Langsung ke konten utama

Unggulan

Hi, I'm Back!

Pic cr. to pinterest Wah... it's been a while. Lagi-lagi, di tahun ini belum bisa menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis dengan lebih konsisten. But anyway, dalam rentang waktu beberapa bulan kebelakang banyak hal yang terjadi dalam hidup aku, yang membuatku nggak pernah berhenti melangitkan syukur karena menyadari betapa baiknya Allah SWT kepadaku. Sore ini, aku sedang duduk di kamar kosan, setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan baruku di kantor, di hari weekend,  dan aku merasa perlu untuk membagikan segala hal yang sedang memenuhi pikiranku. Iya, akhirnya setelah beberapa bulan aku beristirahat dari hiruk pikuk pekerjaan, kini aku kembali menjadi karyawan di salah satu perusahaan yang nggak pernah aku sangka akan menjadi tempat perjalanan karierku berikutnya. Terdengar mustahil pada awalnya, tetapi begitu lah adanya. Yang terlihat mustahil di mata manusia, nggak pernah mustahil untuk Allah SWT. Aku pun merasakan segala kasih sayang Allah padaku sampai hari i...

Cyber Bullying

Sebelumnya, gue mau mengingatkan, kalau dalam tulisan ini mungkin terkesan intimidate orang lain. Yang nggak berkenan baca, bisa langsung meninggalkan platform blog ini.

--------------------------------------------------------------------

Cyber Bullying adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak/remaja dan dilakukan oleh teman seusianya melalui internet. Cyber bullying terjadi dimana seorang anak/remaja diejek, dihina, diintimidasi atau dipermalukan oleh anak/remaja lain melalui media internet, teknologi digital, atau telepon seluler. 


Hal diatas gue dapatkan dari laman berita www.kompasiana.com, kalian bisa check di laman info yang lain mengenai cyber bullying itu seperti apa, dan mungkin ada dari kalian yang pernah mengalaminya, gue akan bantu untuk terus speak up persoalan ini. 



Cyber bullying sendiri udah bukan hal yang asing di sekitar kita. Banyak orang yang udah sering menyinggung ini. Tapi, again, society kita menganggap hal ini sebagai sesuatu yang udah lazim terjadi di social media. Kak Gitasav, udah sering banget speak up masalah ini di dalam video youtube dan blog pribadinya mengenai konten yang mengangkat Cyber Bullying.

Kenapa manusia itu nggak bisa melihat manusia lain bahagia? Kenapa manusia itu punya fitrah untuk selalu ingin mengolok-olok manusia yang lainnya, padahal hidupnya sendiri juga belum bener? Kenapa manusia punya perasaan iri yang amat sangat besar kepada manusia lain sampek membuat mereka selalu ingin merasa unggul? Gue suka nggak paham aja dengan situasi itu. 

Life is a choice. Dalam semua hal, hidup itu selalu tentang pilihan-pilihan. Dan yang namanya pilihan selalu berkisar pada hal "yang baik" dan "yang buruk". Terserah manusianya. Wanna be a kind person, atau sebaliknya. 

Setiap hari lahir jutaan calon generasi penerus bangsa di seluruh belahan dunia. Anak kecil akan jadi remaja. Anak remaja akan beranjak dewasa. Dan siklusnya akan selalu begitu, selalu berjalan, and never stop. All of teenagers has a social media. Mungkin akan ada yang bilang, "nggak kok, banyak juga yang nggak pake social media,", gue nggak lagi membicarakan berapa prosentase remaja yang tidak menggunakan social media. Mungkin ada memang yang nggak interest sama social media, tapi gue berani jamin, mungkin kemungkinan itu kecil sekali. 

Instagram, Twitter, Facebook, Path, Snapchat, Line, Whatsapp, and all of them yang nggak bisa gue sebut satu persatu. Dan semua sosmed itu punya fungsi serta maksud masing-masing. Entah kalian mau menyebut dalam hati setiap sosmed itu dengan pengetahuan kalian sendiri, atau gimanapun cara kalian memaknai social media, i don't mind. 

Nggak jarang gue mendapati banyak hal yang inappropiated dari social media. Lagi-lagi gue nggak bisa paham dengan manusia yang suka menghujat manusia lain dengan nyinyiran yang menyakitkan kalau dibaca. Manusia yang dengan gampangnya bisa komen "anj*ng" tanpa tau kalau sebenernya mau lo ada di dunia online atau offline, semua akan diminta pertanggung jawaban sama yang diatas. Apakah mereka yang dengan mudahnya menghujat di social media itu akan berani melakukan hal yang sama jika ada di dunia nyata? Apakah mereka akan mudah bilang, "anj*ng lo" di dunia nyata? 

Tau alasannya apa?

They blind. Dibutakan sama title "dunia maya", yang sebenernya menurut gue sama aja. Nggak ada bedanya ketika lo ada di dunia nyata dengan dunia maya. Mau lo ada di belahan dunia apapun itu, tetep aja, semua hal akan dinilai sama. 

"Alah baper amat, sosmed doang."

Sosmed doang, yang kata para orang cuma "sosmed doang", bisa menyebabkan beberapa orang sampai nggak bisa tidur berhari-hari karena sebuah hujatan. Membuat orang sampek menghabiskan berjuta-juta untuk berobat ke psikiater hingga penyakit mentalnya sembuh. Membuat orang yang awalnya ceria sampai menjadi orang paling anti sosial yang bahkan keluar rumah aja nggak berani. Membuat masa depan orang lain rusak hanya dengan satu kata menyakitkan yang bahkan nggak pernah manusia itu sadari. 

Balik lagi sama yang udah gue bilang diatas, hidup itu emang mengenai pilihan. Dan kita sebagai manusia memang bebas memilih untuk jadi manusia yang mana. It's normal, kalau kalian punya opini sendiri mengenai hidup ini. Gue nggak akan mempermasalahkan hal itu. 

Berdasarkan survei yang dilakukan sama lembaga donasi anti-bullying, The Ditch Label, menyatakan sekitar 42% teenagers menjadi korban bullying dari social media Instagram. Sisanya adalah dari social media Facebook dan Snapchat.

Kalian bisa check beritanya di link ini.

Jadi, point gue menulis ini adalah setiap orang punya hak untuk bahagia. Semuanya. Semua manusia punya hak untuk itu, dan kita juga punya kewajiban untuk mempersilahkan orang lain bahagia dengan hidupnya. Jangan sampek kita merusak kebahagiaan orang hanya karena otak kita yang penuh sama kebencian, penuh sama kedengkian yang justru itu destroyer banget untuk orang lain.

Be kind and smart.

Baik-baikin orang lain kalau kalian mau mendapat kebaikan juga. Kehidupan itu mengenai aksi reaksi kan? Dapet lah point gue apa. 

"Lagian, postingan mereka ngundang hujatan banget deh, jadi nggak salah dong kalo gue hujat?"

Kenapa manusia bisa semudah itu mengucapkan hal-hal yang justru keliatan bodoh di mata manusia yang lainnya. Again, gue nggak paham.

Ah, yaudah lah. Mungkin banyak orang yang merasa, hidup itu harus dibawa easy-going aja, yang merasa kalau dia udah pinter untuk memaknai hidup itu seperti apa.

That's the problem, guys! We should change our habit, demi masa depan kita sendiri dan bangsa kita yang makin hari makin krisis aja.

Kalau kita bijak dalam memakai social media, gue yakin, kasus cyber bullying ini akan menyusut seiring berjalannya waktu. For now, let them happy. Biarkan manusia lain bahagia dengan cara mereka sendiri. Kita nggak ada hak untuk mengomentari, bahkan ikut campur dan merasa paling benar terhadap persoalan orang lain.

Diam. Kalau kalian merasa tidak bisa memberikan komentar yang appropiated.

Peace, guys!

Malang, 19 November 2018.
21:03 WIB

Komentar

Postingan Populer