. Beliau sendirian tanpa pengawalan oleh seorangpun, dan duduk di pojok bangku ditemani barang-barangnya khas orang yang pulang dari kampung halamannya, tas dan bahkan ada kardus yang dibungkus kantong kresek. Hebatnya, beliau tanpa harus memanfaatkan titlenya sebagai ketua PP Muhammadiyah, makin membuat gue sebagai warga biasa ini kagum dan terenyuh.
Kalian bisa check beritanya di link ini ;
here.
Silahkan berkomentar sesuai sama hati nurani masing-masing. Silahkan mendefinisikan arti sederhana yang sebenarnya.
Semoga gue pribadi bisa selalu rendah hati dan menjaga martabat gue serta keluarga.
Kalian juga ya!
Peace, guys!
Malang, 16 November 2018.
18:28 WIB.
Komentar
Posting Komentar